nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Din Syamsuddin Nilai Vonis 18 Bulan Penjara untuk Meiliana Terlalu Berat

Fahreza Rizky, Jurnalis · Minggu 26 Agustus 2018 13:27 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 08 26 337 1941558 din-syamsuddin-nilai-vonis-18-bulan-penjara-untuk-meiliana-terlalu-berat-At0flLWgmq.jpg Meiliana di sidang vonis kasus penistaan agama. (Foto: Okezone)

JAKARTA – Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsuddin buka suara atas vonis 18 bulan penjara kepada Meiliana, warga Tanjung Balai, Medan, Sumatera Utara, terkait kasus penistaan agama. Majelis Hakim Pengadilan Negeri Medan menilai Meiliana terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar Pasal 156 a KUHP karena mengeluhkan volume suara azan yang sedang berkumandang.

Din meminta semua pihak menghargai proses hukum yang berlaku, meskipun dirinya sendiri merasa hukuman itu berat. "Tentu kita harus menghargai hukum, walau saya pribadi merasa hukuman tersebut terlalu berat," kata Din kepada Okezone, Minggu (26/8/2018).

(Baca juga: Jokowi Dukung Meiliana Ajukan Banding)

Din Syamsuddin. (Foto: Okezone)

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah ini menerangkan, memprotes suara azan yang keras dan mengganggu tetangga bukanlah penistaan agama. Namun bila seseorang menyalahkan azan sebagai ritual keagamaan dengan penilaian negatif dan sinis, maka bisa dianggap menista.

"Pada hemat saya, memprotes suara azan yang keras dan mengganggu tetangga bukanlah penistaan agama. Kalau menyalahkan azan sebagai ritual keagamaan dengan penilaian negatif dan sinis bisa dianggap menista," terang Din.

"Memang sebaiknya suara azan, terutama di lingkungan yang majemuk (terdapat non-Muslim), perlu menjaga kenyamanan. Jangan-jangan suara azan yang lembut dan merdu dapat menggugah non-Muslim untuk menyukai azan," sambungnya.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin juga berpendapat serupa. Menurut dia, penerapan Pasal 156 a UU 1/PNPS/1965 pada kasus Meiliana tidak bisa berdiri sendiri, karena harus dikaitkan dengan konteks Pasal 1 UU tersebut.

(Baca juga: Soal Kasus Meiliana, KY: Harusnya Hakim Tidak Buta Keadilan)

Meiliana. (Foto: Okezone)

Menurut Lukman, inti dari penodaan agama berada di Pasal 1 UU. Oleh karena itu, ia menilai Meiliana sama sekali tidak melanggar ketentuan pasal tersebut.

"Saya amat berharap para aparat penegak hukum mampu memahami esensi UU tersebut agar tak menjadi preseden buruk bagi kehidupan keagamaan kita di tengah kemajemukan bangsa," tutur Lukman.

Meiliana merupakan ibu rumah tangga beragama Buddha. Ia memiliki empat anak dengan suami yang bekerja serabutan dan hingga kini masih mengontrak rumah. Dia didakwa melakukan penodaan agama karena pada 22 Juli 2016 menyampaikan kepada tetangganya tentang suara pengeras suara di masjid dekat rumahnya yang lebih keras dibandingkan sebelumnya.

Sang tetangga menyampaikan hal itu kepada pengurus masjid. Sempat ada pertemuan antara pengurus masjid dengan Meiliana dan suami. Sang suami bahkan sempat mendatangi pengurus masjid khusus untuk meminta maaf. Namun ternyata, ada pihak-pihak tertentu yang memprovokasi masyarakat, antara lain melalui media sosial.

(han)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini