MUI Khawatir Pembakaran Bendera Tauhid Bisa Menimbulkan Kegaduhan

Badriyanto, Okezone · Selasa 23 Oktober 2018 12:46 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 10 23 337 1967753 mui-khawatir-pembakaran-bendera-tauhid-bisa-menimbulkan-kegaduhan-ZD1MTkcFat.jpg Ilustrasi Majelis Ulama Indonesia (foto: Okezone)

JAKARTA - Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyayangkan aksi adanya pembakaran bendera oleh sejumlah oknum Barisan Ansor Serbaguna (Banser) di Garut, Jawa Barat. Ketua Harian MUI, Yunahar Ilyas menerangkan, bendera yang dibakar bukan milik Ormas Islam Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), melainkan bendera bertuliskan kalimat tauhid.

"Kita melihat yang dibakar itu adalah kalimat tauhid karena tidak ada simbol HTI di situ," kata Ketua Harian MUI, Yunahar Ilyas, di Kantor MUI Pusat, Jakarta, Selasa (23/10/2018).

(Baca Juga: Viral Video Bendera Tauhid Diduga Milik HTI Dibakar, Ridwan Kamil Bereaksi) 

Dia pun sangat menyesalkan pembakaran bendera berkalimat tauhid tersebut di dalam acara terbuka dan ditonton banyak orang. Yunahar pun khawatir hal tersebut dapat menimbulkan kegaduhan.

"Ini bisa menimbulkan kegaduhan. Ini peristiwa terjadi tidak dalam ruang kosong, kalau dalam ruang kosong tentu tidak akan menimbulkan kegaduhan," tegasnya.

Pembakaran Bendera Tauhid di Garut (foto: Ist) 

Sebelumnya, beredar video sekelompok orang membakar bendera berwarna hitam bertulis kalimat tauhid yang diduga bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Video yang viral di media sosial itu kemudian dikonfirmasi kebenarannya oleh pihak kepolisian.

"Yah benar, kejadiannya di Garut," tutur Kapolres Garut AKBP Budi Satria Wiguna, saat dikonfirmasi.

(Baca Juga: Terkait Pembakaran Bendera Tauhid, Karding: Yang Saya Tahu Banser Ingin Bakar Bendera HTI) 

Gubernur Jabar, Ridwan Kamil ikut angkat bicara atas kasus ini. Lewat akun Instagramnya, @ridwankamil menyesalkan aksi pembakaran bendera yang tertera kalimat tauhid di atasnya. Meski dia mengerti bahwa pembakaran tersebut dimaksudkan 'menghanguskan' simbol organisasi yang sudah dilarang Pemerintah, tapi menurutnya tetap saja 'tindakan tersebut sudah pasti memberikan multi tafsir'.

"Lain kali serahkan saja kepada aparat keamanan. Sebaiknya jika kita tidak suka terhadap sesuatu, belajarlah untuk menyampaikan pesan dengan adab dan cara yang baik. Bangsa kita harus naik kelas menjadi bangsa yang lebih mulia dan lebih beradab. Keberadaban kita dilihat dari cara kita menyampaikan pesan dan dilihat dari cara kita menyelesaikan perbedaan," tulis Ridwan Kamil.

(fid)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini