Share

Kotjo Akui Dapat Keuntungan Dua Kali Lipat dari Proyek PLTU Riau-1

Arie Dwi Satrio, Okezone · Selasa 18 Desember 2018 16:21 WIB
https: img.okezone.com content 2018 12 18 337 1992929 kotjo-akui-dapat-keuntungan-dua-kali-lipat-dari-proyek-pltu-riau-1-xUSvjQYkPD.jpg Gedung KPK (Foto: Okezone)

JAKARTA - ‎Pemegang saham Blackgold Natural Resources Limited, Johanes Budisutrisno Kotjo mengakui bahwa mendapat keuntungan dua kali lipat alias double dari proyek pembangunan PLTU mulut tambang Riau-1. Kotjo sendiri mendapat fee agent sebesar 6 juta Dollar Amerika Serikat dari proyek ini.

Sebagaimana hal tersebut diakui Kotjo saat bersaksi di sidang perkara dugaan suap kesepakatan kontrak kerjasama proyek pembangunan PLTU Riau-1 untuk terdakwa mantan Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Eni Maulani Saragih, pada hari ini, Selasa (18/12/2018).

Awalnya, Jaksa penuntut umum pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) heran dengan besaran fee agen‎t yang diterima Kotjo sama dengan yang diterima mantan Ketua Fraksi Golkar, Setya Novanto (Setnov). Padahal, Kotjo yang lebih banyak mengusahakan untuk mendapatkan proyek PLTU Riau-1 ketimbang Setnov.

"Untuk Anda, fee agent ‎6 juta (Dollar AS), Pak SN (Setnov) juga 6 juta, kok sama besar?," tanya Jaksa penuntut umum pada KPK kepada Kotjo.

Sidang KPK

Baca Juga: KPK Putar Rekaman Idrus Minta Jatah USD2,5 Juta dari Proyek PLTU Riau-1

Kotjo mengakui bahwa sebenarnya dia mendapatkan keuntungan lebih dari proyek PLTU Riau-1. Sebab, dijelaskan Kotjo, perusahaannya ikut bermain di PLTU Riau-1 sehingga mendapatkan keuntungan lebih lewat Blackgold Natural Resources Limited.

"Jadi sebenarnya saya lebih dari itu, karena saya punya saham di Blackgold, harga saham pasti naik otomatis saya dapat lebih dari 6 juta itu, plus harga saham yang diprediksi akan naik, jadi saya sebenarnya dapat banyak," terangnya.

Johanes Budisutrisno Kotjo sendiri telah divonis bersalah menyuap Eni Saragih dan Idrus Marham Rp4,7 miliar terkait kesepakatan kontrak kerjasama proyek pembangunan PLTU Riau-1. Kotjo divonis dua tahun delapan bulan penjara dan denda sebesar Rp150 juta subsidair tiga bulan kurungan.

(edi)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini