nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Menelusuri Jejak "Kudeta" Berdarah G30S PKI

Puteranegara Batubara, Jurnalis · Sabtu 29 September 2018 09:01 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 09 28 337 1957044 menelusuri-jejak-kudeta-berdarah-g30s-pki-56F63c4DVD.jpeg Gedung bekas markas komite sentral PKI di Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat (Putera/Okezone)

GEDUNG berlantai lima di pinggir Jalan Kramat Raya V, Senen, Jakarta Pusat, masih berdiri kokoh, namun tak terawat. Sampah berserakan di sana-sani, tanaman liar merambat di sekitar dan sela dinding kusam. Aksi vandalism juga kentara di bangunan bekas markas komite sentral (CC) Partai Komunis Indonesia (PKI).

Bangunan tersebut pada era 1950-an menjadi tempat rapat PKI. Mulai dari Ketua Umum PKI D.N Aidit sampai Komandan Batalyon I Tjakrabirawa Letkol Untung kerap hadir di sana.

"Warga sini semua tahu kalau ini dulu tempat PKI," kata Amrozi (40), warga Kramat Lontar saat berbincang dengan Okezone, Selasa 25 September lalu.

Di saat PKI runtuh pada 1965, masyarakat yang tak sepaham dengan idiologi komunis menyerbu, membumihanguskan bangunannya. Kini gedung itu kosong tak berpenghuni. Sebagian warga menyebutnya sebagai ‘gedung berhantu’ karena meyakini arwah anggota PKI yang tewas dibantai di lokasi tersebut masih “bergentayangan”.

"Sekarang gedung ini tak ada aktivitas apapun. Malah, warga agak takut kalau harus masuk ke dalam, karena seram," cerita Amrozi yang sedari kecil tinggal di Kramat Raya.

Gedung bekas markas komite sentral PKI (Putera/Okezone)

Gedung di Jalan Kramat itu merupakan salah satu jejak sejarah yang digoreskan dari hegemoni PKI kala itu.

PKI merupakan partai politik beraliran komunis non penguasa terbesar di dunia setelah Uni Soviet dan China. Partai berlogo palu arit yang dipelopori sosialis Belanda, Henk Sneevliet itu memiliki basis massa militan dan kuat hingga ke akar rumput.

Masa jaya PKI berakhir pada 1965. PKI, oleh Orde Baru, dituduh sebagai dalang dari aksi penculikan dan pembantaian tujuh perwira tinggi Angkatan Darat sebagai upaya untuk merebut kekuasan atau kudeta yang dikenal dengan Gerakan 30 September. Tuduhan ini memang sempat menimbulkan perdebatan.

Setelah “kudeta” gagal, orang-orang yang dituduh PKI ditangkap lalu partai tersebut dinyatakan terlarang di Indonesia. Soeharto yang naik tahta setelah pecahnya G30S, sama sekali tak memberi ruang ke simpatisan PKI.

Untuk mengenang sejarah “kudeta berdarah” tersebut, dibangunlah Monumen Pancasila Sakti atau Lubang Buaya dan Museum Sasmitaloka, Menteng, Jakarta. Lokasi itu dianggap saksi bisu G30S PKI pada 53 tahun lalu.

G30S juga dikenal dengan Gerakan Satu Oktober (Gestok) persitiwa sejarah yang terjadi pada malam 30 September-1 Oktober 1965. Menurut riwayat yang berkembang masa Orde Baru, secara senyap dan cepat, pasukan Tjakrabirawa di bawah komando Letkol Untung, meculik enam jenderal dan satu perwira AD lalu membunuhnya.

Serambi Penyiksaan (Putera/Okezone)

Mereka yang jadi korban adalah Jenderal Ahmad Yani, Letjen Suprapto, Letjen M T Haryono, Letjen S. Parman, Mayjen D. I. Pandjaitan, Mayjen Sutoyo Siswomiharjo dan Kapten Pierre Tendean.

Aksi itu diyakini buntut dari munculnya Dewan Jenderal yang dituding ingin menggulingkan kepemimpinan Presiden Soekarno. PKI bereaksi dengan menghabiskan orang-orang di dalam dewan tersebut.

PKI dianggap dekat dengan Soekarno. Sang Presiden memberi ruang bagi politik PKI dengan mencetuskan konsepsi politik nasionalis, agama dan komunis atau Nasakom.

"Itu menunjukan bahwa ketika suatu ruang terbuka semua golongan idiologi maka kemungkinan merebut kekuasaan pasti terjadi," kata Sejarawan Anhar Gonggong kepada Okezone, Kamis 27 September 2018.

Sumur Maut (Putera/Okezone)

Tjakrabira sebagai pasukan elite pengawal Presiden dituding berlindung di balik nama Soekarno, saat menggulirkan G30S, mengincar para perwira tinggi AD.

Jenderal AH Nasution yang masuk salah satu target berhasil meloloskan diri. Namun, putri kandungnya Ade Irma Suryana dan ajudannya Kapten Pierre Tendean meninggal.

Enam jenderal yang diculik jasadnya dikubur di Lubang Buaya, Jakarta Timur. Sejarah versi Orde Baru menyebutkan bahwa para jenderal disiksa dengan kejam oleh para ‘PKI’ sebelum dikubur. Sejarah itu difilmkan dengan judul ‘Pengkhianatan G30S PKI’ dan diputar secara nasional tiap malam 30 September.

Setelah pemerintahan Soeharto tumbang, beberapa kalangan mulai meluruskan sejarah G30S PKI. Bahkan ada yang membuat film baru untuk menyangkal hal-hal dianggap rekayasa di film ‘Pengkhianatan G30S PKI’.

Guna mengenang sejarah kelam agar tak terulang, lokasi pembantaian itu di monumenkan di Lubang Buaya dengan nama Sumur Maut dan Serambi Penyiksaan. Dahulu, kawasan itu hanyalah lahan pohon karet dan sepi dari aktivitas warga.

Sekarang lokasi itu sudah jadi salah satu objek wisata sejarah yang sering dikunjungi warga. Area tersebut juga sudah dipugar, ada taman-taman yang asri dan pepohonan rindang. Di sekelilingnya juga sudah banyak rumah warga. Tak ada kesan seram lagi.

Sumur maut merupakan tempat jasad enam jenderal dikuburkan Tjakrabirawa setelah dibunuh. Kini tempat itu sudah disemen, dicat, diterangi cahaya lampu dan dilengkapi prasasti “Tjita2 perdjuangan kami untuk menegakkan kemurnian pantja-sila tidak mungkin dipatahkan hanja dengan mengubur kami dalam sumur ini”.

Sedangkan Serambi Penyiksaan diyakini sebagai tempat enam jenderal dihabisi sebelum diseret ke lubang buaya. Di situ kini sudah berdiri patung-patung lilin yang menggambarkan aksi kekerasan terhadap para jenderal.

Turut dibangun juga monument dengan patung tujuh pahlawan revolusi yang meninggal dalam peristiwa G30S berdiri di bawah burung Garuda.

G30S PKI menyisakan sejarah kelam. Selain pembunuhan terhadap para pahlawan revolusi, juga ada aksi pemberangusan terhadap orang-orang dituduh PKI yang menimbulkan korban tak sedikit.

Soeharto yang naik jadi Panglima Angkatan Darat saat itu langsung bergerak menekan power PKI. Orang-orang yang dianggap berafiliasi PKI ditangkap dan dieksekusi. Sampai kini, belum diketahui jumlah pasti korban dari aksi tersebut.

Siapa aktor intelektual di balik G30S PKI?

"Sampai sekarang belum ketemu, tapi saya yakin PKI terlibat dan ambil peranan,” kata Anhar. “Proses berbagai hal dari tahun 1960-1965 memang tidak bisa disangkal."

Menurutnya G30S tak lepas dari perang dingin antara Blok Barat dipimpin Amerika Serikat dengan Blok Timur di bawah Uni Soviet.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini