nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

3.101 Virus Malware Serang Jawa, Sumatera dan Bali Sepanjang 2018

Anggun Tifani, Okezone · Minggu 25 November 2018 08:27 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 11 25 337 1982425 3-101-virus-malware-serang-jawa-sumatera-dan-bali-sepanjang-2018-knTLDnQxD2.jpg Seminar di Swiss German University, Tangerang (Anggun/Okezone)

TANGERANG – Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) bersama Honeynet Project mencatat begitu banyak malware menyerang jaringan siber di Indonesia. Serangan virus yang merusak dengan menyusup ke jaringan komputer itu paling sering menimpa Sumatera, Jawa dan Bali.

"Tahun ini, total ada 3.101 malware yang menyerang Sumatera, Jawa dan Bali. Serangannya bukan hanya dari luar negeri tapi juga dari negeri sendiri," kata Chapter Lead Indonesia HoneyNet Project, Charles Lim dalam seminar di Swiss German University, Alam Sutera, Kota Tangerang, Sabtu (24/11/2018).

Charles mengungkapkan, bahwa rata-rata serangan tersebut menyasar website resmi milik pemerintah. "Umumnya ini disebabkan oleh server akademis dan pemerintah yang tidak pernah diurus lagi, sehingga masuk malware di sana," imbuhnya.

BSSN mencatat hingga Juni 2018, terdapat 147 laporan kasus serangan malware. Ada dua situs pemerintah yang pernah mengalami serangan siber tersebut, yakni Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan situs Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud).

Direktur Deteksi Ancaman BSSN, Sulistyo mengatakan bahwa pihaknya kini mengerjakan proyek HoneyNet Indonesia untuk meningkatkan kepedulian, menyediakan informasi terkait ancaman siber. Kerjasama itu, salah satunya dilakukan di universitas.

"Kita membangun jejaring di universitas perguruan tinggi untuk project HoneyPot, yaitu membangun pusat riset khusus buat malware. Ini sudah dilakukan sejak lima tahun lalu. Kita berharap ini bisa jadi sebuah proyek nasional," ujar Sulistyo.

Menurut pejabat di lingkungan BSSN tersebut, proyek ini akan membuat sebuah database yang komprehensif untuk mengidentifikasi malware yang masuk ke Indonesia. Nantinya, para ahli akan mengenali Indicator of Compromise (IOC), atau gangguan sistem komputer, dan signature (ciri khas) dari malware.

"Malware bisa untuk memata-matai, user, mereka bisa masuk ke sistem, menggangu sistem, masuk ke gadget. Mereka bisa berbentuk virus, trojan, dan lainnya," bebernya.

Dikatakan Sulistyo, dari database tersebut, pihaknya dapat mengetahui struktur malware, mengenai apa yang diserang dan diganggu, kemudian pihaknya akan mengedukasi publik.

"Kita bisa tahu sistim-sistim apa saja yg rentan terhadap malware tersebut. Lalu kita edukasikan ke publik. kita informasikan misalnya hati-hati ada serangan malware A yang berakibat ini dampaknya ABCD dan cara penanganannya," tutupnya.

(sal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini