Cerita Prajurit Taifib Marinir saat Temukan Kotak Hitam Lion Air

Badriyanto, Okezone · Kamis 01 November 2018 11:46 WIB
https: img.okezone.com content 2018 11 01 337 1971860 cerita-prajurit-taifib-marinir-saat-temukan-kotak-hitam-lion-air-nR2J2CrLYX.jpeg Kotak hitam Lion Air dibawa tim SAR (Istimewa)

JAKARTA – Pencarian kotak hitam atau black box pesawat Lion Air nomor registrasi PK-LQP yang jatuh di perairan Karawang, Jawa Barat akhirnya membuahkan hasil. Benda yang sayogianya berwarna oranye itu ditemukan oleh prajurit Batalyon Intai Amfibi (Taifib) Marinir TNI Angkatan Laut, Sertu Hendra.

Hendra merupakan salah satu penyelam andal yang dikerahkan untuk membantu mencari badan pesawat sekaligus kotak hitam Lion Air nomor penerbangan JT 610 yang jatuh dalam penerbangan dari Cengkareng, Tangerang tujuan Pangkalpinang, Kepulauan Riau. Dia turut bergabung dalam tim SAR gabungan.

Kotak hitam tersebut ditemukan di perairan Karawang pada kedalaman sekira 30 meter di dasar laut, Kamis (1/11/2018) pagi. "Itu tidak di dalam serpihan pesawat,” kata Hendra.

Kotak hitam Lion Air sebenarnya sudah terdeteksi keberadaannya sejak kemarin. Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto turut datang ke lokasi menggunakan kapal.

Setelah ditemukan, kota hitam diangkat ke Kapal Baruna Jaya 1.

Hendra menceritakan, proses penemuan black box saat menyelam.

"Kami sempat putus asa mengikuti alat, karena tidak banyak ditemukan bongkahan. Hanya bongkahan-bongkahan kecil, tapi kami terus ikuti alat. Kami kecilkan areanya lalu pada tempat yang alatnya menimbulkan sensitif tersebut lalu kami gali-gali, dan ternyata kami mendapatkan black box," tegasnya.

Tim SAR pencari Lion Air (Harits/Okezone)

Menurut Hendra tim Taifib Marinir mendeteksi bersama KNKT titik kotak hitam tersebut. Untuk mengangkatnya agak sulit karena di area keberadaannya di dasar laut kondisinya berlumpur dan serpihan pesawat Lion Air yang jatuh di mana mana.

(Baca juga: Benda Besar Terdeteksi di Dasar Perairan Karawang Diduga Lion Air)

"Kemudian dari alat yang kita dipinjamkan atau digunakan, kami percaya alat bahwa begitu kami turun arusnya kencang kemudian dengan keterbatas kita menggunakan tali untuk tidak terlempar dan tidak terbawa arus karena tali tersebut agak menghambat," tutur Hendra.

"Kami kembali lagi ke posisi awal untuk melepas tali, lalu kami yakin kami body fare yakin mengikuti alat yang sudah diberikan," lanjutnya.

Hendra mengakui timnya sempat putus asa mencari keberadaan kotak hitam karena faktor tadi, tapi mereka tak menyerah. "Memang kami putus asa pada saat mengkuti alat," ujarnya.

Tim terus mengikuti alat yang mendeteksi black box. "Kami kecilkan sensitifnya hingga area semakin mengecil lalu pada tempat alatnya menimbulkan reaksi sensitif tersebut kami gali-gali, kami mendapatkan black boxnya," cerita Hendra.

Sebelumnya, Kepala Badan Pencarian dan Penyelamatan atau Basarnas Marsekal Madya Muhammad Syaugi pada Rabu, 31 Oktober 2018 mengatakan, posisi kotak hitam berada di kedalaman 32 meter dari titik kordinat dari lokasi pesawat jatuh.

(Baca juga: Petugas Kesulitan Angkat Blackbox Milik Lion Air di Kedalaman 32 Meter)

Syaugi mengungkapkan sinyal yang biasa dikeluarkan dari kotak hitam sudah terdengar. Namun, tim penyelam mengalami kesulitan dikarenakan arus laut sangat kuat dan bisa membahayakan penyelam.

(sal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini