Share

Menelisik Hikayat Pos di Indonesia, Direbut dari Jepang hingga "Mati Suri" di Awal Milenium

CDB Yudistira, Okezone · Kamis 27 September 2018 19:10 WIB
https: img.okezone.com content 2018 09 27 337 1956540 menelisik-hikayat-pos-di-indonesia-direbut-dari-jepang-hingga-mati-suri-di-awal-milenium-6aqm7nw4qq.jpg Ilustrasi (Foto: Dokumentasi Okezone)

BANDUNG - Tahun 2000-2008 bisa dibilang sebagai tahun neraka bagi PT Pos Indonesia. Awal zaman milenium membuat orang bergerak ke arah teknologi yang lebih modern. Telefon dan SMS yang tengah maju pada masa itu, langsung "membunuh" bisnis surat menyurat yang bahkan sudah digandrungi semenjak masa kolonial Belanda.

Dunia perposan yang sempat gagap teknologi, disebut merugi tiap tahunnya. Bahkan Marketeers.com mencatat periode 2004-2008, PT Pos merugi hingga Rp606,5 miliar, sebuah angka yang fantastis untuk sebuah perusahaan yang pernah disebut sebagai "raksasa" dengan lokasi layanan yang mencapai 24.000 titik di seluruh Indonesia.

Perposan Indonesia mulai bangun dari "mati suri" usai hadirnya UU No 38 tahun 2009. Dalam peraturan tersebut, PT Pos "dilepas" pemerintah untuk mengurus dirinya sendiri dengan liberisasi bisnis. PT Pos pun masuk dalam segmen bisnis lain seperti properti, jasa pengiriman logistik, jasa pembayaran, hingga jasa pengiriman uang baik di dalam maupun luar negeri.

Namun, perjuangan perposan Indonesia di interval 2000-2008 dikatakan belum seberapa dibanding upaya merebut perusahaan pos yang dibangun pemerintahan Belanda pada masa Gubernur Jenderal VOC, G. W. Baron Van Imhoff, 26 Agustus 1746 di Batavia (kini Jakarta).

Pada tanggal 27 September 1945, kantor pos yang dahulu bernama Jawatan Pos, Telegrap dan Telepon (PTT) masih dikuasai Jepang dan urung diberikan ke Pemerintahan Indonesia, padahal sudah sebulan lamanya Indonesia mendeklarasikan kemerdekaannya.

Pada saat itu di dalam Kantor Jawatan PTT muncul beberapa pemuda di bawah pimpinan Soewondo. Mereka menurunkan bendera Jepang, dan sebagai gantinya mereka mengibarkan Bendera Merah Putih pada tiang listrik.

Massa yang menjadi saksi mata dalam peristiwa yang mengakhiri kekuasaan kolonial Kantor Pusat PTT segera mengumandangkan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya. Seluruh Jawatan PTT dengan semua eselonnya memberikan kontribusi dalam melaksanakan amanat Proklamasi Kemerdekaan yaitu : “Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain diselenggarakan denga cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya”.

Pasukan peruntuh tanggul melanjutkan pekerjaannya. Gedung Kantor Pusat PTT siang malam dijaga oleh para pemuda. Mulai keesokan harinya bekas pimpinan Jepang tidak diperkenankan lagi masuk kantor. Mereka disuruh tinggal dirumah mereka yang telah ditempeli tulisan : Milik Republik Indonesia.

Peristiwa pengambil alihan Jawatan PTT dari tangan Jepang oleh Angkatan Muda PTT pada tanggal 27 September 1945 diperingati sebagai Hari Bhakti Postel. Dengan demikian setiap tahun tanggal 27 September dilaksanakan Upacara Bendera Hari Bhakti Postel dan diperingati dengan berbagai kegiatan antara lain pemberian penghargaan Adhi Karya, Bhakti Sosial, olah raga dan lain sebagainya.

Kini, 73 tahun usai perebutan Jawatan PTT, dunia perposan Indonesia masih menyambutnya dengan suka cita. PJS VP Marketing Communication PT Pos Indonesia, Tata Sugiarta menjelaskan, puncak Hari Bhakti Postel ke-73 mengambil tema “Ekonomi Digital untuk Kesejahteraan Bangsa”.

Tema itu, jelas Tata, bertolak dari diambil-alihnya Jawatan PTT dari kekuasaan pemerintahan Jepang oleh putra putri Indonesia yang tergabung dalam Angkatan Muda Pos Telegrap dan Telepon (AMPTT) pada tanggal 27 September 1945.

"Pada peringatan tahun ini komunitas Postel bermaksud melebarkan cakupan stakeholder yang terlibat dalam kegiatan ini, yang tidak terbatas di kalangan industri Pos dan Telekomunikasi saja tetapi lebih kepada kalangan industri digital secara lebih luas," ucap Tata.

Selain peringatan yang bersifat seremonial, Hari Bhakti Postel juga menyelenggarakan turnamen futsal di Jakarta dan kompetisi lagi di Nusa Dua Bali. Kegiatan lomba lari menempuh jarak 7,3 kilometer ini diikuti lebih dari 400 peserta baik putra maupun putri dari segala usia dari dalam dan luar negeri ikut dalam Bali Digi Run.

Puncak kegiatan Hari Bhakti Postel ke-73 dilaksanakan kegiatan upacara di halaman kantor pusat PTT (yang saat ini menjadi Kantor Pusat Pos Indonesia) Jalan Cilaki Nomor 73 Bandung pada Kamis (27/9/2018). Juga nantinya ada beberapa donor darah di beberapa titik Kota Bandung, Jawa Barat.

"Dalam upacara peringatan dilakukan pula penandatanganan Sampul Peringatan Hari Bhakti Postel ke-73 serta penyerahan tali kasih kepada pinisepuh anggota AMPTT-KVK LVRI," ungkap Tata.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini