Share

7 Tradisi Perayaan Natal di Indonesia, dari Bakar Batu hingga Wayangan

Athallah Muti, Okezone · Selasa 25 Desember 2018 13:44 WIB
https: img.okezone.com content 2018 12 25 337 1995738 7-tradisi-perayaan-natal-di-indonesia-dari-bakar-batu-hingga-wayangan-d3BQizW6Pg.jpg Misa Natal di Gereja Katedral. (Foto : Heru Haryono/Okezone)

JAKARTA – Setiap tanggal 25 Desember, pemeluk agama Kristen merayakan Natal, termasuk di Indonesia. Natal di berbagai tempat di Indonesia dirayakan dengan cara berbeda.

Seperti di Bali, perayaan Natal dirayakan dengan pohon Natal yang terbuat dari bulu ayam. Pohon Natal unik tersebut telah diimpor ke berbagai negara Eropa. Sementara Natal di daerah Papua dirayakan dengan tradisi barapen (bakar batu), yaitu setelah misa atau ibadat natal akan memasak sayuran dan daging babi di atas batu yang dibakar dengan kayu.

Berikut Okezone merangkum berbagai tradisi perayaan Natal di Indonesia seperti dikutip dari Wikipedia.org, Selasa (25/15/18).

1.Penjor dan Pohon Natal Bulu Ayam – Bali

Sebagian besar pemeluk agama Kristen di Bali berada di bagian selatan. Perayaan Natal di Bali sangat berbeda dari tempat lainnya. Di daerah Bali perayaan Natal tidak banyak dihiasi dengan budaya Barat, melainkan lebih banyak dipengaruhi oleh budaya Hindu-Bali.

Saat Hari Natal tiba, para penduduk Bali akan mengenakan pakaian tradisional dan menghiasi jalanan dengan penjor (hiasan bambu seperti janur) yang melambangkan naga Anantaboga.

Selain itu, di Bali terkenal dengan perayaan Natalnya yang unik. Beberapa hotel dan art shop di Bali akan menghias tempat mereka dengan pohon Natal yang terbuat dari bulu ayam. Pohon Natal unik tersebut telah banyak diimpor ke berbagai Negara Eropa dengan patokan harga dari Rp100 ribu hingga Rp200 ribu per buah.

2. Tradisi Barapen (Bakar Batu) - Papua

Di daerah Papua, setelah misa atau ibadat Natal, akan dilakukan tradisi barapen (bakar batu), yaitu ritual memasak babi untuk disantap bersama. Warga Papua memasak sayuran dan daging babi di atas batu yang dibakar dengan kayu. Cara menyalakan apinya pun sangat khas karena tidak menggunakan korek, melainkan menggesekkan kayu terus-menerus hingga menghasilkan serbuk panas yang menjadi api.

Berburu Pernak-pernik Natal di Pasar Asemka Jakarta

Bakar batu atau barapen merupakan ungkapan rasa syukur, kebersamaan, saling berbagi, dan mengasihi yang ditandai dengan makan daging babi secara bersama.

3. Festival Lovely December -Toraja

Penduduk Toraja merayakan Natal dengan mengadakan festival budaya yang disebut Lovely December. Festival ini diisi dengan tarian massal, karnival budaya, pertunjukan musik bambu, festival kuliner, dan pameran kerajinan tangan.

Puncak dari festival ini adalah kembang api dan prosesi Lettoan yang diselenggarakan pada tanggal 26 Desember. Lettoan adalah ritual mengarak babi dengan simbol budaya yang mewakili tiga dimensi kehidupan manusia. Ketiga simbol yang digunakan adalah saritatolamban berbentuk tangga yang melambangkan doa dan harapan untuk kehidupan yang lebih baik (seperti anak tangga yang selalu naik ke atas; matahari melambangkan sumber cahaya kehidupan; dan bunga tabang yang melambangkan kesuksesan dalam kehidupan warga Toraja.

Baca Juga: Tidak Hanya Berantas Pencurian Ikan, Ini Bukti Nyata Ketegasan KKP

4. Pertunjukan Wayang Kulit - Yogyakarta

Di daerah Yogyakarta, perayaan Natal diwarnai pertunjukan wayang kulit yang bertema kelahiran Yesus Kristus. Perayaan misa atau ibadat di Gereja dibawakan dalam bahasa Jawa halus oleh pastor atau pendeta yang mengenakan pakaian adat daerah setempat, yaitu beskap dan blankon. Seperti halnya perayaan Idul Fitri, di Yogyakarta hari Natal diisi acara saling mengunjungi keluarga dan kerabat. Sebagian anak-anak akan mendapatkan amplop berisi uang dari para orangtua.

5. Tradisi Marbinda – Sumatera Utara

Natal dirayakan suku Batak di Sumatera Utara dengan mempersembahkan hewan yang dibeli dengan uang hasil menabung bersama warga sekitar. Tradisi yang disebut marbinda ini dilakukan dengan menyembelih hewan berupa babi, lembu, kerbau, atau hewan lainnya.

Kemudian, daging dari hewan yang telah disembelih itu akan dibagikan secara merata kepada semua warga yang ikut menyumbang. Tradisi Marbinda ini melambangkan rasa kebersamaan dan gotong royong dari suku Batak di Sumatera Utara.

Intip Persiapan Misa Natal 2018 di Gereja Katedral Jakarta

6. Kunci Taon – Manado

Perayaan Natal di Manado sudah dilakukan sejak 1 Desember, yakni dengan melakukan berbagai ibadat pra-Natal. Pada awal Desember hingga minggu pertama Januari, para pejabat pemerintah daerah Manado akan melakukan Safari Natal, yaitu mengikuti ibadah di setiap kecamatan yang berbeda setiap harinya.

Sebagian warga Manado memiliki kebiasaan untuk melakukan pawai keliling, serta mengunjungi kuburan kerabat dan membersihkannya. Rangkaian perayaan Natal ini akan diakhiri pada minggu pertama di bulan Januari dengan perayaan yang disebut kunci taon, yaitu pawai keliling dengan kostum-kostum yang unik.

7. Upacara Cuci Negeri - Ambon

Sebagian penduduk Ambon, khususnya yang berada di Negeri Naku, Kecamatan Leitimur Selatan, menjelang perayaan Natal dan tahun baru menggelar upacara adat cuci negeri. Upara tersebut melambangkan pembersihan dan penyucian diri (pembebasan dosa) warga dan lingkungan setempat.

Upacara cuci negeri diawali dengan berkumpul pada rumah komunitas marga (Soa) untuk menggelar ritual adat masing-masing. Kemudian warga beramai-ramai berkumpul ke rumah adat (Baileo) sambil menyanyikan lagu dalam dalam bahasa setempat, menari dengan iringan tifa (alat musik tradisional), dan kaum perempuan membawa seserahan berupa sirih, pinang, dan minuman tradisional yang disebut sopi. Hal lain yang khas dari daerah ini adalah pada malam Natal akan dibunyikan sirene kapal dan lonceng gereja secara serempak.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini