nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Gerakan Separatis Gerogoti Bangsa, Nasdem Nilai Sama Buruknya dengan Teroris

Harits Tryan Akhmad, Jurnalis · Senin 16 Juli 2018 23:15 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 07 16 337 1923215 gerakan-separatis-gerogoti-bangsa-nasdem-nilai-sama-buruknya-dengan-teroris-CWtGdMKnd1.jpg Ilustrasi (Foto: Ist)

JAKARTA - Ketua DPP Nasdem Syahrul Yasin Limpo mengatakan, gerakan separatis yang menggerogoti bangsa sama dengan terorisme. Bahkan, ia menilai gerakan semacam itu tidak menginginkan Indonesia menjadi negara maju.

"Sekarang, para pelaku semakin sering beraksi antara lain karena dukungan terhadap mereka makin luas. Banyak pendukung gerakan separatis secara terbuka menyatakan sikapnya. Bahkan, berkali-kali mereka menggunakan kebohongan untuk membela separatis," kata Syahrul kepada wartawan di Jakarta, Senin (16/7/2018).

Menurutnya, diduga ada oknum warga negara Indonesia (WNI) mendukung gerakan separatisme. Mereka biasanya berkicau saat kelompok separatis itu sedang terdesak oleh upaya pemberantasan dari penegak hukum. Namun, sebaliknya jika ada warga yang menjadi korban kekerasan mereka yang mendukung hanya diam saja.

"Jangan dikira para separatis itu tidak pernah melukai bahkan menghilangkan nyawa warga. Mereka bolak-balik, tanpa alasan dan sering kali tiba-tiba, menembaki orang-orang yang sedang bekerja atau bahkan sedang di rumah," tuturnya.

 Ilustrasi

Menurut Syahrul, mereka hanya akan menyoroti sikap tegas aparat yang menggunakan senjata dalam memberangus gerakan separatis. Padahal, penegakan hukum terhadap kelompok senjata tentu harus menggunakan senjata.

Banyak dampak yang ditimbulkan oleh gerakan separatis, sambungnya, seperti pembangunan yang terhambat akibat gangguan keamanan. Padahal, komitmen pemerintah dalam melakukan pemerataan pembangunan tidak perlu diragukan dan itu adalah wujud keadilan sosial.

"Jangan-jangan memang pendukung separatis ini tidak suka kalau Indonesia maju dan pembangunan berjalan? Mereka lebih suka Indonesia tetap terbelakang dan serba terbatas. Entah apa motifnya," ujarnya.

 Ilustrasi

Syahrul menambahkan, banyak memang yang mencibir saat pemerintah membangun jalan di daerah terpencil. Itu karena mereka tidak tahu dampak keterbukaan akses terhadap suatu daerah, seperti kebutuhan harga pangan bisa turun dan lain sebagainya.

"Harga aneka kebutuhan bisa ditekan, layanan bisa disediakan lebih cepat, kalau jalan tersedia dan bisa dilalui dengan lancar. Fakta itu mungkin tidak disukai separatis dan pembelanya. Mereka tidak suka WNI sejahtera," pungkasnya.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini