Idrus Marham Curhat Fasilitas KPK, dari Mobil Tahanan Sampai Minimnya SDM

Arie Dwi Satrio, Okezone · Rabu 28 November 2018 18:59 WIB
https: img.okezone.com content 2018 11 28 337 1984171 idrus-marham-curhat-fasilitas-kpk-dari-mobil-tahanan-sampai-minimnya-sdm-inYo9oScOd.jpg Idrus Marham (foto: Okezone)

JAKARTA - Tersangka kasus dugaan suap kesepakatan kontrak kerjasama proyek PLTU Riau-1, Idrus Marham mengaku bahwa pemeriksaannya pada hari ini untuk proses perpanjangan penahanan untuk yang terakhir kalinya selama satu bulan ke depan.

"‎Ya ini perpanjangan yang kedua, terakhir ya, satu bulan terakhir ini," kata Idrus usai merampungkan pemeriksaannya sebagai tersangka di Gedung Merah Putih KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Rabu (28/11/2018).

(Baca Juga: Dua Anak Buah Sofyan Basir Dipanggil KPK Terkait Suap PLTU Riau-1)

Ragam Ekspresi Idrus Marham Usai Pergantian Menteri Sosial 

Mantan Sekjen Partai Golkar tersebut berharap pada penahanan terakhirnya selama satu bulan ke depan dapat berjalan dengan lancar. Idrus mengaku, selama menjalani penahanan ada beberapa hambatan dari KPK. Diantaranya, ia mengeluhkan masalah kendaraan operasional tahanan KPK.

"Ini misalkan supaya jangan telat, kan kadang-kadang kita sudah selesai karena memang kendaraannya terbatas maka kita tunggu," terangnya.

Idrus juga menyoroti kurangnya sumber daya manusia di lembaga antirasuah ‎untuk menangani kasus-kasus yang sedang disidik. Mantan Menteri Sosial (Mensos) tersebut meminta agar pemerintah memperhatikan personil yang ada di KPK.

"Demikian pula misalnya banyaknya masalah-masalah yang ditangani KPK, personelnya memang masih kurang dan lain-lain. Saya kira ini memang perlu menjadi perhatian ke depan supaya berjalan dengan baik," ujarnya.

Sebelumnya, KPK telah menetapkan Idrus Marham sebagai tersangka. Idrus diduga bersama-sama dengan anggota Komisi VII DPR RI Eni Maulani Saragih menerima suap proyek mulut tambang PLTU Riau-1.

(Baca Juga: KPK Dalami Proses Penunjukan PT Samantaka di PLTU Riau) 

Eni diduga menerima uang suap dari Bos Blackgold Natural Resources Limites, Johanes Budisutrisno Kotjo untuk meloloskan proyek PLTU Riau-1. Idrus diduga mengetahui dan memiliki andil terkait penerimaan uang dari Kotjo untuk Eni.

Selain itu, Idrus berperan mendorong agar proses penandatanganan purchase power agreement (PPA) jual-beli dalam proyek pembangunan mulu tambang Riau-1.

(fid)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini