nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

SBY Klarifikasi Pernyataannya Tentang 100 Juta Orang Miskin di Indonesia

Salman Mardira, Jurnalis · Rabu 01 Agustus 2018 15:25 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 08 01 337 1930367 sby-klarifikasi-pernyataannya-tentang-100-juta-orang-miskin-di-indonesia-Z2BOyHlOyX.jpg Susilo Bambang Yudhoyono (Arif/Okezone)

JAKARTA – Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memberikan klarifikasi terkait pernyataannya tentang masyarakat golongan miskin atau 'the bottom’ mencapai 100 juta orang di Indonesia.

Jumlah penduduk miskin disebut SBY menuai kontroversi karena dianggap tak sesuai data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis baru-baru ini di mana angka kemiskinan di Indonesia per Maret 2018 hanya 25,95 juta jiwa.

“Saya perlu berikan klarifikasi menyangkut pernyataan saya tetang perlunya kita memperhatikan "the bottom 40",” kata SBY melalui akun Twitternya yang dipantau Okezone, Rabu (1/8/2018).

“Banyak yang salah mengerti arti "the bottom 40%", kemudian langsung berikan sanggahan~ ‘Tak benar jumlah penduduk miskin 100 juta orang’” kicau akun @SBYudhoyono.

SBY saat bertemu Prabowo (Badriyanto/Okezone)

Pernyataan soal 100 juta penduduk miskin disampaikan SBY saat jumpa pers usai bertemu Prabowo Subianto di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan pada Senin 24 Juli 2018, yang menyepakati Demokrat dan Gerindra berkoalisi untuk melawan Joko Widodo di Pilpres 2019.

“Golongan orang miskin yang kita sebut dengan the bottom forty, 40 persen kalangan bawah yang jumlahnya sekitar 100 juta orang," kata SBY.

Pemerintah langsung menjawab tudingan SBY. Mensesneg Pratikno bahkan meminta SBY melihat data BPS yang baru dirilis. “Jangan asumsi,” katanya.

SBY menyinggung pejabat negara yang mengutip data BPS tentang warga miskin yang hanya 26 juta. “Tentu saya SANGAT MENGERTI angka itu.”

Presiden keenam Indonesia itu kembali menjelaskan “istilah "the bottom 40%" yang digunakan oleh World Bank Group yaitu 40 persen penduduk "golongan bawah" di masing-masing negara.

Di negara berkembang yang income perkapitanya belum tinggi, mereka termasuk kaum sangat miskin, kaum miskin dan di atas miskin (near poor).

Menurutnya dunia menetapkan sasaran kembar (twin objective) dalam pembangunan berkelanjutan yang menghilangkan kemiskinan ekstrem dan mencapai kemakmuran bersama.

“Ketika saya jadi Ketua HLP PBB (bersama PM Inggris & Presiden Liberia) susun bahan "SDGs", "the bottom 40%" jadi perhatian utama. Kelompok inilah yg mesti dibebaskan dari kemiskinan & ditingkatkan taraf hidupnya, dengan meningkatkan pendapatan mereka, ujar SBY.

Kelompok ini, lanjut dia, sangat rawan dan mudah terdampak, jika ada kemerosotan ekonomi, terutama jika ada kenaikan harga termasuk sembako.

“Dengan melemahnya ekonomi, the bottom 40% alami persoalan. Ini saya ketahui dari hasil survei dan dialog saya dengan ribuan rakyat di puluhan kabupaten/kota. Inilah yang harus jadi perhatian pemerintah, baik sekarang maupun yang akan datang. Pendapat saya, justru inilah yang harus jadi prioritas,” tukasnya.

(sal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini