nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bukan Santet yang Diatur di Pasal RUU KUHP, tapi Tindakan Menawarkan Jasanya

Hantoro, Jurnalis · Selasa 05 Juni 2018 21:03 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 06 05 337 1906919 bukan-santet-yang-diatur-di-pasal-ruu-kuhp-tapi-tindakan-menawarkan-jasanya-y0TXLtOA64.jpg Ilustrasi

JAKARTA - Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) kini sedang membahas tentang Rancangan Undang-Undang Kitab Umum Hukum Pidana (RUU KUHP). Di dalamnya terdapat Pasal 293 yang membahas persoalan ilmu hitam dan santet.

Poin inilah yang masih menjadi perdebatan dalam pembahasan oleh Panitia Kerja (Panja) RUU KUHP DPR RI. Pandangan dari setiap fraksi pun diperlukan untuk segera menyelesaikan pasal ilmu hitam.

Terkait hal ini, pengamat hukum pidana dari Universitas Trisakti Abdul Fickar Hadjar mengatakan bahwa substansi yang sebenarnya dibahas bukan pada santetnya. Ia menegaskan fokus utamanya adalah terkait tawaran jasa yang diberikan untuk ilmu hitam tersebut.

"Jadi dari bunyi pasal itu yang diatur RKUHP bukanlah ilmu hitam atau santetnya, melainkan tindakan menawarkan jasa yang seolah bisa menimbulkan penyakit atau kematian, tetapi tidak persoalan apakah ada akibatnya atau tidak, sudah bisa dihukum," jelasnya kepada Okezone, Selasa (5/6/2018).

Fickar menerangkan, tindak pidana ini termasuk delik formal yang tidak memerlukan akibat. Kemudian diatur di bab mengenai ketertiban umum.

"Sebenarnya pasal ini tidak baru, karena di KUHP yang sekarang pun ada pengaturannya, yaitu Pasal 546," ungkapnya.

Adapun isi Pasal 546 UU KUHP adalah:

1. Barang siapa menjual, menawarkan, menyerahkan, membagikan atau mempunyai persediaan untuk dijual atau dibagikan jimat, penagkal, atau benda lain yang dikatakan olehnya mempunyai kesaktian.

2. Barang siapa mengajar ilmu atau kesaktian yang bertujuan menimbulkan kepercayaan bahwa ia dapat melakukan tindak pidana tanpa kemungkinan bahaya bagi diri sendiri.

"Dengan unsur pasal 'yang dikatakan punya kekuatan gaib' dan 'yang menimbulkan kepercayaan bahwa dapat melakukan', tidak menjadi penting apakah benda-benda itu punya kekuatan gaib atau tidak, ilmu yang diajarkan dapat membuat orang kebal atau tidak. Jadi yang dilarang adalah menawarkan atau menjual, bukan santetnya atau ilmu hitam atau putihnya," tegas Fickar.

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini