nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pandangan Imam Besar Masjid Istiqlal Terkait Poligami

Fadel Prayoga, Jurnalis · Senin 17 Desember 2018 21:39 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 12 17 337 1992621 pandangan-imam-besar-masjid-istiqlal-terkait-poligami-193WOFaPLY.jpg Imam Besar Masjid Istiqlal KH Nasaruddin (Foto: Istimewa)

JAKARATA - Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta, KH. Nasaruddin Umar mengambil tema “Misi Kenabian dalam Memuliakan Perempuan” dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang diadakan Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Di hadapan para pengurus, kader dan simpatisan PSI yang hadir, Kiai Nasar menekankan bahwa selama ini perempuan masih jadi objek ketidakadilan. Dirinya pun ikut mencermati masalah praktik poligami yang sering jadi sumber ketidakadilan yang dialami oleh perempuan dan anak-anak.

Ini sejalan dengan hasil kajian dari Komnas HAM, Komnas Perempuan dan LBH APIK, yang diungkap beberapa waktu lalu.

“Memang seperti hasil kajian-kajian sebelumnya, harus diakui praktik poligami selama ini, jadi sebab atas banyak kasus perceraian, kekerasan terhadap perempuan, ekonomi ambruk, dan anak-anak jadi korban penelantaran,” ujar Kiai Nassar dalam keterangan tertulis yang diterima Okezone, Senin (17/12/2018).

“Islam hadir untuk meredam pernikahan tanpa batas. Dibatasi jadi 3 atau 4 istri saja, syaratnya harus adil. Tapi ayat lain mengunci, dikatakan bahwa laki-laki tidak akan bisa adil secara kualitatif atau menyangkut perasaan. Jadi logikanya apa? Ya, jangan poligami,” lanjut dia.

(Baca Juga: Komnas Perempuan: Islam Datang Mengatur Praktik Poligami)

Kiai Nasar juga menyinggung peran Nabi Muhammad SAW dalam mengangkat derajat kaum perempuan pada masa itu, ketika perempuan berada dalam subordinat laki-laki dan kerap mendapatkan perlakuan diskriminatif.

“Bahwa Nabi Muhammad yang pertama kali menghentikan tradisi mengekstradisi perempuan yang sedang menstruasi. Dulu perempuan tidak boleh di-akikah, hanya laki-laki. Islam, lewat Nabi Muhammad SAW, memulai akikah bagi kaum perempuan,” lanjutnya.

Islam juga yang memperkenalkan dan mengizinkan perempuan berkiprah di ranah publik. “Aisyah RA, istri nabi juga ikut berperang, ikut merawat, sebelumnya tidak boleh. Perempuan juga boleh menuntut ilmu setinggi-tingginya. Saya ingin mengatakan begini, berhentilah mendeskreditkan perempuan atas nama ayat," tegas pria kelahiran Ujung Bone, Sulawesi Selatan ini.

Terakhir, sebagai seorang akademisi dan ulama, Kiai Nasar menitipkan pesan kepada caleg-caleg PSI yang akan maju di Pemilu 2019.

“Seandainya nanti ada kejutan, apa yang diinginkan di Pemilu 2019 tercapai, saya titipkan harapan, untuk adinda-adinda yang bersih dari kontaminasi pikiran masa lampau yang destruktif, peliharalah pikiran jernihnya untuk menatap masa depan,” ujar Kiai Nasar yang disambut tepuk tangan para hadirin.

Sebelumnya, Sekjen PSI Raja Juli Antoni mengatakan, topik yang akan dibawakan Kiai Nasar sangat relevan dengan kejadian di Festival 11 yang lalu, ketika Ketua Umum PSI Grace Natalie berpesan, diskriminasi perempuan harus dihentikan.

Salah satu cara yang ditempuh PSI adalah mendisiplinkan kader dan pengurus untuk tidak berpoligami. “Sikap soal poligami ini tidak terkait dengan tafsir agama, tapi menyangkut masalah sosial," kata Toni.

(aky)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini