Tangis Haru Keluarga Korban Pesawat Lion Air saat 'Hujan' Bunga di Laut Biru

Harits Tryan Akhmad, Okezone · Selasa 06 November 2018 19:03 WIB
https: img.okezone.com content 2018 11 06 337 1974181 tangis-haru-keluarga-korban-pesawat-lion-air-saat-hujan-bunga-di-laut-biru-0iWKAQAme6.jpg Tabur Bunga (Foto: Harits Tryan Akhmad/Okezone)

Tangis Haru Keluarga Korban Pesawat Lion Air di Laut Biru

JAKARTA - Siang hari di tengah teriknya mata hari di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat air mata bercucuran dari keluarga korban di lokasi kejadian jatuhnya pesawat Lion Air PK-LQP.

Mereka histeris lantaran tak kuasa menahan kesedihan melihat saudara ataupun kerabatnya termasuk menjadi korban dalam pesawat yang terjatuh di lautan.

Air mata tersebut jatuh ketika dua kapal KRI Banjarmasin bertolak dari Kolamil, Tanjung Priok, Jakarta Utara menuju perairan Tanjung Karawang. Hal ini dikarenakan para keluarga tak kuasa menahan haru untuk melihat lokasi tersebut.

 Baca juga: 181 Kantong Jenazah Korban Lion Air Berhasil Dievakuasi

Tak ayal, situasi itu membuat Kabasarnas Marsekal Madya Muhammad Syaugi menyambangi satu per satu keluarga dan kerabat korban pesawat Lion Air guna memberikan ketenangan.

 Kabasarnas (Harits/Okezone)

“Kita berdoa semoga diberi kekuatan. Tim SAR akan bekerja secara maksimal,” kata Syaugi.

Kurang lebih dua jam perjalanan dilalui, akhirnya dua KRI Banjarmasin dan KRI Banda Aceh yang membawa keluarga, kerabat dan cabin crew Lion Air ini tiba. Dipimpin oleh lima tokoh pemuka agama, doa bersama pun dilakukan secara bergantian guna memandu agama masing-masing.

Seketika suasana pun menjadi haru, lantaran salah satu Pramugari tak kuasa menahan uraian air matanya saat doa bersama itu yang kemudian disusul dengan tangisan sang ibunda dari satu korban membuat suasana semakin gundah.

Keluarga dan Kerabat Korban Menangis (Harits/Okezone)

 Baca juga: Barang Milik Korban Lion Air PK-LQP Masih Disimpan, Ini Penjelasan KNKT

Waktu menunjukkan pukul 11.30 WIB, Kabasarnas Marsekal Madya Muhammad Syaugi mengajak untuk melihat lokasi jatuhnya pesawat. Di saat itulah hampir mayoritas keluarga menitihkan air matanya di atas lautan yang berwarna biru.

“Tenanglah bersama tuhan di surga suamiku, aku berjanji akan membesarkan anak-anak sesuai keinginanmu,” papar Dewi sambil menitihkan air mata.

Dewi pun sontak tak kuasa menahan haru lemas tak berdaya melihat situasi, namun petugas dari PMI yang merupakan pendamping para keluarga korban sudah siap bersiaga.

 Baca juga: 4 Orang Keluarga Korban Pingsan saat Lihat Lokasi Jatuhnya Pesawat Lion Air

Kurang lebih 15 menit, nahkoda KRI Banjarmasin dan KRI Banda Aceh sengaja berputar-putar di lokasi kejadian. Dengan ajakan pengeras suara, salah satu petugas dari KRI Banjarmasin pun mengajak semua penumpang untuk menaburkan bunga ke laut sebagai tanda berduka atas kejadian itu.

 Tabur Bunga (Harits Tryan Akhmad/Okezone)

Banyak dari mereka terlihat hanya merenung dan hanya berpandang kepada deburan ombak yang ada di laut Tanjung Karawang diiringi dengan isak tangis sembari menaburkan bunga-bunga ke laut

Di sisi lain, selama KRI Banda Aceh dan Banjarmasin mengitari lokasi, tim SAR yang tengah bekerja pun seketika berhenti dalam aktivitasnya melakukan pencarian kepada korban. Hal tersebut agar menghormati iring-iringan kapal yang membawa keluarga, kerabat dan kru pesawat Lion Air yang doa bersama dan tabur lokasi.

Sudah Ada yang Mengaku Ikhlas

Salah satu Ibunda kandung dari korban Deryl Fida Febrianto yaitu, Naning mengaku dirinya sudah ikhlas atas kepergian anaknya dalam kecelakaan pesawat Lion Air tujuan Jakarta-Pangkal Pinang.

 Baca juga: Barang Milik Korban Lion Air PK-LQP Masih Disimpan, Ini Penjelasan KNKT

“Kalau saya ikhlas. Benar ikhlas,” ujar Naning ketika ditemui di KRI Banjarmasin.

 Doa Bersama

Tak hanya itu, Naning juga berpesan kepada pihak Lion Air agar selalu memerhatikan pesawatnya ketika akan terbang. Hal ini untuk mencegah adanya kembali kejadian seperti di perairan Karawang.

Baca juga: KNKT Akan Selidiki Dugaan Kerusakan Airspeed Lion Air PK-LQP

“Harus diperhatikan sebelum (berangkat). Mesin-mesin harus dicek biar enggak terjadi lagi,” tukas Naning.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini