Menilik Pembukaan Ruang dari Soekarno hingga Terjadi Peristiwa G30S/PKI

Puteranegara Batubara, Okezone · Sabtu 29 September 2018 10:07 WIB
https: img.okezone.com content 2018 09 29 337 1957276 menilik-pembukaan-ruang-dari-soekarno-hingga-terjadi-peristiwa-g30s-pki-LdsZ3EAJtC.jpg (Foto: Putera/Okezone)

JAKARTA - Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia atau dikenal (G30S/PKI) menjadi salah satu memoar kelam yang pernah dialami Bangsa Indonesia. Tujuh pahlawan revolusi menjadi segelintir orang yang menjadi korban peristiwa berdarah tersebut.

Jenderal Ahmad Yani, Letjen Suprapto, Letjen M T Haryono, Letjen S. Parman, Mayjen D. I. Pandjaitan, Mayjen Sutoyo Siswomiharjo dan Kapten Pierre Tendean, pahlawan bangsa yang diculik, disiksa dan dimasukan ke dalam lubang berukuran kecil --Lubang Buaya-- oleh bangsanya sendiri.

Sejarawan Anhar Gonggong menyatakan, terjadinya tragedi itu merupakan salah satu dinamika kebangsaan yang terjadi ketika masa Soekarno. Di era itu, Bung Karno sempat membuat celah hidupnya seluruh idiologi di Indonesia. Termasuk komunisme melalui PKI.

"Bung Karno merumuskan idenya yang ditulis tahun 1926. Bung Karno menulis tentang Nasionalisme, Islamisme, Marxisme," kata Anhar kepada Okezone.

Setelah menuliskan itu, Bung Karno pun mengeluarkan persekutuan Konsepsi Nasionalis, Agama dan Komunis yang dinamakan NASAKOM. Gagasan tersebut yang juga menjadi gerbang pintu masuk semua paham bergerak di Indonesia untuk mencari ruang dengan gayanya masing-masing.

"Itu dirumuskan kembali setelah dia punya kekuasaan menjadi NASAKOM. Itu artinya apa bagi PKI? ruangnya terbuka, bagi NU dan Islam terbuka, bagi nasionalis TNI terbuka tinggal bagaimana gunakan ruang itu kan," tutur Anhar.

Dengan adanya ruangan itu, dijadikan landasan PKI untuk mencari ruang mengepakan sayapnya. Pergerakan itu akan bermuara pada satu titik. Perebutan kekuasaan tertinggi di Indonesia.

"Golongan tertentu menganggap apa yang dilakukan PKI itu adalah sesuatu menuju pada mengambil kekuasaan persoalannya hanya disitu perebutan kekuasaan dan tidak ada idiologi didalam konteks waktu itu tidak berusaha mendapatkan ruang dan kekuasaan itu," papar Anhar.

Paham komunis begitu berkembang pesat di Indonesia. Terutama dikalangan kelas pekerja, buruh dan tani. Melalui PKI, paham komunis di Indonesia menjadi terbesar ke tiga dunia setelah Uni Soviet dan China.

Pengikutnya diprediksi mencapai jutaan orang. Baik anggota ataupun simpatisan. Hal itu didukung oleh doktrin komunis yang mengedepankan kepemilikan bersama dan tanpa adanya perbedaan kelas di masyarakat. Kondisi sosial selepas perebutan kemerdekaan menjadi celah masuknya paham itu juga.

Selain kondisi dalam negeri sedemikian rupa, mengakarnya doktrin PKI di Indonesia juga didukung oleh keadaan politik dari negara luar. Kala itu, terdapat istilah blok barat dan blok timur.

Blok barat dikomandoi Amerika Serikat dan sekutunya, sedangkan blok timur dipimpin oleh Uni Soviet. Dua kubu magnet berseberangan itu, sama-sama mempengaruhi negara-negara berkembang. Termasuk Indonesia.

"Dua-duanya berebut kekuasan dan pengaruhi megara berkembang seperti kita juga (Indonesia)," ucap Anhar.

Usaha perebutan kekuasaan kala itu memang didukung oleh kondisi Indonesia yang masih terus berkembang setelah perebutan kemerdekaan dari segala bentuk penjajahan. Disaat itulah, ada beberapa pihak yang menunggangi pergerakan dari PKI ketika 1 Oktober 1965 tengah malam.

"Pada akhirnya akhir pada itu PKI dengan didukung oleh berbagai pihak entah ada didalam pemerintah atau di lingkungan TNI AD, AU, dan AL. Akhirnya terjadi G30S/PKI," tutur Anhar.

Meskipun pada akhirnya, seluruh antek-antek PKI kalah dalam "perebutan kekuasaan" tersebut. Mereka diadili, ditangkap bahkan dihilangkan.

(aky)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini