nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ada Sel Tahanan, SMK di Batam Salah Kaprah soal Bimbingan Konseling

Puteranegara Batubara, Jurnalis · Sabtu 15 September 2018 07:28 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 09 15 337 1950779 ada-sel-tahanan-smk-di-batam-salah-kaprah-soal-bimbingan-konseling-M96yWvIxDX.jpg Ilustrasi Foto/Okezone

JAKARTA - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menilai pembina Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) swasta di Batam, Kepulauaan Riau, salah kaprah soal pemberian bimbingan konseling terhadap siswanya.

SMK di Batam menjadi sorotan lantaran telah ditemukannya sel tahanan di dalam sekolah tersebut. Ruang tersebut akan dijadikan tempat dihukumnya siswa yang melakukan kesalahan.

"Secara fisik ruang konseling dan pembinaan mental tersebut jauh dari nyaman apalagi ramah anak. Ruangan itu lebih terlihat seperti gudang," kata Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti kepada Okezone, Jakarta, Sabtu (15/9/2018).

Menurut Retno, jika membandingkan dengan ruangan konseling yang pernah didatangi KPAI di beberapa sekolah, seperti di SMAN 3 Jakarta, SMAN 13 Jakarta, SMAN 1 Semarang dan SMP Dwijendra Bali, yang sangat nyaman, disertai pendingin udara, sofa dan ruang konseling yang di sekat-sekat agar lebih privat saat konseling.

"Maka ruangan konseling milik SPN Dirgantara Batam dapat dikatakan kurang layak menjadi ruang konseling," tutur Retno.

Berpedoman pada definisi dan tujuan konseling, kata Retno, maka ruangan konseling SPN Dirgantara Batam menggambarkan kekeliruan berpikir tentang makna konseling bagi peserta didik sebagaimana definisi konseling dan tujuannya.

"Proses pemberian bantuan yang dilakukan secara tatap muka oleh seorang ahli (disebut konselor/Guru BK)) kepada individu/siswa yang sedang mengalami sesuatu masalah (disebut konseli) yang tertuju pada teratasinya masalah yang dihadapi konseli, serta dapat memanfaatkan berbagai potensi yang dimilikinya," jelas Retno.

Secara Umum, sambung Retno, bimbingan konseling di sekolah bertujuan membantu peserta didik agar memiliki kompetensi mengembangkan potensi dirinya seoptimal mungkin atau mewujudkan nilai-nilai yang terkandung dalam tugas-tugas perkembangan yang harus dikuasainya sebaik mungkin.

"Konseling semestinya bukan hanya untuk anak yang melanggar aturan.

Karena yang butuh konseling tidak hanya anak-anak yang melanggar aturan saja. Setiap anak di sekolah kemungkinan memiliki masalah pribadi yang berpotensi membutuhkan konseling," papar dia.

Konseling, menurut Retno, sejatinya bukan menghukum siswa yang bermasalah tetapi membantunya keluar dari masalahnya sehingga bisa menyadari kesalahannya, memahami konsep dirinya dan bisa mengoptimalkan potensi dirinya.

"Ruang konseling bukan untuk mengurung siswa yang melanggar aturan, karena KPPAD KEPRI sudah dua kali membebaskan siswa SPN Dirgantara Batam yang sudah ditahan di ruangan konseling itu selama lebih dari 24 jam," ujar Retno.

(fzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini