nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

73 Tahun Indonesia Merdeka, Saatnya Tinggalkan Isu SARA

Achmad Fardiansyah , Jurnalis · Kamis 16 Agustus 2018 12:49 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 08 16 337 1937385 73-tahun-indonesia-merdeka-saatnya-tinggalkan-isu-sara-twbFZ5kjGa.jpg Ilustrasi (Dok. Okezone)

JAKARTA - Kerukunan antar Umat beragama di Indonesia masih cukup baik, meski masih ada upaya membenturkan kelompok agama satu dengan yang lainnya. Hal tersebut diutarakan Ketua Persatuan Gereja Indonesia (PGI), Albertus Patty saat berbincang dengan Okezone terkait kerukunan beragama saat Indonesia merdeka ke-73 tahun.

Albertus mengatakan, ketegangan antar umat beragama akan terasa saat musim politik datang, saat itulah isu identitas menjadi "mainan" para politisi nakal demi meraup suara sebanyak-banyaknya tanpa memikirkan akibatnya.

"Biasanya ketegangan antar agama suhunya meninggi saat mendekati Pilkada atau Pemilu. Jadi, hampir dipastikan berhubungan dengan kepentingan politik para elite yang dengan sengaja memainkan isu agama dan melakukan instrumentalisasi agama demi nafsu kekuasaan," bebernya.

Albertus menekankan, dirinya tidak melarang bahwa persoalan agama tidak boleh dibawa ke dalam dunia politik, namun Albertus meminta dalam persoalan politik agama harus menjadi pesan-pesan yang sejuk dan damai.

"Bukan interpretasi agama dengan pesan yang diskriminatif dan memecah-belah. Selain itu, agama-agama sendiri perlu menciptakan langkah-langkah nyata bersama dalam memerangi ketidakadilan dan kemiskinan," lanjutnya.

Oleh sebab itu, demi menekan adanya permainan isu SARA yang selalu menjadi mainan para oknum politisi, Albertus menyarankan agar para tokoh masyarakat mengelar pertemuan terbuka antar umay beragama atau dengan kata lain silaturrahmi secara rutin.

"Upaya untuk mempererat kasih dan cinta antar sesama harus terus dilakukan melalui perjumpaan-perjumpaan dan kerjasama langsung. Banyak kebencian muncul karena setiap kelompok tahu tentang kelompok lainnya," ungkapnya.

Menurut Albertus dengan cara inilah mampu untuk menghindari "jebakan" permainan para oknum politisi bahkan akan lebih mudah mendeteksin faham radikalisme yang dapat meretakan bingkai persatuan dan kesatuan.

"Hanya melalui cerita atau khotbah dalam Perjumpaan-perjumpaan dapat mendeteksi faham radikal, dan jadikan perbedaan itu untuk saling memperkaya dan saling melengkapi dalam soludaritas demi kemajuan, perdamaian dan keadilan yang dinikmati semua," tutupnya.

(aky)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini