Ondel-Ondel Betawi Nasibmu Kini...

Badriyanto, Okezone · Sabtu 01 September 2018 09:01 WIB
https: img.okezone.com content 2018 08 31 337 1944287 ondel-ondel-betawi-nasibmu-kini-9mMf0Xxiyg.jpeg Ondel-ondel Betawi (Arif/Okezone)

Pengamen ondel-ondel kini menjamur di Jakarta. Pemainnya dari anak-anaka hingga orang dewasa. Karena persaingannya makin ketat, sebagian dari mereka mulai menyasar kota-kota penyangga.

Oval dan Riana misalnya. Keduanya kadang-kadang harus beraksi ke Kota Depok bahkan Bogor, menghibur orang-orang di sana untuk dapat uang.

Hidup di jalanan memang keras. Oval dan Riana sudah terbiasa merasakannya. Sekali waktu, keduanya nyaris dikeroyok sesama pengamen saat mengarak ondel-ondel di Meruya, Jakarta Barat. Karena dituduh menyerobot wilayah mereka, Oval dan Riana lalu dikejar kemudian gerobaknya ditabrak.

“Hampir saya dikeroyok rame-rame,” tutur Oval.

Selain berhadapan dengan preman jalanan, pengamen ondel-ondel juga sering diburu petugas Dinas Sosial maupun Satpol PP karena keberadaan mereka kerap dianggap mengganggu ketertiban.

 

Dita pernah merasakannya. Perempuan satu anak itu sudah tiga tahun mengamen ondel-ondel bersama suaminya, Komar. Dia dan teman-temannya harus main kucing-kucingan dengan petugas. Karena siang hingga sering razia, mereka biasanya baru bebas beraksi di pusat keramaian kota saat magrib tiba. Sebelum itu biasanya mengamen di permukiman.

Lima hari jelang bulan Ramadan lalu, Dita dkk pernah dikejar petugas Dinsos di kawasan Sarinah, Jakarta Pusat. Suaminya terjaring dan dibawa petugas. “Harus ditebus Rp1 juta baru keluar," kata Dita.

Uang sebanyak itu tak sedikit bagi Dita, karena dia sendiri masih menunggak kredit ondel-ondel.

Dalam sehari mengamen, Dita biasanya bisa mengumpulkan Rp400 ribu yang kemudian dibagi dengan rekan-rekannya. Belum lagi harus dicicil Rp60 ribu untuk pelunasan kredit ondel-ondel ke tetangganya. Dia belum sanggup beli ondel-ondel tunai karena harganya Rp2,5 juta.

Selain turun jalanan, Dita dan rekan-rekannya sesekali menerima undangan untuk tampil di hajatan sunatan maupun ulang tahun. “Tarifnya per jam, kalau saya per jamnya Rp200 ribu."

 

Sejarawan sekaligus budayawan Betawi, JJ Rizal mengatakan, atraksi ondel-ondel “mencari uang” di jalanan bukan sesuatu yang harus diperdebatkan. Ondel-ondel adalah sebuah kesenian.

"Masak kesenian enggak boleh memghidupi dirinya ketika pemerintah enggak peduli pada nasibnya yang merana tidak mendapat perhatian,” kata Rizal.

“Dari dulu ondel-ondel memang disawer sebagai tanda terima kasih karena telah bekerja menolak balak," lanjut peraih Anugerah Budaya Gubernur DKI Jakarta pada 2009 itu. (sal)

(aky)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini