nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

"Menjaga Etika Peliputan Bencana, Menumbuhkan Harapan Bersama"

Fadel Prayoga, Jurnalis · Minggu 30 September 2018 14:04 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 09 30 337 1957641 menjaga-etika-peliputan-bencana-menumbuhkan-harapan-bersama-gwZDme2Q9R.jpg Dampak gempa di Kabupaten Donggala. (Foto: Ist)

JAKARTA – Bangsa ini sedang dirundung duka mendalam. Hampir berturut-turut bencana alam berupa gempa dan tsunami melanda sejumlah wilayah di Indonesia.

Pada akhir Juli lalu gempa berkekuatan 6,5 skala richter (SR) melanda Pulau Lombok dan sekitarnya di Nusa Tenggara Barat. Kemudian akhir September ini, gempa 7,4 SR melanda wilayah Donggala dan Palu di Sulawesi Tengah.

Kali ini gempa disertai gelombang tsunami di sejumlah pesisir pantai di kedua kota tersebut. Tentu saja bencana tersebut menjadi perhatian seluruh media di Tanah Air.

Gempa Palu. (Foto: Reuters)

Dalam kondisi ini media dan jurnalis memiliki tugas dan tanggung jawab untuk ikut serta menyampaikan informasi sebaik dan seakurat mungkin terkait bencana kepada publik. Tidak sedikit media yang cenderung mengeksploitasi tragedi ini dalam tayangan yang dibuat.

Oleh karena itu, Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) menyampaikan dan menyerukan beberapa hal terkait peliputan bencana, Minggu (30/9/2018):

1. IJTI menyampaikan duka yang mendalam bagi para korban yang tertimpa bencana.

2. Menyerukan kepada seluruh jurnalis TV dalam meliput bencana harus berpegang teguh pada KEJ serta P3SPS.

3. Tidak mengeksploitasi visual korban bencana dengan menayangkan secara berulang-ulang, terutama visual tsunami yang ditayangkan dalam filler.

4. Menjaga sopan santun, etika, dan empati kepada korban saat meliput di lokasi bencana.

5. Tugas jurnalis adalah menggali, mendapatkan dan menyebarkan informasi yang terverifikasi dari lokasi bencana, terutama tentang jaminan hidup, keamanan, dan optimisme penanganan dari pemerintah untuk korban, serta informasi keluarga.

6. Sajikan informasi yang akurat dan dapat dipertanggjawabkan menjadi rujukan bagi pemerintah untuk mengambil keputusan tepat dalam penanganan korban gempa-tsunami.

7. Saat melakukan wawancara live, terutama wawancara dengan korban, harus hati-hati dan memegang teguh etika.

8. Sajikan informasi yang bisa menumbuhkan semangat bagi korban gempa untuk bangkit pascabencana.

9. Jurnalis ikut mengawasi dan mengawal kebijakan pemerintah dalam penanganan korban pascagempa sehingga efektif dan tepat sasaran.

10. Bagi jurnalis yang sedang bertugas di lokasi bencana harap mengutamakan keselamatan diri (safety first).

(han)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini