nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Siswa SMK di Kendal yang Keroyok Gurunya Sudah Jalani Pembinaan

Puteranegara Batubara, Jurnalis · Selasa 13 November 2018 09:18 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 11 13 337 1977009 siswa-smk-di-kendal-yang-keroyok-gurunya-sudah-jalani-pembinaan-X581uc4ZpB.jpg Para siswa SMK yang ada di video pengeroyokan sungkem meminta maaf. (Foto: Eddy Prayitno/iNews)

JAKARTA – Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) melakukan koordinasi dengan pihak Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah terkait viralnya video yang menayangkan tindakan kekerasan oleh siswa-siswa di SMK NU 02 Kaliwungu, Kendal, kepada gurunya sendiri di dalam kelas.

Komisioner KPAI Retno Listyarti menjelaskan, setelah adanya koordinasi dengan pihak Disdik Jateng, beberapa siswa yang terlibat di dalam video itu langsung dipanggil dan dilakukan pembinaan. Dimaksudkan agar kejadian yang awalnya candaan itu tidak terulang.

"Para siswa tersebut juga diminta menuliskan pernyataan tidak akan mengulangi guyonan seperti dalam video yang viral tersebut," kata Retno kepada Okezone, di Jakarta, Selasa (13/11/2018).

(Baca juga: Viral! Video Guru Dikeroyok Siswa di SMK Kendal)

kemudian, lanjut dia, para orangtua siswa turut dipanggil pihak sekolah. Dalam kesempatan itu, para orangtua juga membuat komitmen bersama untuk menasihati anak-anaknya agar tidak mengulangi lagi perbuatannya dan dapat lebih menghormati guru-guru.

"KPAI mengapresiasi Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah yang cepat dan sangat kooperatif dalam menangani kasus dugaan pem-bully-an tersebut dan meng-update perkembangan penanganan ke Gubenur Jawa Tengah dan juga KPAI," papar Retno.

Ia mengungkapkan, pihak sekolah bersama guru yang bersangkutan menyatakan bahwa kejadian yang terekam di video viral tersebut hanya guyonan, bukan kekerasan atau pengeroyokan sungguhan.

(Baca juga: Siswa Pengeroyok Guru SMK di Kendal Sungkem Minta Maaf)

Tetapi, pihak sekolah mengakui bahwa candaan sejumlah siswa terhadap gurunya itu merupakan tindakan yang kelewat batas kesopanan atau etika sosial.

"Beberapa faktor yang menyebabkan hal tersebut terjadi karena karakter siswa yang kurang terbina dengan baik di rumah maupun sekolah, sehingga perilakunya kurang sopan, rendahnya kompetensi pedagogi guru, terutama dalam penguasaan kelas serta upaya penciptaan suasana belajar yang kreatif, menyenangkan, dan menantang kreativitas serta minat siswa," papar Retno.

(han)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini