nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

BMKG: Gerhana Bulan Total Tidak Terlalu Memengaruhi Pasang Surut Air Laut

Harits Tryan Akhmad, Jurnalis · Sabtu 28 Juli 2018 04:23 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 07 28 337 1928535 bmkg-gerhana-bulan-total-tidak-terlalu-memengaruhi-pasang-surut-air-laut-m9oaiosrc5.jpg Pihak BMKG menerangkan tentang dampak gerhana bulan total. (Foto: Harits Tryan Akhmad/Okezone)

JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan adanya gerhana bulan total pada Sabtu dini hari ini tidak akan terlalu memengaruhi ketinggian pasang surut air laut. Hal ini sebagaimana dikatakan Deputi Bidang Geofisika BMKG Muhammad Sadly saat bersama-sama memantau gerhana bulan total di Kantor BMKG, Kemayoran, Jakarta Pusat.

"Saya pikir kalau pengaruh tidak terlalu besar. Pasang surut pasti sudah kita ukur melalui di pusat gempa nasional," ujar Sadly di kantornya, Sabtu (28/7/2018).

Ia menerangkan, hal tersebut juga dipengaruhi jarak antara bulan dan bumi saat fenomena terjadi. Sehingga, tidaklah seperti saat "Supermoon" yang jarak antara bumi dan bulan begitu dekat.

Tetapi pada gerhana bulan total kali ini jarak bulan dan bumi terpantau jauh sehingga tak terlalu banyak merubah gaya gravitasi yang bisa berpengaruh pada ketinggian pasang surut air laut.

"Jadi dari segi gelombang tidak terpengaruh karena gelombang tinggi sudah terjadi sebelum-sebelumnya. Apalagi, sekarang ini jarak dengan bumi jauh sehingga ya mungkin kenaikan (air laut) 30–40 sentimeter. Seperti itu," jelas dia.

Di sisi lain, Plt Kepala Pusat Seismologi Teknik Geofisika Potensial dan Tanda Waktu BMKG Bambang Setiyo Prayitno turut menjelaskan, apabila adanya kenaikan pasang surut air laut yang besar, lebih dipengaruhi faktor perbedaan temperatur antara suatu tempat dan tempat lainnya.

"Bahwa gerhana bulan total ini pengaruhnya sangat kecil hanya ke pasang surut air laut. Terjadinya gelombang yang besar itu bukan dari pengaruh gerhana bulan tadi, tapi itu peristiwa meteorologi akibat ada perbedaan temperatur di selatan Jawa, Australia, dan di utara, sehingga menimbulkan gelombamg tinggi. Jadi, itu hal yang sangat berbeda," kata Bambang.

(han)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini