nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Perbedaan Pilihan dalam Berdemokrasi Tak Boleh Merusak Persatuan dan Kesatuan Bangsa

Bayu Septianto, Jurnalis · Jum'at 17 Agustus 2018 12:01 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 08 17 337 1937853 perbedaan-pilihan-dalam-berdemokrasi-tak-boleh-merusak-persatuan-dan-kesatuan-bangsa-jha6AEfMJv.jpg Ilustrasi persatuan dan kesatuan bangsa. (Foto: Dede Kurniawan/Okezone)

SUDAH 73 tahun negara ini merdeka. Segala aspek terus mengalami perkembangan dan kemajuan. Salah satu yang terus mengalami perkembangan adalah sistem demokrasi yang menjadi acuan dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dari tahun ke tahun, periode ke periode, sistem demokrasi terus mengalami perkembangan. Demokrasi di Indonesia pun pernah mengalami masa gelap saat rezim Orde Baru berkuasa selama hampir 32 tahun.

Namun seiring perjalanan waktu, demokrasi mengalami kebangkitan. Singkatnya, bangsa Indonesia saat ini sudah bisa memilih wakil rakyat secara langsung. Bahkan, kini juga dapat memilih pemimpin negara secara langsung di dalam bilik suara.

Ketua DPR RI Bambang Soesatyo. (Foto: Okezone)

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Bambang Soesatyo mengatakan, pemilihan umum atau pemungutan suara langsung untuk memilih presiden dan anggota DPR/DPRD adalah refleksi kedaulatan rakyat. Pemilu secara langsung, kata dia, merupakan pesta demokrasi yang harus dirayakan dengan gembira.

"Maka implementasi kedaulatan rakyat itu harus diwujudkan dalam suasana penuh kegembiraan dan memberi kebebasan seluas-luas bagi setiap pemilih untuk menentukan pilihannya," ucap Bamsoet –sapaan akrabnya –saat berbincang dengan Okezone.

"Tentu saja suasana pesta demokrasi yang menggembirakan itu bisa terlaksana jika semua elemen masyarakat mampu mewujudkan suasana kondusif," lanjutnya.

Bambang menilai pemilihan Presiden dan pemilihan anggota legislatif secara langsung selalu menghadirkan konsekuensi berupa perbedaan pilihan. Perbedaan pilihan itu, ucap dia, yang dikhawatirkan malah merusak persatuan dan kesatuan bangsa.

Tetapi, dia optimis akar budaya masyarakat Indonesia sudah mengajarkan bahwa beda pilihan bukan masalah yang harus diperdebatkan atau dipertentangkan.

"Beda pilihan telah diterima sebagai sebuah keniscayaan, karena setiap orang akan selalu punya cara pandang dan penilaian yang tidak sama dengan orang lain, termasuk dengan teman atau dengan ayah-ibu serta anggota keluarga lainnya," ungkap Bamsoet.

"Pesannya adalah beda pilihan tidak boleh merusak kondusivitas yang sejatinya selalu menjadi kebutuhan semua orang," imbuhnya.

Politikus Partai Golkar tersebut menyoroti masa saat ini di mana Pemilu 2019 sudah tak lebih dari setahun lagi akan digelar. Pemilu bakal terselenggara secara serentak antara pilpres dengan pileg. Tahun politik, itulah sebutan masa saat ini yang sudah melewati masa pendaftaran baik untuk pileg maupun pilpres.

"Tahun politik 2019 benar-benar harus mencerminkan pesta demokrasi. Seluruh lapisan masyarakat didorong untuk bergembira melaksanakan kedaulatannya memilih wakil rakyat, serta memilih presiden periode lima tahun berikutnya," tutur Bamsoet.

Dua pasangan akan bertarung yakni Joko Widodo-KH Ma'ruf Amin dan pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno. Sebagai petahana, Joko Widodo-KH Ma’ruf Amin didukung sebuah koalisi yang beranggotakan PDIP, Golkar, Nasdem, PKB, PPP, Hanura, PKPI, PSI, dan Perindo.

Lalu sebagai penantang, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno didukung koalisi beranggotakan PKS, PAN, Demokrat, serta Gerindra.

Meski baru selesai masa pendaftaran, Bamsoet menilai perhatian publik tertuju pada proses pembentukan koalisi dan proses penyaringan sosok cawapres. Kedua proses ini sempat membuat ruang publik hiruk-pikuk. Ada perang pernyataan, saling sindir, ada pula tuduhan, serta kejutan-kejutan terkait dengan nama sosok cawapres.

Politikus yang pernah berprofesi sebagai wartawan itu menyayangkan ruang publik masih disesaki dengan pernyataan-pernyataan yang berpotensi mengganggu kenyamanan publik. Menurut Bamsoet, menuju tahun politik 2019, kondusivitas sangat bergantung pada perilaku masing-masing kubu capres-cawapres.

"Daripada saling sindir atau saling ejek, akan lebih baik jika masing-masing kubu kandidat capres-cawapres melakukan konsolidasi mempersiapkan kampanya pemilihan presiden," tuturnya.

Bamsoet mengajak dua kandidat capres-cawapres dengan tulus dan konsisten mengajak semua elemen masyarakat untuk menjadikan Pilpres dan Pileg 2019 sebagai pesta demokrasi yang menggembirakan. Perbedaan pilihan memang akan terjadi, namun harus dihargai dan dihormati oleh siapa pun.

"Jangan sampai pula perbedaan itu menimbulkan permusuhan. Sebaliknya, perbedaan itu hendaknya bisa semakin merekatkan tali persaudaraan dan persahabatan. Jangan sampai masyarakat terkotak-kotak hanya karena beda pilihan politik," ucapnya.

Bamsoet menyebut para calon tersebut adalah tokoh dan kader terbaik bangsa. Oleh karena itu, ia mengajak semua pihak saling menghargai pilihan politik masing-masing.

"Mari kita saling meninggikan pasangan calon masing-masing, dan jauhkan sikap saling merendahkan," ujar Bambang.

Ia mengajak semua pihak menciptakan persaingan sehat dalam pemilu. Sebab, pemilu merupakan kontestasi adu gagasan antar-anak bangsa.

"Kita harus menciptakan persaingan yang fair dan demokratis serta menjunjung etika politik yang berkeadaban sesuai dengan nilai-nilai Pancasila," jelas Bamsoet.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini