Terbius Pembalut Rebus

Bayu Septianto, Okezone · Minggu 11 November 2018 23:17 WIB
https: img.okezone.com content 2018 11 11 337 1976399 terbius-pembalut-rebus-RwT927FZZB.jpg Pembalut (Foto: Mothermoonpands)

JAKARTA - Fenomena penyimpangan prilaku remaja mabuk dengan mengkonsumsi air rebusan pembalut wanita, akhir-akhir ini cukup menjadi perhatian publik. Fakta ini kembali terungkap dari kehidupan jalanan di kota-kota di Jawa Tengah seperti Kudus, Jepara, Rembang dan Purwodadi.

Sangat aneh, mereka merebus pembalut wanita dan mengkonsumsi air rebusannya hanya untuk mabuk. Rata-rata penggunanya berusia 13 sampai 16 tahun dan dari keluarga kurang mampu. Mereka mengkonsumsi air rebusan pembalut karena berefek memabukkan seperti narkotika. Tak ada akal sehat yang digunakan, apapun alasannya mabuk tentu menjadi aktivitas yang mempunyai pandangan negatif, apalagi menggunakan bahan – bahan yang tidak lazim.

Faktanya, seseorang mampu mencapai euforia mabuk bisa dilakukan dengan berbagai macam cara. Jauh sebelumnya, publik juga sering disuguhkan fakta bagaimana anak – anak jalanan mabuk dengan meggunakan lem. Bahkan kini mabuk lem atau nge-lem masih sering dijumpai di sudut-sudut jalan kota. Kesenangan-kesenangan yang diperoleh pun beragam, dari yang biasa disebut nge-flay, berhalusinasi dan tidak sadarkan diri.

Baca Juga: Fenomena Remaja Mabuk Rebusan Pembalut, Rescue Perindo: Kurang Perhatian Keluarga

Pembalut

Didalam pembalut wanita terkandung zat kimia berbahaya seperti, okkhlorinated dioxin atau ocdd, hexachlordibenzofuran atau hxcdf, dan octa-chlorodibenzofuran atau ocdf.

Ketika pembalut direbus dan airnya dikonsumsi, bisa mengakibatkan pengguanya mengalami demam tinggi, muntah, diare, tekanan darah rendah, ruam pada telapak tangan dan kaki, nyeri otot, iritasi mata, mulut tenggorokan. Bahkan, racun dalam pembalut akan mengendap dalam tubuh selama 20 tahun bersifat karsinogen memicu penyakit kanker.

Pelakunya rata-rata adalah para anak jalanan yang memiliki tingkat pendidikan dan ekonomi rendah, bahkan mereka juga biasanya jauh dari perhatian keluarga. Karena itu, sudah saatnya semua pihak terutama pemerintah untuk tidak tingal diam. Di samping pemerintah harus melakukan koordinasi dengan sejumlah pihak, pada akhirnya perlindungan terdepan tetap ada pada keluarga dan lingkungan terdekat anak.

(edi)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini