nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Belajar dari Kasus Ratna Sarumpaet, Pancasila Disebut Harus "Masuk" ke Medsos

Taufik Budi, Jurnalis · Minggu 14 Oktober 2018 20:51 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 10 14 337 1963948 belajar-dari-kasus-ratna-sarumpaet-pancasila-disebut-harus-masuk-ke-medsos-VqXQJY9oQJ.jpg Foto: Shutterstock

SEMARANG - Media sosial menjelang pemilu dianggap penuh dengan hoax dan ujaran kebencian. Konflik di tatanan digital itu memicu perpecahan dan sektarianisme di tengah masyarakat.

Tentu masih belum hilang di ingatan perihal aktivis Ratna Sarumpaet yang menyebar hoax dengan mudahnya melalui perantara media sosial (medsos). Lewat jejaring digital pula, kasus tersebut menimbulkan deretan konflik di masyarakat.

Hoax terkait penganiayaan tersebut pun dengan cepat terbongkar kepolisiaan. Lagi-lagi, kabar terbongkarnya kebohongan Ratna menyebar di media sosial. Mirisnya, tersiarnya kabar tersebut kadang dibumbui kalimat-kalimat provokatif yang memicu konflik di dunia maya.

Koordinator Komunitas Bela Indonesia (KBI), Anick HT menjelaskan bahwa pangkal keributan di media sosial adalah tak adanya kesadaran masyarakat untuk menerapkan Pancasila di dunia maya. Privasi di media sosial dianggap sudah aman bagi sebagaian masyarakat untuk berbicara dan menuliskan kata-kata ujaran kebencian seenaknya.

"Konten positif yang berorientasi menjaga ideologi kebangsaan perlu dikampanyekan seluas-luasnya," ujar Anieck di sela pelatihan Juru Bicara Pancasila di Hotel Quest Semarang, Jawa Tengah, Minggu (14/10/2018).

Pelatihan jubir Pancasila sendiri dilakukan di 25 provinsi di Indonesia dan telah dilakukan di tujuh provinsi lainnya sebelum Jawa Tengah, dan diprediksi akan rampung pada Desember 2018.

Menurut Anieck, memudarnya kesadaran masyarakat untuk meneguhkan Pancasila sebagai ideologi perekat bangsa membuat banyak pihak prihatin.

Sehingga pelatihan jubir Pancasila dilakukan lantaran menguatnya sektarianisme dan politisasi agama yang membuktikan bahwa falsafah kebangsaan yang dirumuskan oleh para pendiri bangsa sudah mulai tergerus dan cenderung relatif dilupakan, terutama pasca-Orde Baru.

(Baca juga: Ini 6 Informasi Hoax yang Fenomenal hingga Telan Korban Jiwa)

Anick memastikan bahwa pelatihan Jubir Pancasila ini telah cukup matang dipersiapkan. Pasalnya, KBI sebagai penyelenggara telah lebih dulu membuat buku rujukan utama yang berjudul 'Rumah Bersama Kita Bernama Indonesia', yang ditulis oleh Denny JA.

Buku ini juga bisa menjadi panduan teoretis bagi masyarakat umum untuk memahami Pancasila dalam konteks kekinian yang pro terhadap hak asasi manusia dan sistem demokrasi modern.

Lebih lanjut, Anick menerangkan bahwa pelatihan Jubir Pancasila ini juga mempertemukan kaum lintas agama dalam satu kemah bersama untuk merekatkan dan menjembatani anak-anak muda serta generasi milenial dengan latar belakang yang beragam untuk berinteraksi dan memperbincangkan keberagaman.

(Baca Juga: 7 Ciri Berita Hoax, Seperti Ini Lho)

"Selain penguatan isu kebangsaan, teman-teman juga akan dilatih skill penulisan, berdebat serta manajemen media sosial. Pengelolaan media sosial menjadi poin penting dalam pelatihan ini. Kita akan sama-sama mengampanyekan Pancasila di media sosial," tambah Anick.

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini