nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

KNKT: Lion Air Sempat Kehilangan Daya Angkat

Antara, Jurnalis · Kamis 22 November 2018 21:23 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 11 22 337 1981478 knkt-lion-air-sempat-kehilangan-daya-angkat-5Bpp1p4FRn.jpg Foto Ilustrasi Okezone

JAKARTA - Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) memaparkan pesawat Lion Air PK-LQP dengan nomor penerbangan rute Jakarta-Pangkal Pinang yang jatuh di Perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat 26 Oktober lalu sempat mengalami kehilangan daya angkat (stall).

Kepala Sub Komite Kecelakaan Penerbangan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Nurcahyo saat Rapat Kerja dengan Komisi V DPR di Gedung Parlemen, Jakarta, Kamis, menjelaskan kronologi sebelum pesawat tersebut jatuh.

"Dari hasil pembacaan kotak hitam (black box) pada saat mulai terjadi perbedaan penunjukan kecepatan di mata kapten dan copilot. Dilihat dari grafik yang paling bawah, berwarna biru adalah ketinggian, di atas kecepatan, mungkin naik pada tiga garis di atas," kata Nurcahyo.

Nurchayo mengatakan, angle of attack dari awal sudah menunjukan perbedaan di antara kiri dan kanan di mana indikator kanan lebih tinggi dari kiri. Pada saat menjelang mulai terbang di sini tercatat bahwa ada garis merah di sini yang menunjukkan pesawat mengalami stick shaker.

 (Baca juga: Di Depan Anggota DPR, KNKT Beberkan Data Grafik Black Box FDR Lion Air JT-610)

lion

"Stick shaker adalah kemudinya di sisi kapten mulai bergetar. Ini adalah indikasi yang menunjukkan bahwa pesawat akan mengalami stall atau peringatan daya angkat," sambungnya.

Pada saat di ketinggian 5.000 kaki tercatat pada indikator berwarna ungu yaitu 'automatic trim down' atau yang disebut banyak media sebagai MCAS atau Manuver Characteristics Augmentation System adalah alat untuk menurunkan hidung pesawat karena pesawatnya akan stall.

"Jadi, hal ini kemungkinan disebabkan karena angle of attack di tempatnya kapten menunjukkan 20 derajat lebih tinggi. Kemudian men-trigger terjadnya stick shaker. Mengindikasikan kepada pilot bahwa pesawat akan stall. Kemudian MCAS menggerakkan hidung pesawat untuk turun," katanya.

Nurchayo menjelaskan, pergerakan tersebut dilawan oleh pilot dengan parameter yang paling atas berwarna biru.

 (Baca juga: Tim DVI Kembali Berhasil Identifikasi 2 Korban Pesawat Lion Air)

"Jadi pilotnya trim up. Terus sampai dengan akhir penerbangan, ini parameter biru yang tengah ini menunjukkan berapa total trim yang terjadi. Setelah trim down angkanya turun dilawan oleh pilotnya trim up kemudian akhirnya angkanya kira-kira di angka 5," katanya.

 lion

Jadi, lanjut dia, Angka 5 adalah angka di mana beban kendali pilot nyaman.

"Apabila angkanya makin kecil, ini bebannya akan semakin berat. Namun kemudian, tercatat di akhir-akhir penerbangan `autamatic trim-nya bertambah namun trim dari pilotnya durasinya makin pendek. Akhirnya jumlah trimnya makin lama mengecil dan beban kemudi menjadi berat. Kemudian pesawat turun," jelasnya.

Ia mengatakan, hasil pembacaan kotak hitam secara lengkap akan dipublikasikan kepada masyarakat luas pada 28 November mendatang.

(wal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini