Share

Rupiah Melemah, Ini Saran Tim Ekonomi Prabowo-Sandi ke Pemerintah

Bayu Septianto, Okezone · Sabtu 06 Oktober 2018 04:11 WIB
https: img.okezone.com content 2018 10 06 337 1960428 rupiah-melemah-ini-saran-tim-ekonomi-prabowo-sandi-ke-pemerintah-hjSWZ2UAl0.jpg Rizal Ramli. (Foto: Bayu S/Okezone)

JAKARTA - Nilai tukar Rupiah mengalami pelemahan dalam beberapa hari ini. Bahkan nilai tukarnya terhadap Dolar Amerika Serikat sudah menyentuh angka Rp15.100 per 1 USD.

Ahli-ahli ekonomi yang tergabung dalam tim ekonomi pasangan capres-cawapres nomor urut 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno menyarankan beberapa strategi agar rupiah tak terus menerus melemah.

"Kita juga harus introspeksi bahwa diri kita sendiri harus kita bikin sehat. Kita harus bikin langkah-langkah agar supaya krisis ini berkurang," ujar anggota tim ekonomi Prabowo-Sandiaga, Rizal Ramli di kediaman Prabowo, Jalan Kertenegara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat 5 Oktober 2018 malam.

"Walaupun kami bukan lagi bagian dari bagian pemerintah menurut kami ada cara asal berani," imbuhnya.

Rizal mengatakan, cara pertama yang bisa dilakukan adalah mengurangi impor komoditi yang tergolong besar atau menaikkan besaran pajaknya. salah satu terhadap komoditi baja.

"Kami sarankan pemerintah, kita bantu, yaitu kurangi impor fokus kepada sepuluh item yang paling besar. Apa itu? Itu tuh 67 persen dari impor kita. Salah satu contohnya adalah impor baja. China bajanya kebanyakan, ekses capacity, banyak dijual di Indonesia dengan harga sangat murah," jelasnya.

(Baca juga: Rupiah Anjlok Rp15.100/USD, Menko Darmin 'Salahkan' Kuatnya Ekonomi Amerika)

"Kami minta pemerintah pemerintah laksanakan memberikan tarif anti dumping sebesar 25 persen terhadap produk baja dan turunannya. Otomatis baja impor akan turun, impor kita akan turun 5 M dolar," tambahnya.

Mantan Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan dan Industri era Presiden Abdurrahman Wahid itu juga berharap pemerintah Indonesia segera menaikkan pajak impor untuk mobil dan produk mobil lainnya.

Ilustrasi.

Ia meminta pemerintah segera melobi Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe sebagai salah satu negara pengimpor mobil terbesar di Indonesia.

"Kami minta Pemerintah jangan beraninya sama yang kecil doang, pedagang menengah kecil yang dagang tas, dagang lipstik, tas, baju, berani juga sama yang besar. Tentu harus diikuti dengan lobi. Bicara sama PM Abe, janganlah impor mobil. Kita butuh dua tahun tiga tahun, nanti kita balikkan lagi suasananya," ucap Rizal.

Rizal juga meminta pemerintah untuk mewajibkan tidak hanya mengajak sukarela, para pengusaha membawa pulang devisa hasil ekspor.

"Hari ini yang masuk hanya 20%, sisanya ditaruh di Singapura, Hong Kong. Kita wajibkan supaya semua eksportir masuk ke dalam. Saya tahu pemerintah mengajak beberapa pengusaha untuk memakai rupiah, tapi itu tidak memadai, kita harus ada di depan kurva untuk bisa keluar dari krisis ini," tukas Rizal.

(qlh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini