nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kemenhub dan Polri Harus Kerja Sama Atasi Maraknya Kasus Candaan Bom

Fiddy Anggriawan , Jurnalis · Selasa 29 Mei 2018 16:01 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 05 29 337 1904114 kemenhub-dan-polri-harus-kerja-sama-atasi-maraknya-kasus-candaan-bom-I8U3FNMcZh.jpg Menhub Budi Karya dan Kapolri Jenderal Tito Karnavian (foto: Antara)

JAKARTA - Candaan membawa bom belakangan kian marak terjadi di sejumlah maskapai penerbangan. Hal ini sontak menimbulkan kekhawatiran penumpang lain hingga mengakibatkan keterlambatan jadwal penerbangan. Perlukah adanya deteksi dini dari pihak intelijen dalam peristiwa candaan bom tersebut?

Menurut Pengamat Intelijen dan Pertahanan Negara Susaningtyas Kertopati, sulit melibatkan pihak intelijen untuk mendeteksi adanya orang-orang yang bercanda membawa bom di bandara atau pesawat. Mengingat, candaan bom berisifat pribadi.

Kepanikan Penumpang LionAir di Bandara Supadio, Pontianak (foto: Ist)Kepanikan Penumpang LionAir di Bandara Supadio, Pontianak (foto: Ist)

"Gurauan itu kan bersifat pribadi jadi bagaimana intelijen bisa diteksi mens rea (kesengajaan melakukan kriminal) dan niat orang mau munculkan gurauan itu?" ungkap wanita yang akrab disapa Nuning tersebut kepada Okezone, Selasa (29/5/2018).

Justru, kata Nuning, hal yang perlu dilakukan sekarang adalah bagaimana Angkasa Pura sebagai pengelola bandara dan Kementerian Perhubungan larangan dan ancaman bagi penumpang yang bercanda mengenai bom saat di bandara atau di dalam pesawat.

"Saran saya pihak Angkasa Pura dan Kemenhub lah yang bertanggungjawab mengeluarkan larangan dan ancaman hukumannya bila lakukan gurauan yang mengganggu ketenangan umum," tegasnya.

Dia pun meminta Kemenhub bekerja sama dengan Polri untuk menegakkan aturan-aturan terutama hukuman bagi mereka yang dengan sengaja melakukan candaan bom dan membuat kepanikan penumpang saat berada di dalam pesawat. Sebab, candaan mereka bisa tergolong serius karena membuat kepanikan yang bisa saja menimbulkan korban.

"Kemenhub harus kerja sama dengan Polri untuk tegakkan aturan-aturan. Juga pasang pengumuman untuk hindari gurauan yang merugikan umum," urai Nuning.

Fransiskus Nigiri Pelaku Candaan Bom di Pesawat LionAir Diperiksa Petugas (Foto: Ade Putra/Okezone) Fransiskus Nigiri Pelaku Candaan Bom di Pesawat LionAir Diperiksa Petugas (Foto: Ade Putra/Okezone)

Nuning menegaskan, hukuman bagi orang yang melakukan candaan bom harus ditegakkan agar memberikan efek jera. Diketahui sesuai Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan, Pasal 437 Ayat 1 menyatakan, setiap orang menyampaikan informasi palsu yang membahayakan keselamatan penerbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 344 huruf e dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun. Sedangkan Pasal 437 Ayat 2 menyatakan, dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan kecelakaan atau kerugian harta benda, dipidana dengan pidana penjara paling lama 8 (delapan) tahun penjara.

"Ini harus ditegakkan jadi peraturan di negara kita punya wibawa," pungkasnya.

Diberitakan, Frantinus Nigir penumpang pesawat Lion Air JT-687 tujuan Pontianak-Jakarta pada Senin 28 Mei 2018 membuat panik para penumpang usai mengatakan dirinya membawa bom saat pesawat berada di Bandara Internasional Supadio Kubu Raya, Kalimantan Barat.

Kasus ini bukan yang pertama kali terjadi, sepanjang Mei 2018 setidaknya ada 3 peristiwa candaan bom. Sebelumnya para Penumpang Lion Air JT280 rute Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng, Tangerang menuju Bandara Internasional Kuala Lumpur, Malaysia dibuat heboh oleh ucapan dari salah seorang penumpang yang mengatakan ada bom dalam pesawat.

Seorang penumpang laki-laki berinisial YS (25), saat masuk ke pesawat memberitahukan kepada penumpang lainnya bahwa ada bom di dalam pesawat. Perkataanya tersebut didengar oleh awak kabin dan beberapa penumpang lainnya sehingga membuat para penumpang heboh.

Kejadian candaan bom juga terjadi di Bandara Blimbingsari, Banyuwangi. Ironinya pelakunya merupakan anggota DPRD Kabupaten Banyuwangi, yakni Basuki Rahmad dari Fraksi Hanura dan Nauval Badri dari Fraksi Gerindra.

Keduanya harus berurusan dengan pihak kepolisian dan terancam tindak pidana usai melakukan guraan membawa bom di dalam pesawat Garuda GA 265 rute Banyuwangi - Jakarta. Basuki sempat mengutarakan ia membawa bom di dalam tasnya, saat ditanya tiga kali untuk diyakinkan ternyata jawabannya masih sama. Alhasil Basuki yang sudah berada di pesawat langsung diminta turun.

Semua pelaku candaan bom pada akhirnya ditangani pihak kepolisian. Publik pun menanti kepastian hukuman para pelaku candaan bom di bandara dan pesawat. Tujuannya, agar terwujudnya rasa aman demi kepentingan umum.

(fid)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini