nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pancasila Obat Intoleransi, Radikalisme dan Liberalisme

Fahreza Rizky, Jurnalis · Jum'at 01 Juni 2018 18:45 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 06 01 337 1905477 pancasila-obat-intoleransi-radikalisme-dan-liberalisme-I15S5Sv7S7.jpg Ketum PPP Romahurmuziy (Foto: Okezone)

JAKARTA - Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Romahurmuziy menghadiri upacara peringatan hari lahir Pancasila 1 Juni di Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri (Kemenlu), Jakarta Pusat.

Dalam kesempatan itu, Romi mengatakan, ada dua fakta penting tentang Pancasila yang perlu diketahui khalayak luas.

"Adalah fakta bahwa untuk pertama kalinya istilah Pancasila sebagai dasar negara 'diperkenalkan' oleh Soekarno di depan sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 1 Juni 1945," katanya saat ditemui Okezone, Jumat (1/6/2018).

Bung Karno, kata Romi, hanya memperkenalkan Pancasila karena istilah tersebut sudah termuat di Kakawin Sutasoma dan Negarakertagama di era Majapahit ratusan tahun sebelumnya, meski rumusannya tentu sama sekali berbeda dengan Pancasila hari ini.

"Itulah mengapa Bung Karno selalu menggunakan istilah 'aku hanya menggali dari nenek-moyang kita,'" ujarnya.

Pancasila

Fakta kedua, sambung dia, rumusan Pancasila sejak 1 Juni 1945 yang dipidatokan Bung Karno, rumusan Piagam Jakarta tanggal 22 Juni 1945, hingga rumusan final tanggal 18 Agustus 1945 adalah satu kesatuan proses lahirnya Pancasila sebagai dasar negara.

Artinya, kalimat dan urutannya terus berkembang sejak disampaikan pertama kali tanggal 1 Juni 1945 sampai menemukan bentuk finalnya pada tanggal 18 Agustus 1945.

"Dengan demikian, seyogyanya tak perlu lagi kita memperdebatkan tentang mengapa Hari Pancasila ditetapkan 1 Juni. Toh, tanggal 18 Agustus juga telah ditetapkan sebagai Hari Konstitusi dengan Keppres Nomor 18/2008," jelas Romi.

Lebih lanjut, ia mengatakan Pancasila adalah pemersatu keragaman yang ada. Sebagai alat pemersatu, Pancasila adalah titik temu semua agama, suku dan golongan. Bisa jadi ada hal yang tidak memuaskan satu dua pihak, namun itulah titik optimal.

"Menjadikan Pancasila sebagai tolok ukur seluruh turunan UUD. Jika setiap butir pasal dalam penyusunan undang-undang ditolok ukurkan kepada Pancasila, Insya Allah tidak ada lagi pembatalan norma oleh MK," jelas Romi.

"Menjadikan nilai-nilai Pancasila sebagai obat intoleransi, radikalisme dan liberalisme yang hari ini menyasar seluruh lini kehidupan bangsa," pungkasnya.

 Ketum PPP Romahurmuziy

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini