Share

Ondel-Ondel Betawi Nasibmu Kini...

Badriyanto, Okezone · Sabtu 01 September 2018 09:01 WIB
https: img.okezone.com content 2018 08 31 337 1944287 ondel-ondel-betawi-nasibmu-kini-9mMf0Xxiyg.jpeg Ondel-ondel Betawi (Arif/Okezone)

SIANG itu, sinar mentari begitu menyengat, tapi tak menyurutkan semangat Oval dan Riana mengarak ondel-ondel. Pasangan suami-istri itu terus memainkan boneka raksasa khas Betawi diiringi alunan musik di tengah padatnya aktivitas warga sekitar Stasiun Tebet, Jakarta Selatan.

Aksi ondel-ondel ditampilkan Oval dan Riana menarik perhatian warga. Keduanya terus bergerak menyusuri jalanan, mengais rezeki untuk menyambung hidup, manafkahi putra-putrinya yang masih kecil. Cuaca hujan atau panas bukan penghalang.

Saat Oval bergerak dengan ondel-ondel dan musik dorong, Riana membawa kaleng menyasar orang-orang yang mau memberinya uang.

"Saya sudah dua tahun mengarak ondel-ondel begini, sejak kerjaan habis kontrak, dari pada nganggur, anak ada, bini ada,” tutur Oval saat ditemui Okezone, Selasa 28 Agustus lalu.

“Awalnya iseng-iseng saja eh keterusan deh. Kadang berdua sama istri, kadang bertiga ajak temen," lanjutnya.

Oval dulu bekerja di sebuah rumah makan, lalu kontraknya habis dan diperpanjang. Sudah beberapa kali melamar ke perusahaan lain, tapi nasibnya belum mujur. Karena anak-istri butuh makan, dia pun nekat mengamen dengan ondel-ondel.

 

Warga menyaksikan ondel-ondel (Okezone)

Oval dan Riana tinggal di rumah sederhana milik orangtuanya di Kelurahan Kramat, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat. Mereka biasanya membawa ondel-ondel dengan bajaj ke lokasi yang ingin disasar.

Ondel-ondel itu disewa dari tetangganya Rp50 ribu per hari. “Kalau sepasang cewek-cowok Rp100 ribu,” ujarnya.

Seharian beraksi, biasanya dia mendapat Rp200 ribu setelah dipotong biaya sewa dan ongkos bajaj. Dengan pendapatan segitu, dia harus pintar-pintar menutupi kebutuhan hidup keluarganya.

Pro-kontra

Ondel-ondel adalah seni budaya Betawi yang sering ditampilkan dalam pesta rakyat, hajatan pernikahan, sunatan hingga syukuran.

 

Menyolek ondel-ondel (Badriyanto/Okezone)

Boneka yang rata-rata tingginya 2 meter itu terbuat dari kayu kemudian dikenakan pakaian. Ondel-ondel perempuan biasanya wajah dicat putih. Yang laki-laki berkumis, wajahnya dicat berbeda-beda, biasanya merah. Orang harus masuk ke ondel-ondel untuk mengaraknya.

Riwayat menyebutkan ondel-ondel sudah ada sejak abad 16 Masehi. Dulu namanya barongan. Tampilannya serem, sering dipakai untuk ritual-ritual penolak bala atau mengusir roh jahat.

Seiring zaman, barongan pun berubah wujud lebih lucu dan unik dengan nama ondel-ondel. Dari panggung-panggung hiburan rakyat dan atraksi kebudayaan, ondel-ondel kini turun ke jalan. Kerap digunakan orang-orang untuk mengamen.

Ningsih, warga Tebet tak mempermasalahkan keberadaan pengamen ondel-ondel. "Ya enggak apa-apa, yang penting halal, lagian lumayan menghibur dan turut mengenalkan ondel-ondel kepada anak-anak kecil," ujarnya.

Awaluddin juga berpandangan serupa. Pria Betawi yang tinggal di Jakarta Barat itu menilai aksi ondel-ondel jalanan juga bagian dari “melestarikan kebudayaan Betawi agar orang-orang mengenal lebih dalam budaya Betawi.”

 

Ondel-ondel di jalanan (Badriyanto/Okezone)

Tapi, Fiddy sedih melihat ondel-ondel yang jadi kebanggaan Betawi malah dijadikan media mengemis. Tak jarang, kelompok ‘pengamen’ ondel-ondel juga melibatkan anak-anak.

“Saya agak miris saat melihat kelompok ondel-ondel itu seperti mengamen hampir tiap malam di kawasan Mampang (Prapatan). Apalagi sampai malam dan melibatkan anak-anak untuk meminta uang,” ujar warga Pancoran, Jakarta Selatan itu.

Baca Juga: KKP Pastikan Proses Hukum Pelaku Perdagangan Sirip Hiu Ilegal di Sulawesi Tenggara

Pengamen ondel-ondel kini menjamur di Jakarta. Pemainnya dari anak-anaka hingga orang dewasa. Karena persaingannya makin ketat, sebagian dari mereka mulai menyasar kota-kota penyangga.

Oval dan Riana misalnya. Keduanya kadang-kadang harus beraksi ke Kota Depok bahkan Bogor, menghibur orang-orang di sana untuk dapat uang.

Hidup di jalanan memang keras. Oval dan Riana sudah terbiasa merasakannya. Sekali waktu, keduanya nyaris dikeroyok sesama pengamen saat mengarak ondel-ondel di Meruya, Jakarta Barat. Karena dituduh menyerobot wilayah mereka, Oval dan Riana lalu dikejar kemudian gerobaknya ditabrak.

“Hampir saya dikeroyok rame-rame,” tutur Oval.

Selain berhadapan dengan preman jalanan, pengamen ondel-ondel juga sering diburu petugas Dinas Sosial maupun Satpol PP karena keberadaan mereka kerap dianggap mengganggu ketertiban.

 

Dita pernah merasakannya. Perempuan satu anak itu sudah tiga tahun mengamen ondel-ondel bersama suaminya, Komar. Dia dan teman-temannya harus main kucing-kucingan dengan petugas. Karena siang hingga sering razia, mereka biasanya baru bebas beraksi di pusat keramaian kota saat magrib tiba. Sebelum itu biasanya mengamen di permukiman.

Lima hari jelang bulan Ramadan lalu, Dita dkk pernah dikejar petugas Dinsos di kawasan Sarinah, Jakarta Pusat. Suaminya terjaring dan dibawa petugas. “Harus ditebus Rp1 juta baru keluar," kata Dita.

Uang sebanyak itu tak sedikit bagi Dita, karena dia sendiri masih menunggak kredit ondel-ondel.

Dalam sehari mengamen, Dita biasanya bisa mengumpulkan Rp400 ribu yang kemudian dibagi dengan rekan-rekannya. Belum lagi harus dicicil Rp60 ribu untuk pelunasan kredit ondel-ondel ke tetangganya. Dia belum sanggup beli ondel-ondel tunai karena harganya Rp2,5 juta.

Selain turun jalanan, Dita dan rekan-rekannya sesekali menerima undangan untuk tampil di hajatan sunatan maupun ulang tahun. “Tarifnya per jam, kalau saya per jamnya Rp200 ribu."

 

Sejarawan sekaligus budayawan Betawi, JJ Rizal mengatakan, atraksi ondel-ondel “mencari uang” di jalanan bukan sesuatu yang harus diperdebatkan. Ondel-ondel adalah sebuah kesenian.

"Masak kesenian enggak boleh memghidupi dirinya ketika pemerintah enggak peduli pada nasibnya yang merana tidak mendapat perhatian,” kata Rizal.

“Dari dulu ondel-ondel memang disawer sebagai tanda terima kasih karena telah bekerja menolak balak," lanjut peraih Anugerah Budaya Gubernur DKI Jakarta pada 2009 itu. (sal)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini