Jokowi Kenang saat Ajak Istri Tinggal di Pedalaman Hutan Aceh

Fakhrizal Fakhri , Okezone · Kamis 13 Desember 2018 20:47 WIB
https: img.okezone.com content 2018 12 13 337 1991015 jokowi-kenang-saat-ajak-istri-tinggal-di-pedalaman-hutan-aceh-aBKZ61mdOM.jpg Presiden Jokowi dan Keluarga (Foto: Okezone)

JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menceritakan sisi lain dari perjalanan hidupnya saat hadiri peluncuran buku 'Menuju Cahaya' yang ditulis Alberthiene Endah. Buku ini menggambarkan perjalanan hidup Jokowi hingga menjabat Presiden.

Jokowi mengungkapkan pernah mengajak sang istri, Iriana Joko Widodo tinggal di pedalaman hutan Aceh. Tepatnya di Kabupaten Bener Meriah yang merupakan daerah pemekaran dari Aceh Tengah.

Kala itu, rumah yang dihuni Jokowi dan Iriana yang baru saja menikah berupa rumah panggung. Bahkan, setiap malam pengantin baru itu pun kerap mendengar suara binatang buas.

"Dan itu betul-betul di tengah hutan. Dan tinggal dibarak, tapi rumahnya panggung. Istri saya ajak ke sana dan mau. Dan kalau malam di bawah rumah panggung itu ada babi hutan tapi ya buat saya biasa saja. Ya namanya di hutan yang nongolnya babi hutan, ya beruang. (Tapi) ya biasa saja," kenang Jokowi di Hotel Mulia, Senayan, Jakarta, Kamis (13/12/2018).

Baca Juga: Buku Menuju Cahaya, Cerita Perjalanan Hidup Jokowi dari Kecil

Jokowi

Jokowi juga mengisahkan dirinya dan keluaraga harus menumpang di rumah kerabat selama 1,5 tahun karena rumahnya yang di pinggiran Kali Anyer digusur tanpa ganti rugi.

Ia pun bertekat untuk tidak menggusur karena merasakan betapa sakitnya tidak mempunyai tempat tinggal. Kepala Negara menegaskan bahwa setiap kebijakannya juga berdasarkan pengalaman hidupnya yang kurang beruntung.

"Menurut saya siapa pun memimpin baik di level kota, kabupaten pasti mempengaruhi, gusur menggusur itu pernah saya merasakan. Masak saya menggusur, dan itu pengalaman batin," jelasnya.

Dalam kesempatan itu, Jokowi menerangkan bahwa setiap pembangunan yang dilakukan pemerintah tidak akan selalu menyenangkan banyak pihak. Menurut dia, pembangunan juga harus mendidik masyarakat untuk selalu tidak menginginkan sesuatu yang instan.

"Kalau hanya memanjakan, buat aja subsidi sebanyak-banyaknya. Tapi membangun sebuah rumah yang kokoh dengan berpilar-pilar yang kuat dalam perjalanan kita bersaing, yang namanya infrastruktur itu syarat," terangnya.

Mantan Gubernur DKI Jakarta itu pun melanjutkan peningkatan pembangunan sumber daya manusia (SDM) juga harus benar-benar diperhatikan.

"Peningkatana sumber daya manusia itu betul-betul jadi syarat. Tapi dalam proses seperti ini, bisa kita sakit, pahit ya itu sebuah proses yang tidak instan," lanjutnya.

"Reformasi struktural itu kita sampaikan yang namanya negara besar belum tentu mengalahkan negara yang kecil. Tetapi negara yang cepat pasti akan mengalahkan negara yang lambat. Jadi dalam kesulitan dan kesusahan pasti ada kekokohan. Bangsa yang besar dan bangsa yang kokoh," pungkas Jokowi.

(edi)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini