7 Kasus Pembunuhan Tersadis Sepanjang 2018, Nomor 4 Sungguh Terlalu

Witri Nasuha, Okezone · Kamis 27 Desember 2018 16:56 WIB
https: img.okezone.com content 2018 12 27 337 1996721 7-kasus-pembunuhan-tersadis-sepanjang-2018-nomor-4-sungguh-terlalu-nqwdfYSA5Z.jpg Ilustrasi

JAKARTA - Berbagai peristiwa terjadi pada tahun 2018, salah satunya ialah kasus pembunuhan. Kasus pembunuhan yang terjadi sepanjang 2018, sebagian menggegerkan masyarakat Indonesia. Mulai dari kasus pembunuhan tiga orang dalam satu keluarga di Kampung Mulia, Kota Banda Aceh, pada 5 Januari 2018 silam, hingga kasus penembakan terhadap dan oleh anggota TNI yang terjadi di Jatinegara, Jakarta pada Selasa 25 Desember 2018.

Berikut Okezone merangkum deretan kasus pembunuhan sadis yang terjadi sepanjang tahun 2018, pada Kamis (28/12/2018) :

1. Kasus Pembunuhan di Aceh


Awal tahun 2018, masyarakat Indonesia dikejutkan dengan kasus pembunuhan dengan korban tiga orang dalam satu keluarga di Kampung Mulia, Kuta Alam, Kota Banda Aceh, pada Jumat, 5 Januari 2018 sekira pukul 14.00 WIB.

Pasutri Tjie Sun (46) dan Minarni (40), serta anak laki-lakinya Calliestong (8), ditemukan tak bernyawa di kediaman rumah korban. Keberadaan korban diketahui oleh tetangga saat mencurigai rumah milik korban yang tampak dengan kondisi rumah yang terkunci dari luar. Nena Ahmadi, sebagai tetangga korban, merasa curiga karena mobil box milik korban yang tertutup rapat sejak tiga hari sebelum korban ditemukan. Karena diketahui, biasanya korban mengeluarkan mobil box tersebut untuk mengantarkan barang dagangan korban yang bekerja sebagai grosir makanan ringan.

(Baca Juga: Ini Motif Tersangka Bunuh Satu Keluarga di Aceh)

Hingga akhirnya, warga pun semakin curiga setelah mencium bau amis yang menyengat disekitar rumah korban. Warga pun melaporkan hal tersebut kepada Polsek Kuta Alam dan petugas langsung menuju lokasi kejadi pada pukul 19.30 WIB.

Setelah dilakukannya proses identifikasi dan penanganan berlanjut, ternyata pasutri dan anak laki-lakinya tersebut tewas terbunuh oleh karyawan korban lantaran sakit hati dan sering dimarahi oleh korban selama ia bekerja.

Satreskim Polresta Banda Aceh pun langsung meringkus dua tersangka pembunuhan satu keluarga tersebut. yakni Ridwan (22) dan Safrizal (43).

Keduanya bekerja sebagai sopir mobil box untuk mengangkut barang usaha grosir milik korban. Pihak kepolisian berhasil meringkus para pelaku di Bandara Internasional Kuala Namau, Medan. Karena kasus tersebut, para tersangka dijerat hukuman dengan pasal 340, 336, dan 165 KUHP, dan dijatuhkan hukuman sekira 18 tahun kurungan penjara.

2. Pembunuhan Satu Keluarga di Deliserdang


Kasus pembunuhan kembali terjadi pada 9 Oktober 2018, yang berawal dari penculikan yang menimpa pasutri Muhajir (48) dan Suniati (50) beserta anaknya, M. Solihin (15). Dari kasus pembunuhan tersebut, ditetapkan empat tersangka dengan inisial DN, AH, R, dan Y.

Para pelaku tega melakukan pembunuhan terhadap satu keluarga tersebut karena sering diolok-olok oleh keluarga korban dengan sebutan “Rombongan Gajah”. Diketahui AH diduga menjadi otak pelaku kasus pembunuhan satu keluarga yang merupakan warga Gang Rambutan Dusun III, Desa Bangun Sari, Tanjung Morawa Deliserdang, Sumatera Utara.

Dengan modus meminjam uang kepada korban, pelaku AH berhasil menghantam kepala Muhajir dengan batu, ketika korban hendak berbalik arah ke dalam rumah. Setelahnya, AH bersama tiga pelaku lainnya memasuki rumah korban kemudian mengikat Muhajir bersama istri dan anaknya dengan menggunakan lakban. AH bersama tiga pelaku lainnya, membawa korban menggunakan mobil ke arah jembatan di wilayah Kecamatan Talun Kenas, Deliserdang dan membuang para korban kedalam sungai sebelum akhirnya para pelaku melarikan diri.

(Baca Juga: Otak Pelaku Pembunuhan Satu Keluarga di Deliserdang Ditembak Mati)

Jasad korban akhirnya ditemukan, setelah Desy Rahmawati, anak sulung Muhajir melaporkan hilangnya kedua orangtua serta adiknya kepada pihak kepolisian. Setelah diberlakukan proses pencarian, Muhajir beserta istri dan anaknya ditemukan di aliran sungai yang berbeda dengan waktu yang berbeda pula.

Pihak kepolisian pun melakukan pencarian terhadap para pelaku pembunuhan satu keluarga tersebut. AH yang diketahui sebagai otak pelaku pembunuhan sempat melarikan diri ke Pekanbaru dan berhasil ditangkap pada Minggu 21 Oktober 2018. Tersangka AH ditembak mati karena sebelumnya melakukan perlawanan dengan menyerang personel yang tengah mengamankannya dengan cara mencekik petugas dengan tangan yang sedang terborgol.

3. Satu Keluarga Dibakar karena Narkoba di Makassar

Kasus pembakaran rumah yang membakar hidup-hidup enam orang dalam satu keluarga, merupakan dalang dari otak tahanan Napi Klas1 Gunung Sari Makassar, Akbar Daeng Ampuh (32).

Akbar ditempatkan di kamar isolasi bekas kamar Tipikor. Ia ditemukan tewas bunuh diri di kamar tersebut setelah diketahui Kalapas dari anak buahnya setelah melakukan apel pahi di Lembaga Pemasyarakatan Klas 1A Makassar di Jalan Sultan Alauddin Kota Makassar pada Senin (22/10/2018).

“Telah ditemukan meninggal dunia atas nama Akbar aliah Daeng Ampuh. Di ruang isolasi Lapas Klas 1A Makassar. Jadi jam 9 pagi tadi petugas temukan korban sudah kondisi tidak bernyawa,” ujar Kompol Wirdhanto Hadicaksono, Kasat Reskrim Porestabes Makassar.

Selama menjalani masa tahanan, Daeng Ampuh ditetapkan sebagai napi kasus pembunuhan dengan hukuman pidana 12 tahun penjara dan baru menjalani 5 tahun penjara. Ternyata, ia masih memerintahkan anak buahnya, Andi Muhammad Ilham, untuk mengaih hutang kepada Fahri salah satu korban yang tewas terbakar.

(Baca Juga: Gembong Narkoba Otak Pembakaran Rumah di Makassar Tewas di Lapas)

Daeng Ampuh, memerintahkan Illo dan Rama untuk menjalankan aksinya dan membakar rumah Haji Sanusi, yang merupakan kakek Fahri, dengan menyiramkan bensin kemudian membakar kediaman Fahri beserta keluarganya. Atas insiden tersebut, terdapat enam orang tewas terbakar di dalam rumah.

Kebakaran itu menghanguskan tiga rumah di Jalan Tinumbu, Makassar. Korban diantaranya ialah, kakek korban H. Sanusi (70), nenek Hj. Bondeng (60), sepupu Hj. Musdalifa (40) dan Namira Ramadina (21) dan cucu Ijas(5).

Diketahui, Fahri memiliki hutang Sembilan paket sabu – sabu kepada Daeng Ampuh dan nilai hutangnya berjumlah Rp10juta. Akibat insiden tersebut para pelaku dijerat pasal 170 atau pasal 351 dan pasal 340 subsider 187 juncto pasal 55 KUHP.

4. Kasus Pembunuhan Satu Keluarga di Bekasi


Haris Simamora (30) diketahui tega membunuh satu keluarga di Bekasi, Jawa Barat dengan motif balas dendam lantaran sakit hati sering dimarahi dan mencibirnya dengan kata – kata kasar yang dilakukan oleh korban. Pasalnya, setelah diketahui Haris ternyata memiliki hubungan kerabat oleh korban.

Diperum Nainggolan (38) , Maya Boru Ambarita (37) , Sarah Boru Nainggolan (9) , dan Arya Nainggolan (7), ditemukan tewas di kediaman mereka di Jalan Bojong Nangka, Kelurahan Jatirahayu, Kecamatan Pondok Melati, Bekasi, Jawa Barat pada Selasa (13/11) lalu.

(Baca Juga: 6 Fakta Seputar Haris Simamora, Pembunuh Satu Keluarga di Bekasi)

Sempat mengelak melakukan pembunuhan tersebut, Haris pun tetap digelandang oleh pihak kepolisian untuk diperiksa lebih lanjut. Haris ditangkap saat hendak mendaki Gunung Guntur di daerah Garut, Jawa Barat.Kini pihak kepolisian tengah memproses kasus pembunuhan tersebut. Diketehui beberapa waktu lalu, pelaku telah melakukan reka ulang kasus pembunuhan keluarga di Bekasi, Jawa Barat.

5. Kasus Pembunuhan Dufi, Mayat dalam Drum


Minggu 18 September lalu empat dikejutkan dengan pembunuhan salah satu pekerja lepas sales marketing TvMu. M. Nurhadi (35) diketahui telah melakukan perbuatan keji tersebut bersama sang istri di sebuah kontrakan miliknya. Korban ditemukan tewas didalam drum plastik biru yang ditemukan di Kawasan Industri Kembangan, Bogor, Jawa Barat.

Hingga kini, pihak kepolisian tengah melakukan proses penyidikan lebih lanjut terkait kasus pembunuhan Abdullah Fithri Setiawan alias Dufi. Diketahui tak hanya Nurhadi bersama istri yang melakukan perbuatan keji tersebut. Melalui siaran langsung oleh Inews TV, pihak kepolisian membenarkan, tidak hanya pasutri tersebut yang melakukan pembunuhan kepada Dufi, melainkan ada dua pelaku lainnya dan masih dalam tahap pencarian oleh pihak kepolisian.

Atas perbuatannya pelaku terancam dijerat Pasal 340 subsider 338 dan atau Pasal 365 ayat 3 subsider Pasal 363 dan atau Pasal 480.

6. Kasus Pembunuhan Iin Puspita, Mayat dalam Lemari


Kasus pembunuhan yang dilakukan oleh sejoli atas nama Yustian (24) dan Nissa Regina (17). Sejoli tersebut tega menghabiskan nyawa Ciktuti Iin Puspita seorang pemandu karaoke pada Selasa 20 September di kawasan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.

Yustian dan Regina tertangkap oleh pihak kepolisian saat hendak melarikan diri ke wilayah Merangin, Jambi. Alih – alih pembunuhan tersebut dilakukan oleh sejoli ini lantaran mempermasalahkan soal uang titipan pelanggan karoke tempat mereka bekerja.

(Baca Juga: Mayat yang Ditemukan Dalam Lemari Bernama Iin Puspita)

Yustian merasa kesal karena merasa pacarnya ditipu oleh korban. Sebelumnya, korban sempat bertengkar oleh Nissa. Selang satu menit setelah bertengkar, Yustian pun marah dan langsung memukul kepala korban menggunakan palu. Akibat mengalami luka yang cukup parah, korban akhirnya tewas.

Jasad Iin ditemukan pertama kali di dalam lemari milik korban di indekosnya oleh Rofiq, Wahyu, dan Irmala Sari. Mereka curiga dengan bau busuk yang berasal dari dalam kamar korban, hingga akhirnya Rofiq memberanikan diri untuk mengecek ke dalam kamar korban dan menemukan kondisi Iin di dalam lemari yang telah membusuk.

7. Kasus Penembakan Anggota TNI


Kasus penembakan yang dilakukan oleh anggota TNI AU terhadap anggota TNI AD yang terjadi di Jatinegara, Jakarta, pada Selasa 25 Desember malam mengejutkan warga sekitar. Pasalnya diketahui, anggota TNI AU yang melakukan pembunuhan tersebut dalam keadaan dibawah pengaruh minuman beralkohol.

Juru bicara Kodam Jaya, Kolonel Kristomei Sianturi, mengakatan ia yakin bahwa itu adalah kriminal murni karena terduga pelaku, dalam keadaan mabuk.

Saat kejadian, korban yang diketahui sebagai Letkol Dono Kuspriyanto tengah mengendarai mobil dinas lengkap mengenakan pakaian sipil saat kejadian berlangsung. Anggota TNI AD, Serda Jhoni Risdianto secara brutal menembak Letkol CPM Dono karena hal sepele yakni senggolan kendaraan antara korban dan pelaku.

Berdasarkan pantauan CCTV yang berada dikawasan tersebut, terlihat suasana jalan yang masih dalam keadaan cukup ramai dengn hilir mudik kendaraan di lokasi kejadian. Setda Jhoni mengacungngkan pistol dan meletuskan beberapa kali. Sebelum akhirnya menembak korban sebanyak enam kali , dua dibagian depan , lalu dua dibagian belakang kendaraan, dan dua peluru tajam yang bersarang di pelipis dan perut korban hingga akhirnya meregang nyawa.

Hingga kahirnya, pelaku penembakan Letkol Dono diamankan oleh petugas gabungan dari Pomdam Jaya, Satpomsu, dan Polres Jakarta Timur di daerah Cililitan.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini