nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Survei LSI: Masyarakat Pro Pancasila Menurun, Pendukung NKRI Bersyariah Meningkat

Fakhrizal Fakhri , Jurnalis · Selasa 17 Juli 2018 17:27 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 07 17 337 1923599 survei-lsi-masyarakat-pro-pancasila-menurun-pendukung-nkri-bersyariah-meningkat-dasODZHBrL.jpg Peniliti LSI Denny JA, Adrian Sopa memaparkan hasil survei soal masyarakat pro Pancasila (Dhemas/Antara)

JAKARTA - Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA menyurvei persepsi masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia. Hasilnya mengejutkan. Masyarakat yang pro terhadap Pancasila dalam kurun waktu 13 tahun terakhir justru menurun. Sebaliknya yang pro NKRI bersyariah meningkat.

Hasilnya survei diketahui bahwa publik yang pro terhadap Pancasila telah menurun sebesar 10% sejak 2005. LSI Denny JA pernah melakukan serupa pada 2005, hasilnya kala itu bahwa 85,2% masyarakat masih mendukung Pancasila sebagai ideologi bangsa.

"Sementara di tahun 2018 ini angkanya 75,3%," ujar peneliti LSI Denny JA, Adrian Sopa dalam pemaparan hasil survei 'Menurunnya Pro Pancasila dan Harapan Pada Capres' di Kantor LSI Denny JA, Rawamangun, Jakarta Timur, Selasa (17/7/2018).

Adrian melanjutkan tanda-tanda penurunan terhadap publik yang pro Pancasila sudah terlihat sejak 2010. Saat itu tingkat masyarakat yang pr Pancasila hanya 81,7%. Pada 2015 angka tersebut terus merosot menjadi 79,4%, dan tahun ini tembus 75,3%.

 

Pemaparan hasil survei LSI Denny JA (Fakhri/Okezone)

Di sisi lain, lanjut Adrian, publik yang pro terhadap NKRI Bersyariah terus mengalami peningkatan sebesar 4,6% di tahun 2005 dan 7,3% pada 2010.

"Pada 2015 publik yang pro terhadap NKRI Bersyariah menjadi 9,8%. Dan sekarang di tahun 2018 menjadi 13,2%. Sehingga dalam kurun waktu 13 tahun ada kenaikan persetujuan publik terhadap NKRI Beryariah sebesar 9%," jelasnya.

Adrian menjelaskan, segmen publik yang mengalami penurunan pro Pancasila berada pada masyarakat yang berpenghasilan rendah. Masyarakat yang berpenghasilan kurang dari Rp1 juta masih dominan pro Pancasila sebesar 91,8% pada 2005.

"Kemudian turun menurun menjadi 85,7% pada 2010 dan turun kembali 79,1% pada 2015. 2018 menjadi 69,1%," terang Adrian.

 

Adrian menerangkan, penurunan publik pro Pancasila juga menurun pada segmen masyarakat yang berpenghasilan Rp1-2 juta. Dari 2005 diangka 86,7%, sekarang berada pada 78,1% di 2018.

"Untuk segmen berpenghasilan Rp2 juta ke atas angkanya cukup stabil pada 77% dari 2005 sampai sekarang," ucapnya.

Ia memaparkan, menurunnya publik yang pro terhadap Pancasila juga terjadi pada masyarakat yang beragama Islam. Hasil survei LSI Denny JA menunjukkan bahwa 81,7% muslim yang pro Pancasila pada 2005 mengalami penurunan 74% pada 2018.

"Pada segmen pendidikan menurunnya pro Pancasila terjadi di semua level. Pada 2018 angka tersebut dibawah 80%. Segmen lulusan SD 2005 86,5% menjadi 76,3% pada 2018. Segmen lulusan SLTP/sederajat 84,5% 2005 menjadi 76,5% 2018," sambung Adrin.

"Untuk segmen lulusan SMA/seserajat pada 2005 83,3% turun menjadi 74% pada 2018. Kemudian pendidikan kuliah ke atasnya juga mengalami penurunan dari 82,2% pada 2005 menjadi 72,8% pada 2018," imbuhnya.

 

Survei tersebut dilakukan pada 28 Juni-5 Juli 2018 dengan jumlah responden 1.200 orang diambil secara acak di 34 provinsi di Indonesia. Survei menggunakan kuisioner dengan wawancara tatap muka (face to face). Survei dengan metode multistage random sampling itu atau margin of eror lebih kurang sebesar 2,9%.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini