nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bunga Bangkai Ditemukan di Sukabumi dan Kudus, Ini Penjelasan Ilmiahnya

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Rabu 24 Oktober 2018 07:58 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 10 24 337 1968137 bunga-bangkai-ditemukan-di-sukabumi-dan-kudus-ini-penjelasan-ilmiahnya-CATXym4shs.jpg Bunga bangkai yang ditemukan di halaman rumah warga di Kusus. (Foto: Antara/BBC News Indonesia)

BUNGA bangkai yang ditemukan di permukiman di Sukabumi dan Kudus bukan tumbuhan langka, menurut pakar botani.

Peneliti di Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor, Rosniati Apriani Risna yang melakukan identifikasi lewat foto, mengonfirmasi bahwa tumbuhan yang ditemukan di Sukabumi dan Kudus adalah jenis bunga bangkai dengan nama ilmiah Amorphophallus paeoniifolius.

Ia juga dikenal dengan nama lokalnya, suweg atau ileus.

Spesies tersebut masih satu genus dengan bunga bangkai raksasa, Amorphophallus titanum, yang ditanam di Kebun Raya Bogor. Bedanya, A. paeoniifolius tidak tergolong tumbuhan langka. Bau busuknya pun tidak sekuat kerabatnya itu.

Sebelumnya, bunga yang menguarkan bau menyengat ditemukan di sepetak lahan kosong di Kecamatan Cikole, Sukabumi, Jawa Barat pada Sabtu dua pekan lalu (13/10). Koran lokal melaporkan, bunga tersebut ditemukan secara tidak sengaja ketika pengelola lahan sedang bersih-bersih.

"Saya biasa setiap pagi ke lahan kosong ini, kadang bersih-bersih karena pemiliknya warga Jakarta. Tahu ini bunga Rafflesia yang katanya cukup langka dari warga yang melintas," kata Siti Suaedah (50) kepada Radar Sukabumi.

(Baca juga: Uniknya Amorphopallus Titanum, Bunga Bangkai yang Ditemukan Warga Mekar di Kebun)

Penemuan ini sontak mengundang minat masyarakat. Beberapa warga mengira bunga tersebut adalah bunga bangkai yang langka, dan menyebutnya Rafflesia. Bahkan, untuk menjaga bunga itu sengaja dibuat pembatas dari kayu.

Foto: Antara/BBC News Indonesia

Bunga bangkai kembali ditemukan pada akhir pekan lalu, yaitu Minggu (21/10), di pekarangan rumah warga di Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Lagi-lagi, temuan ini menarik perhatian masyarakat setempat.

Umum di Indonesia

Namun penemuan bunga bangkai tersebut sebenarnya hal biasa, kata peneliti Kebun Raya Bogor Rosniati Apriani Risna. "A. paeoniifolius umum di Indonesia, terutama di Pulau Jawa," ujarnya.

Sementara kerabatnya, Amorphophallus titanum, adalah tumbuhan endemik Sumatera.

Ketika disodorkan fotonya, Risna mengenali A. paeoniifolius berdasarkan ciri khas yaitu tongkol (appendix) – bagian yang menjulang ke atas – yang membesar dan seludang atau 'mahkota bunga' yang berbentuk seperti lonceng atau bell-shaped.

Tanaman tersebut bisa berakhir di tengah-tengah permukiman warga mungkin karena disebarkan oleh hewan, kata peneliti lainnya di Kebun Raya Bogor Yuzammi.

Yuzammi, yang penelitiannya berfokus pada suku talas-talasan atau Araceae, menjelaskan bahwa A. paeoniifolius berbunga di sepanjang tahun. Perlu dua tanaman yang berbunga di saat bersamaan untuk terjadi penyerbukan. "Kalau sudah terjadi penyerbukan, terbentuk buah, buahnya dimakan oleh binatang dan (bijinya) bisa tercecer di mana saja dari kotoran binatang itu," ujarnya.

Sementara bunga bangkai raksasa A. titanum berbunga setiap tiga sampai lima tahun sekali sehingga sangat jarang terjadi penyerbukan, yang menjadikannya tanaman langka.

Genus Amorphophallus adalah bagian dari suku Araceae atau talas-talasan. Menurut Yuzammi, terdapat 26 jenis Amorphophallus yang tersebar di seluruh Indonesia.

Berbeda dari Rafflesia

Perlu dicamkan, Amorphophallus berbeda dari Rafflesia, meski keduanya dijuluki bunga bangkai.

Rafflesia adalah tanaman parasit, yang mendapatkan nutrisi dari inangnya, dan karena itu tidak memiliki batang maupun daun (karena tidak perlu fotosintesis). Tumbuhan ini biasanya bersimbiosis dengan tanaman merambat dari genus Tetrastigma. "Dia ibarat kutil," kata Yuzammi.

Sedangkan Amorphophallus adalah tumbuhan asli atau mandiri, yang mengolah makanannya sendiri dan menyimpan cadangan makanan dalam bentuk umbi. Namun demikian, ia disebut sebagai tumbuhan primitif.

(Foto: AFP/Antara)

Bentuk yang dikira orang awam sebagai bunga sebenarnya adalah tanaman utuh. Bunga sebenarnya tersimpan di dalam struktur yang menjulang ke atas atau tongkol.

"Di dalam tongkol ada bunga jantan dan betina. Bunga jantan dan bunga betina terpisah. Masing-masing bunga tidak mempunyai kelopak, yang merupakan ciri tumbuhan primitif," tutur Yuzammi.

Sedangkan bagian yang mirip mahkota bunga disebut seludang, yang berfungsi melindungi calon buah jika terjadi pembuahan. Warnanya yang cerah juga menarik serangga penyerbuk.

Adapun bau busuk berfungsi untuk menarik perhatian serangga penyerbuk tertentu. Bunga Amorphophallus mekar pada malam hari sehingga membutuhkan serangga malam yang mampu terbang jauh seperti lebah, ngengat, atau lalat hijau — semuanya tertarik pada bau busuk.

Bisa dimakan

Salah satu riset yang tengah dilakukan di Kebun Raya Bogor adalah mengembangkan umbi dari bunga bangkai A. paeoniifolius menjadi sumber pangan fungsional.

Prinsipnya sama seperti singkong. Umbi mengandung pati yang merupakan sumber karbohidrat. Dan kendati julukan "bunga bangkai" yang disandang A. paeoniifolius membuat kita membayangkan bau tidak sedap, umbinya sama sekali tidak bau, kata Yuzammi.

Faktanya, menurut Yuzammi, umbi A. paeoniifolius telah dimanfaatkan beberapa warga di Jawa timur sebagai pangan selingan. "Cara memasaknya cukup dikukus dan diberi bumbu kelapa dan garam," ujarnya.

Namun Yuzammi mewanti-wanti bahwa tidak semua bunga bangkai bisa dimakan. Ada dua kultivar A. paeoniifolius, yaitu walur yang berbatang sangat kasar dan suweg yang batangnya tidak begitu kasar. Dari kedua itu, hanya suweg yang bisa dimakan karena kandungan oksalat di dalamnya lebih rendah sehingga tidak menimbulkan rasa gatal ketika dimakan.

Penelitian di Kebun Raya Bogor bermaksud menciptakan makanan yang lebih beragam. Sejauh ini, tim peneliti telah berhasil mengolah tepung dari umbi suweg menjadi berbagai penganan seperti cistik, brownies kukus, kue onde, dan opak.

"Kami juga sudah uji organoleptik (uji bau dan rasa) dan oke, masyarakat bisa menerima itu," ungkap Yuzammi.

Penelitian di IPB bahkan menemukan bahwa produk olahan suweg memiliki indeks glikemik yang rendah, sehingga bisa dimanfaatkan sebagai pangan utama bagi penderita diabetes.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini