nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Soal Penolakan UAS, PBNU: Hindari Kekerasan, Selesaikan dengan Musyawarah

Achmad Fardiansyah , Jurnalis · Selasa 04 September 2018 14:54 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 09 04 337 1945803 soal-penolakan-uas-pbnu-hindari-kekerasan-selesaikan-dengan-musyawarah-d0TMJNceR6.jpg Ketua Pengurus Harian PBNU Robikin Emnas (Foto: Okezone)

SEMARANG - Ustaz Abdul Somad (UAS) di berbagai daerah kerap kali mendapat penolakan oleh segelintir masyarakat. Bahkan, UAS mengaku mendapatkan ancaman dan intimidasi hingga membatalkan safari dakwahnya di Pulau Jawa.

Ketua Pengurus Harian PBNU, Robikin Emhas mengatakan, Indonesia merupakan negara demokrasi yang berdasarkan hukum, salah satunya UUD 1945. Salah satu yang dijamin oleh konstitusi adalah kebebasan berserikat, berkumpul dan menyatakan pendapat.

"Konsekuensinya, tidak ada pembatasan terhadap kebebasan berserikat, berkumpul dan menyatakan pendapat, kecuali dinyatakan lain oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku atau secara nyata dilarang oleh hukum," ujarnya melalui keterangan tertulisnya, Selasa (4/9/2018).

UAS

Demikian halnya dengan dakwah, sambung Robikin, dakwah merupakan suatu aktivitas untuk mengajak manusia agar mengenal Tuhan dengan baik, sehingga dapat membangun hubungan secara vertikal dengan benar dan baik.

Dari hubungan vertikal yang benar dan baik itu diharapkan manusia akan sanggup membangun hubungan yang harmonis dengan sesama manusia. Bahkan, dimungkinkan memiliki kesanggupan mengamban amanah sebagai khalifah di muka bumi.

Robikin menambahkan, harapannya kehidupan akan berjalan harmoni dan beradab. Untuk itu, aktivitas dakwah juga perlu memperhatikan kaedah dan etika dakwah. Yakni, dilakukan dengan lemah lembut dan bijaksana dengan mempertimbangkan kondisi sosial dan budaya masyarakat setempat.

"Dalam bingkai ke-Indonesia-an, selayaknya materi dakwah yang disampaikan juga dapat memupuk dan menumbuh-suburkan semangat nasionalisme. Saya berharap, jika di masyarakat didapati perbedaan pendapat mengenai aktivitas dakwah, selesaikan dengan musyawarah," tuturnya.

UAS

Robikin menegaskan, betapa pentingnya mengelola perbedaan tanpa menggunakan kekerasan. "Harus diingat, andai ada yang merasa tidak dapat dipersatukan oleh semangat nasionalisme dan agama yang sama misalnya, toh kita tetap saja bersaudara. Saudara sesama manusia. Bukankah kita adalah segaris seketurunan dari Adam? pungkasnya.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini