nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Menkumham Bakal Copot Jabatan Kalapas Sukamiskin dan Kakanwil Jabar

Arie Dwi Satrio, Jurnalis · Minggu 22 Juli 2018 02:29 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 07 22 337 1925627 menkumham-bakal-copot-jabatan-kalapas-sukamiskin-dan-kakanwil-jabar-XTAvBJodVq.jpg Foto: Okezone

JAKARTA - Menteri Hukum dan HAM (Menkumham) Yasonna H. Laoly bakal mengevaluasi serta memberikan tindakan tegas terhadap Kalapas Sukamiskin dan Kakanwil Jawa Barat. Hal itu berkaitan dengan adanya kasus dugaan suap 'jual-beli'‎ fasilitas serta izin di Lapas Sukamiskin Jabar.

Dirjen Pemasyarakatan Kemenkumham, Sri Budi Puguh Utami mengungkapkan, ‎Menkumham, Yasonna H. Laoly telah memantau adanya kasus ini. Kata Sri Utami, Yasonna akan langsung melakukan evaluasi serta tindakan tegas terhadap sejumlah pejabat dalam waktu dekat.

"Atas kejadian ini Bapak Menteri akan ambil sikap tegas, evaluasi terhadap pejabat dua tingkat di atasnya. Atas kejadian di sukamiskin. Bukan tidak mungkin evaluasi juga terjadi di jajaran Ditjen PAS," kata Sri Utami di kantor Kemenkumham, Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Minggu (22/7/2018), dini hari.

Dalam perkara ini, KPK telah menetapkan Kalapas Sukamiskin, Wahid Husen sebagai tersangka penerima suap. Wahid diduga menerima suap terkait 'jual-beli' fasilitas kamar serta izin di dalam Lapas Sukamiskin.

 lapas

Sri Utami menegaskan Menkumham akan langsung mengadakan evaluasi terkait kasus yang menyeret Wahid Husen. Menteri Yasonna akan mengambil tindakan tegas berupa pencopotan jabatan kepada Wahid Husen.

"Kemudian akan ada evaluasi kepada Kalapas, akan ada pergantian. Memang tidak mudah yang kasusnya koruptor. Tidak mudah. bapak menteri akan menetapkan dengan jaajaran yang dianggap tidak tepat untuk disana," ungkapnya.

Selain Wahid, KPK juga menetapkan tiga orang lainnya sebagai tersangka dalam kasus yang sama. Ketiganya yakni, narapidana kasus korupsi proyek Bakamla yang juga suami Inneke Koesherawati, Fahmi Darmawansyah; PNS Lapas Sukamiskin, Hendri Saputra; serta narapidana tahanan kasus pidana umum yang juga orang kepercayaan Fahmi, Andri Rahmat.

Diduga, Wahid Husen menerima suap berupa sejumlah uang dan dua mobil ketika menjabat sebagai Kalapas Sukamiskin sejak Maret 2018. Uang serta dua unit mobil yang diterima Wahid itu diduga berkaitan dengan pemberian fasilitas, izin luar biasa, yang‎ seharusnya tidak diberikan kepada diberikan kepada napi tertentu.

 lapas

Fahmi Darmawansyah sendiri diduga memberikan suap kepada Wahid untuk mendapatkan fasilitas khusus di dalam sel atau kamar tahanannya. Fahmi juga diberikan kekhususan untuk dapat mudah keluar-masuk Lapas Sukamiskin.

Peneriman-penerimaan tersebut diduga dibantu dan diperantarai oleh orang-orang dekat keduanya yaitu Andri Rahmat dan Hendri Saputra.

Sebagai pihak penerima suap, Wahid dan Hendry disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau huruf b atau Pasal 11 atau Pasal 12B UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan Tipikor sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 Juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 Juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.

Sedangkan sebagai pihak pemberi suap, Fahmi dan Andri disangkakan melanggar Pasal 5 huruf a atau huruf b atau Pasal 13 UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan Tipikor sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 Juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 Juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.

(wal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini