Polri Telusuri Jejak Digital Tersangka Pembawa Bendera HTI di Garut

Achmad Fardiansyah , Okezone · Jum'at 26 Oktober 2018 21:18 WIB
https: img.okezone.com content 2018 10 26 337 1969545 polri-telusuri-jejak-digital-tersangka-pembawa-bendera-hti-di-garut-xEEu3A0kWe.jpg Foto: Okezone

JAKARTA - Polri akan menelusuri jejak digital Uus Sukmana yang diketahui pembawa bendera bertuliskan kalimat tauhid yang dibakar anggota Banser di Garut, Jawa Barat beberapa waktu lalu.

Kabareskrim Polri, Komjen Arief Sulistiyo mengatakan Uus sempat mengakui bahwa bendera yang dibawa saat acara peringatan Hari Santri Nasional (HSN) di Garut merupakan bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

"Saudara Uus mengetahui bahwa bendera tersebut sering digunakan ormas HTI dalam acara HTI," katanya di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (26/10/2018).

Uus juga mengaku, bahwa bendera tersebut dibelinya melalui online dari media sosialnya. Oleh sebab itulah Polri merasa perlu untuk menelusuri jejak medsosnya.

hti

 (Baca juga: JK Kumpulkan Pimpinan Ormas Islam, Bahas Kasus Pembakaran Bendera Tauhid?)

"Yang bersangkutan memperoleh bendera itu dengan cara memperoleh membeli secara online melalui FB yang diiklankan salah satu akun fb. Akun itu menyebut bendera itu bendera HTI," tuturnya.

Uus juga mengaku bahwa dirinya juga pernah diajak oleh Front Pembela Islam (FPI) Garut, untuk melakukan aksi unjuk rasa di Monas 2016 silam.

"Ada juga keterangan yang bersangkutan pernah diajak demo bersama bersama FPI Garut di monas 2016," tutupnya.

demo

 (Baca juga: Uus Ditahan Terkait Pembakaran Bendera HTI, 3 Lainnya Dibebaskan)

Sebagaimana diketahui, Uus Sukmawan seorang pemuda yang diketahui pembawa bendera HTI ke acara HSN di Garut ditetapkan tersangka oleh polisi, karena disebut-sebut menjadi biang keladi kegaduhan.

"Saudara Uus yang dengan sengaja melakukan hal itu, maka disimpulkan bahwa Uus di denda Rp900 ribu dan 3 minggu kurungan penjara karena Uus dianggap membuat kegaduhan, sedangkan tiga Banser tidak dianggap bukan unsur pidana," tutupnya.

(wal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini