Berjuang Melawan Kanker Paru, Sutopo Raih Penghargaan Inspirator Terbaik

Isal Faisal, Okezone · Senin 17 Desember 2018 21:58 WIB
https: img.okezone.com content 2018 12 17 337 1992624 berjuang-melawan-kanker-paru-sutopo-raih-penghargaan-inspirator-terbaik-R64DCYUCrn.jpg Sutopo Purwo Nugroho. (Foto: Istimewa)

JAKARTA - Persatuan Dokter Paru Indonesia (PDPI) memberikan penghargaan kepada Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho sebagai Inspirator Terbaik 2018 bagi masyarakat Indonesia dalam bidang kesehatan.

Sutopo mendapatkan penghargaan bagi para penyintas penderita kanker dalam melawan penyakitnya, khususnya bagi penyintas/penyandang kanker paru. Penghargaan diberikan oleh Agus Dwi Susanto selaku Ketua Umum PDPI dalam acara ‘Seminar Sehari tentang Kewaspadaan dan Deteksi Kanker Paru pada Layanan Primer’ di Rumah Sakit Persahabatan Jakarta, Minggu 16 Desember 2018.

Agus menilai yang dilakukan Sutopo telah banyak menginspirasi penyintas kanker di Indonesia, khusus kanker paru. “Tidak menyerah begitu saja namun tetap survive. Jumlah penderita kanker paru di Indonesia terus meningkat. Tentu ini juga terkait dengan perubahan gaya hidup.Setiap orang mempunyai risiko untuk terkena kanker paru. Kewaspadaan harus ditingkatkan pada orang-orang yang mempunyai faktor-faktor risiko,” kata Agus dalam rilis yang diterima Okezone, Senin (17/12/2018).

Sutopo bertemu Jokowi.Sutopo saat diundang Jokowi ke Istana Merdeka.

Kanker paru merupakan jenis kanker yang paling banyak didiagnosis di dunia. Kanker paru juga menjadi penyebab utama kematian akibat kanker yakni sebesar 18,4 persen dari total kematian karena kanker. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, sepanjang tahun 2018 ini terdapat 2,1 juta kasus kanker paru baru dan 1,8 juta kematian karena kanker paru. Dengan kata lain satu dari lima kematian pada kanker terjadi akibat kanker paru. Hal ini tidak lepas dari tingkat kesembuhannya yang hanya sekitar 16-18 persen saja.

(Baca juga: Sutopo Purwo Nugroho Terima Penghargaan The First Responders 2018)

Di Indonesia, angka itu tak jauh berbeda. Data dari Indonesian Cancer Information & Support Center (CISC) menunjukkan kanker paru merupakan kanker pembunuh nomor satu dengan total 14 persen dari kematian karena kanker. Angka kematian karena kanker paru di Indonesia bahkan mencapai 88 persen.

Kanker paru masuk dalam golongan kanker paling mematikan lantaran sebagian besar terdiagnosis pada stadium lanjut. Angka harapan hidup pada penderita kanker paru lebih rendah dibanding kanker lain yakni hanya 12 persen. Oleh karena itu deteksi dan diagnosis dini penting bagi penderita kanker paru. Kanker paru memiliki jenis mutasi yang berbeda-beda. Setiap jenis memerlukan penanganan yang berbeda pula.

Foto: Ist

Kanker paru dapat dideteksi dini dengan memahami gejala yang timbul. Namun, umumnya pada tahap awal kanker paru tidak menyebabkan gejala. Gejala baru muncul saat kanker sudah memasuki tahap tertentu. Gejala itu meliputi batuk yang berkelanjutan dan semakin parah bahkan berdarah, sesak napas, nyeri di dada, hingga kelelahan tanpa sebab.

Muncul pula pembengkakan pada muka atau leher, sakit kepala, dan sakit pada tulang. Gejala lain yang juga muncul adalah berat badan menurun, kehilangan nafsu makan, suara serak, sulit menelan, dan perubahan bentuk ujung jari yang menjadi cembung.

Risiko terkena kanker paru lebih tinggi pada orang yang memiliki faktor risiko. Faktor risiko itu di antaranya faktor usia yakni di atas 50 tahun, genetik atau memiliki riwayat kanker paru di keluarga, terpapar karsinogen, dan gaya hidup tidak sehat seperti merokok. Sekitar 85-95 persen penyebab kanker paru berhubungan dengan kebiasaan merokok.

Sutopo sendiri menyatakan tidak merokok, pola makan sehat dengan banyak mengkonsumsi sayur dan buah, serta rajin berolahraga. Selain itu, tidak ada keturunan langsung yang menderita kanker.

Tahun 2018 adalah tahun bencana bagi bangsa Indonesia karena korban meninggal dan hilang akibat bencana selama tahun 2018 adalah terbanyak sejak tahun 2007 hingga 2018. Gempa beruntun di NTB, dan gempa bumi disusul tsunami dan likuifaksi di Sulawesi Tengah menyebabkan ribuan orang meninggal dunia dan hilang.

Foto: Ist

Tahun 2018, juga adalah tahun bencana bagi Sutopo Purwo Nugroho, karena pada Januari 2018 divonis dokter menderita kanker paru stadium 4B yang menyebabkan kondisi fisik dan psikis sakit.

Di tengah perjuangan hidupnya, Sutopo masih secara terus menerus menyampaikan informasi bencana kepada media dan masyarakat. Tetap berjibaku melawan sakitnya untuk menyampaikan informasi bencana secara terus menerus. Faktanya media dan publik membutuhkan penjelasan yang lengkap dan rinci mengenai bencana dengan bahasa yang gampang, gamblang, mudah dimengerti dan masyarakat merasa aman dengan penjelasannya. Meski sakit tetap bekerja sehari-hari.

Sutopo juga terus menerus berbagi pengalaman dan menyarankan kepada penyintas kanker paru untuk terus semangat, pantang menyerah dan hidup sehat. Melalui sosial media, sering mengunggah foto dan video kondisi tubuhnya untuk memberikan semangat penyintas kanker. Juga memberikan nasihat kepada masyarakat umum mengenali tanda-tanda kanker paru, serta menghindari hal-hal penyebab kanker.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini