Pembakaran Bendera Tauhid, Sumpah Pemuda Bisa Jadi Momentum untuk "Duduk Bersama"

Harits Tryan Akhmad, Okezone · Jum'at 26 Oktober 2018 22:49 WIB
https: img.okezone.com content 2018 10 26 337 1969572 pembakaran-bendera-tauhid-sumpah-pemuda-bisa-jadi-momentum-untuk-duduk-bersama-9D5donYceL.jpg Ilustrasi

JAKARTA - Suhu politik makin memanas jelang Pilpres 2019. Belum hilang diingatan bagaimana seorang Ratna Sarumpaet membuat heboh satu negara dengan kebohongannya. Muncul lagi isu pembakaran bendera oleh oknum Banser di garut Jawa Barat.

Menanggapi hal itu, Ketua Umum Perkumpulan Alumni Organisasi Pelajar Pemuda Mahasiswa Islam (PAPMI) Bursah Zarnubi mengungkapkan persoalan tersebut mesti disikapi dengan kepala dingin dan jika ia menyangkut masalah hukum, maka harus dikembalikan kepada penegak hukum.

"Menurut saya, masalah Banser itu harus disikapi dengan kepala dingin saja. Apa yang menjadi masalah hukum, kembalikan kepada hukum. Jadi sikapi dengan baik dan kepala dingin," kata Bursah kepada wartawan di sela-sela Diskusi Publik yang digelar PAPMI di Hotel Grand Cempaka, Jakarta Pusat, Jumat, 25 Oktober 2018.

Diskusi publik bertema "Peran Pemuda Islam dalam Pembangunan Berkelanjutan dan Berkeadilan" ini dihadiri beberapa tokoh. Di antaranya Pakar Politik Yudi Latif, Danang Girindrawardana, dan Mantan Ketua Umum PB HMI Mulyadi P. Tamsir.

Selain itu, jelas Bursah, para elite politik hingga pemimpin-pemimpin organisasi kemasyarakatan (Ormas) juga harus duduk bersama untuk menyelesaikan masalah tersebut, sehingga tidak membuat bangsa ini terpecah belah.

"Kemudian yang juga sangat penting para elite harus duduk bersama, ngopi bersama, sehingga dalam merespon masalah bangsa, bisa satu persepsi," jelasnya.

Sementara itu, ketika menyampaikan pidato politik dalam diskusi publik ini, Bursah Zarnubi mengingatkan kembali tentang peristiwa bersatunya para pemuda dari berbagai suku bangsa dan agama saat mengumandangkan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. Menurutnya, para pemuda saat ini harus mengambil refleksi dari peristiwa tersebut.

Salah satu yang perlu dijadikan bahan refleksi kata dia, adalah tentang pentingnya pemuda dalam merawat kebhinekaan dan keanekaragaman, baik keanekaragaman suku, budaya, maupun agama.  

Oleh karenanya, dalam suasana politik yang tengah krisis ini, Sumpah Pemuda itu perlu digelorakan kembali. Tujuannya agar publik tidak lupa dengan semangat persatuan yang ditampilkan para pemuda di masa lalu dan keberhasilan mereka menanggalkan perbedaan etnis dan agama.

"Kita ingin menggelorakan itu terus menerus, agar bangsa ini ingat dengan sejarah kita, tidak lupa dengan tokoh-tokoh bangsa kita yang telah membangun fondasi kebangsaan yang kokoh ini" jelasnya.

Dalam kesempatan ini, Bursah lalu memaparkan alasan di balik berdirinya organisasi alumni pemuda dan mahasiswa Islam, yakni PAPMI yang dirintisnya. Tujuannya kata Bursah, agar para pemuda Islam senantiasa melakukan perenungan dan kontemplasi dengan sajarah bangsanya.

(Baca Juga: Pertemuan JK & Pimpinan Ormas Islam Sepakati Akhiri Kekisruhan Pembakaran Bendera Tauhid)

"Sebagai bangsa besar, kita perlu refleksi dan kontemplasi Sumpah Pemuda. Jadi berdirinya PAPMI ini, kita ingin memperingati kontemplasi itu agar gelora sumpah pemuda, bagian dari tarikan senyawa dalam kemajuan bangsa ke depan," paparnya.

Bursah lalu mengingatkan kembali tentang kiprah para pemuda Islam, terutama sebelum lahirnya Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. Mereka tidak hanya menjadi pioner pemersatu anak-anak bangsa, tetapi juga mau melepaskan egoisme keagamaannya.

"Kalau kita baca sejarah, peranan pemuda Islam di Indonesia sangat penting. Kita berhutang sejarah, masa depan dan nyawa, karena mereka mempertaruhkan satu bangsa, demi tercapainya satu visi dan cita-cita, yang kemudian melahirkan Sumpah Pemuda."

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini