nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Menteri Susi Dapat Gelar Kehormatan dari Masyarakat Dayak

Harits Tryan Akhmad, Jurnalis · Sabtu 25 Agustus 2018 07:59 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 08 25 337 1941196 menteri-susi-dapat-gelar-kehormatan-dari-masyarakat-dayak-1BH0JXV4lJ.jpg Menteri Susi dapat gelar kehormatan dari masyarakat Dayak (Foto: Humas KKP)

JAKARTA – Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menerima penghargaan gelar warga kehormatan “Dau Mening” yang berarti ‘Matahari yang Cerah’ dari masyarakat adat Suku Dayak Kenyah, Kerukunan Tebengang Lung, Kalimantan Timur (Kaltim).

Gelar kehormatan tersebut diberikan saat Menteri Susi diundang untuk membuka acara kerukunan keluarga besar Pumung Bangen nang Pekenu (Pesta Kegembiraan dan Ramah Tamah) Tebengang Lung 2018, Kamis 23 Agustus 2018.

Ketua Dewan Adat Dayak Kalimantan Utara, Marthin Billa mengatakan, gelar kehormatan tersebut diberikan lantaran Meteri Susi dinilai berjasa besar terhadap masyarakat pedalaman dan perbatasan, khususnya warga Dayak. Menurut Marthin, sejak 2006 Menteri Susi sudah menunjukkan kepeduliannya terhadap masyarakat setempat dengan membantu penyediaan transportasi udara yang memudahkan aktivitas masyarakat.

“Saat masyarakat sulit dengan transportasi udara untuk (pengangkutan) sembako dan perjalanan orang ke kota untuk pendidikan dan kegiatan ekonomi, maka di situlah Ibu Susi memberikan perhatian yang besar sejak 2006 sampai dengan sekarang,” ungkap Marthin dalam siaran pers dari Kementerian Kelautan dan Perikanan yang diterima Okezone, Sabtu (25/8/2018).

Lebih lanjut Marthin menjelaskan, gelar ‘Matahari’ diberikan kepada orang yang dianggap telah membawa berkah kepada kehidupan manusia. Sedangkan ‘Cerah’ melambangkan kebersihan dan kejernihan hati dalam membangun masyarakat.

Selain itu, ia berpendapat Menteri Susi pantas menerima gelar kehormatan tersebut karena kepedulian dan kecintaannya terhadap masyarakat Dayak. Salah satunya ditunjukkan dengan pilihan Menteri Susi untuk menggunakan pakaian Adat Dayak pada acara peringatan ulang tahun ke-72 Republik Indonesia tahun 2017 lalu di istana negara. Menteri Susi dinilai telah menghormati dan mempromosikan pakaian adat Dayak di skala nasional maupun internasional.

“Harapan kami warga Dayak kepada Ibu Susi agar beliau terus bersemangat membangun bangsa kita di seluruh nusantara ini. Kami terus mendoakan beliau, mendukung beliau tetap kuat, tetap sehat, dan semangat untuk mengabdi bagi bangsa dan masyarakat kecil,” pungkasnya.

Sementara itu, Menteri Susi sangat berterima kasih atas pemberian gelar kehormatan dan penerimaan warga Dayak terhadapnya. “Saya ucapkan terima kasih, ini kehormatan yang sangat luar biasa. Semoga saya terus diberi kesempatan, diberi kekuatan untuk bisa terus membantu dengan penerbangan atau apapun kerja yang bisa saya sumbangkan untuk membantu masyarakat di wilayah Kalimantan Timur,” ungkap dia.

Menteri Susi juga sedikit mengisahkan awal mula penerbangan Susi Air dirintis di Kaltim. Menurutnya, awalnya Susi Air hanya membantu mengisi kekosongan penerbangan di Samarinda dan Nunukan saat terjadi kerusuhan di bandara. Setelah bekerja sama dengan Pemda setempat, mulailah Susi Air merintis penerbangan di wilayah Kaltim bahkan hingga wilayah pedalaman dan perbatasan yang sulit dijangkau.

“Waktu kerusuhan di Tarakan, pilot saya memang sudah tidak ada lagi penerbangan, tapi tetap terbang khusus untuk menerbangkan nasi bungkus dari Nunukan dan Malinau untuk menyuplai saudara-saudara kita yang ada di airport Tarakan,” kenangnya.

Selain itu, Kabupaten Berau di Kaltim tepatnya Pantai Maratua juga menjadi lokasi pertama Menteri Susi mengumpulkan sekitar 690 nelayan Suku Bajo yang bukan asli Indonesia melainkan berasal dari Malaysia. Mereka telah menguasai beberapa pulau di Kabupaten Berau dengan sekitar 185 kapal kecil milik mereka. “Dengan kerja sama beberapa instansi kita dorong mereka kembali ke Malaysia karena dorongan masyarakat Berau. Masyarakat mengeluh tidak bisa menangkap ikan lagi karena orang-orang ini yang menangkap ikan di sekitar pulau. Mereka menangkap penyu, lumba-lumba, hiu, dan sebagainya,” cerita Menteri Susi.

Berbagai pengalaman di Kaltim ini menurut Menteri Susi telah membuatnya memiliki kedekatan tersendiri dengan provinsi ini. Selain itu, Menteri Susi yakin banyak masyarakat Kaltim yang telah merasakan manfaat-manfaat dari kebijakan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) selama ini yang dinilainya menguntungkan nelayan kecil.

Ia pun menyatakan sangat mendukung rencana Gubernur Kaltim untuk beralih dari eksploitasi sumber daya alam yang besar melalui dependensi (ketergantungan) hidup pada tambang, minyak, dan gas kepada sektor perikanan dan pariwisata.

“Kalau dilihat perbedaan antara Kaltim dengan Sulawesi Selatan atau Bali, saya lihat pertumbuhan UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah)-nya itu sangat rendah. Kenapa? Karena di sini (Kaltim) yang terbesar adalah kebanyakan korporasi dan itu membuat nilai pertumbuhan ekonomi masyarakat menengahnya agak kurang,” papar dia.

Dengan dukungan kepada masyarakat di dua sektor, yaitu perikanan dan pariwista, ia yakin UMKM akan bertarung dengan kuat sehingga mampu membangun ekonomi kerakyatan. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi Kaltim pun akan lebih tinggi jika dibandingkan dengan wilayah lainnya dan gini ratio (ketimpangan sosial) akan semakin kecil.

“Saya yakin potensi pariwisata kelautan di Kaltim ini sangat luar biasa. Dan udang, terutama udang tambak dari Kaltim ini dari dulu terkenal kualitasnya sebagai salah satu yang terbaik di dunia karena warnanya yang hitam. Dan itu adalah Monodon (udang Windu) jenis original asli Indonesia, dan kalau itu diteruskan akan jauh lebih baik daripada pertambakan vaname, karena bagaimanapun juga, vaname ini bukanlah udang asli Indonesia. Selain itu sudah banyak penyakit-penyakit (udang vaname) mulai muncul,” terangnya.

Namun Menteri Susi juga mengingatkan, keberlanjutan tetap harus diperhatikan. Ia pun menyadari, pertambakan nantinya akan menimbulkan persoalan-persoalan baru, berupa degradasi kualitas dan produktivitas lingkungan. Oleh karena itu, keseimbangan wilayah tambak dan mangrove harus tetap diperhatikan.

“Jadi kita belajar dari yang sudah-sudah, perlu keseimbangan antara pembuatan wilayah tambak dengan wilayah mangrove karena mangrove juga diperlukan untuk membersihkan air, menjadi filter dari racun-racun, dan juga menjadi tempat hidupnya plankton-plankton yang juga dibutuhkan oleh udang itu sendiri dalam pertumbuhannya,” lanjutnya.

Dalam kesempatan tersebut Menteri Susi berencana akan membantu pengembangan usaha kelautan dan perikanan yang dibutuhkan masyarakat, misalnya dengan restocking ikan alam/endemik di perairan/sungai, budidaya ikan air tawar, bahkan pengembangan sentra kuliner perikanan jika dibutuhkan.

Ia meyakini, pembangunan maritim sudah menuju arah yang benar. Terbukti dengan telah lebih dari 10.000 kapal asing keluar dari perairan Indonesia, dan 488 kapal pelaku illegal fishing telah ditenggelamkan. Hal ini telah berimbas pada peningkatan ekspor yang terjadi secara terus menerus sehingga komoditi perikanan menyumbang trade surplus perdagangan. Ekspor perikanan Indonesia meningkat 10-11 persen, sementara impor mengalami penurunan hingga 70 persen.

Dalam 3 tahun terakhir neraca perdagangan Indonesia menjadi nomor 1 di Asia Tenggara dan ikut berkontribusi mendorong deflasi. Di lain sisi, konsumsi ikan dalam negeri yang awalnya 36 kg/kapita/tahun terus meningkat hingga mencapai 46 kg/kapita/tahun.

“Kalau dilihat dari indikator itu semua, perikanan termasuk salah satu sektor unggulan yang kalau dikelola dengan benar, betul seperti yang Pak Presiden bilang, laut itu masa depan bangsa kita,” ujarnya.

Kini yang menjadi tantangan adalah bagaimana menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, serta mengarahkan generasi bangsa untuk siap bersaing. Salah satunya melalui peningkatan konsumsi ikan agar membangun generasi bangsa yang lebih pintar dan sehat terutama di era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) dan globalisasi seperti saat ini. Menurutnya, ikan sebagai sumber protein jauh lebih baik dibandingkan daging merah maupun ayam.

Menteri Susi berpendapat, surplus demografi yang dimiliki Indonesia jika tidak dikelola dengan baik dapat mendatangkan malapetaka. Oleh karena itu, ia meminta pemerintah bersama seluruh civil society untuk bahu membahu menghadapi digitalisasi yang ditenggarai akan banyak menghilangkan pekerjaan-pekerjaan konvensional.

Ia percaya, sektor perikanan, pariwisata, dan pertanian dapat dijadikan sebagai lahan ekonomi kreatif yang dapat menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat, pengusaha, dan UMKM.

“Saya dengan masyarakat Dayak ini orangnya baik-baik. Saya berharap, budi pekerti yang baik ditambah pendidikan yang lebih baik, kesempatan kerja yang diciptakan pemerintah daerah yang lebih besar, akan membuat masyarakat Dayak menjadi salah satu pilar bangsa yang memperkuat NKRI,” tandasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini