BNPB Gelar Kongres Nasional Bahasa Isyarat Indonesia

Fadel Prayoga, Okezone · Kamis 27 September 2018 13:39 WIB
https: img.okezone.com content 2018 09 27 337 1956313 bnpb-gelar-kongres-nasional-bahasa-isyarat-indonesia-uwmCbmcLek.jpg BNPB menggelar kongres bahasa isyarat Indonesia bagi penyandang Tuna Rungu (Foto: Fadel/Okezone)

JAKARTA - Masyarakat yang menyandang Tuli/Disabilitas Rungu/Tuna Rungu kerap kali menjadi korban dalam suatu bencana. Demi mengurangi jumlah korban jiwa, BNPB menggelar Kongres Nasional Bahasa Isyarat Indonesia dalam penanggulangan bencana, Kamis (27/9/2018) hingga Jumat 28 September 2018 di Kantor BNPB, Jakarta Timur.

"Ini merupakan kongres pertama di Indonesia di mana masyarakat Tuna Rungu berkumpul dan membicarakan kontribusi mereka bagi penanggulangan bencana di Indonesia," kata Direktur Pemberdayaan Masyarakat BNPB, Lilik Kurniawan di lokasi.

Tujuan utama kegiatan ini adalah untuk membangun kesepakatan tentang bagaimana mengembangkan kosa isyarat dalam penangulangan bencana agar mereka, dapat berperan aktif dalam penanggulangan bencana.

"Total peserta yang hadir dalam kongres ini adalah 213 orang. Kegiatan ini digelar bersama organisasi yang peduli dengan keterlibatan masyarakat Tuli, Disabilitas Rungu atau Tuna Rungu," ujarnya.

Lilik menambahkan, hasil dari kosa isyarat yang telah disepakati, bukan hanya digunakam untuk orang tuli atau disabilitas rungu saja, tetapi juga oleh para pelaku penanggulangan bencana. Sehingga, nanti akan keluar keseragaman ihwal bahasa isyarat kepada masyarakat Tuli.

"Kita mengetahui bahwa di setiap daerah, bahasa isyarat berbeda-beda yang digunakan oleh masyarakat Tuli/Disabilitas Rungu berbeda-beda. Demikian juga dengan kosa isyarat penanggulangan bencana berbeda-beda," terangnya.

Saat ini mayoritas peringatan dini di Indonesia berbasis suara, padahal orang tuli itu tidak dapat mendengar. Nantinya, akan ada penambahan item dalam sistem peringatan bencana dengan, yaitu diberikannya sebuah lampu untuk menandakan adanya bencana alam di kawasan sekitarnya.

"Tentu saja peringatan dini ini tidak dapat diakses oleh orang Tuli. Padahal bisa saja peringatan itu sangat menentukan keselamatan diri mereka," kata Lilik.

Menurut dia, acara ini merupakan tonggak sejarah yang penting. Karena itu, bagi orang dengar, sudah waktunya untuk mulai belajar bahasa isyarat dan menerobos sekat-sekat komunikasi.

"Mari kita belajar kosa isyarat tersebut, sebagai komitmen kita untuk membangun masyarakat tangguh dan tidak seorangpun yang ditinggalkan," pungkasnya.

(aky)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini