nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Komnas Perempuan: Islam Datang Mengatur Praktik Poligami

Fahreza Rizky, Jurnalis · Minggu 16 Desember 2018 18:16 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 12 16 337 1992056 komnas-perempuan-islam-datang-mengatur-praktik-poligami-7W5CEk4oXd.jpg ilustrasi

JAKARTA - Komisioner Komnas Perempuan Imam Nahe'i mengatakan poligami bukan ajaran Islam. Menurut dia, Islam melalui Alquran justru datang untuk mengatur praktik poligami.

Imam menuturkan, poligami sudah dipraktikkan jauh sebelum Islam datang. Bahkan hal ini juga dipraktikkan oleh peradaban-peradaban besar dunia. Alquran, kata dia, hendak menggambarkan praktik poligami adalah dzalim.

"Alquran datang untuk mengatur praktik poligami yang dzalim itu. Jadi yang menjadi ajaran Islam adalah pengaturan praktik poligaminya, bukan poligaminya," ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima Okezone, Minggu (16/12/2018).

Imam berpendapat, menurut beberapa kitab fiqh, yang justru menjadi keutamaan adalah menikah dengan satu istri ketimbang poligami. Dengan demikian yang disunnahkan adalah monogami.

Poligami baru boleh dilakukan jika ada alasan yang dalam beberapa tafsir dikatakan bahwa Islam 'meng-ibahah-kan, membolehkan poligami.' Sementara di dalam usul fiqh menjadi perdebatan apakah 'ibahah' itu masuk kategori hukum atau bukan.

"Sebagian ulama mengatakan bahwa ibahah bukan kategori hukum. Berarti poligami ya sama dengan makan, minum, tidur, berjalan, dan lain-lain yang boleh dilakukan. Tentu kita boleh mengatakan bahwa makan, minum, berjalan, bukan hukum Islam. Islam datang untuk mengatur," jelas Imam.

Imam melanjutkan, dalam beberapa kitab tafsir seperti "al-Asas fi at Tafsir" karangan Syaikh Sa'id dan tafsir "al-Maraghi" juz 4 halaman 128, dinyatakan poligami bertentangan dengan mawaddah, rahmah dan sakinah. Ketiga hal ini merupakan tiang kebahagian kehidupan keluarga. Maka tidak seyogianya seorang Muslim melakukannya, kecuali ada dharurat (emergency), tetapi tetap harus berkeyakinan mampu berbuat adil.

"Jika tidak karena dharurat dan dilakukan dengan keadilan, maka poligami hanyalah kedzaliman pada diri sendiri, pada istrinya, pada anaknya, dan bahkan pada umatnya," tegas Imam.

Pernyataan dua tafsir ini, sambung dia, menegaskan bahwa Islam datang bukan memerintahkan poligami, karena memang poligami sudah terjadi jauh sebelum Islam. Agama samawi itu datang untuk mengatur praktik itu.

"Sesungguhnya tidak ada perbedaan antara MUI, PBNU dan juga Komnas Perempuan. Sebab MUI dan PBNU akan sepakat dengan Komnas Perempuan atau Komnas Perempuan akan sepakat dengan PBNU dan MUI bahwa praktek poligami yang dilakukan dengan cara dzalim, tidak adil, menyengsarakan anak, istri dan keluarga yang lain adalah haram," tutur Imam.

"Komnas memandang bahwa praktik poligami adalah haram karena berdasar data-data penelitian dan pengaduan pada Komnas, praktek poligami merugikan perempuan. Jadi yang sedang dilihat Komnas Perempuan adalah praktik poligami yang menyebabkan kekerasan kepada perempuan dan anak," sambungnya.

(Baca Juga: Gerindra Kritik PSI: Lebih Baik Berantas Prostitusi daripada Larang Poligami)

Sebelumnya, Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Grace Natalie mengatakan, partainya menolak praktik poligami. Ia pun tidak mengizinkan kadernya untuk melakukan poligami.

"PSI tidak akan pernah mendukung poligami. Tak akan ada kader, pengurus, dan anggota legislatif dari partai ini yang boleh mempraktikkan poligami," kata Grace di Surabaya, beberapa hari lalu.

(aky)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini