nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

KPAI Bela ABG Pengancam Jokowi Lewat UU Peradilan Anak

Arie Dwi Satrio, Okezone · Minggu 27 Mei 2018 07:30 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 05 27 337 1903275 kpai-bela-abg-pengancam-jokowi-lewat-uu-peradilan-anak-qvqh8AB62Z.jpg Foto Istimewa

JAKARTA - Komisi P‎erlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengaku sudah berkoordinasi dengan jajaran Polda Metro Jaya terkait penyelesaian kasus RJ alias. (16), ABG yang mengancam akan membunuh Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi).‎ Dalam hal ini, KPAI merekomendasikan penggunaan UU Sistem Peradilan Anak dalam menyelesaikan kasus itu.

‎Ketua KPAI, Susanto menjelaskan, ada beberapa latar belakang yang perlu diperhatikan dalam kasus itu. Menurut Susanto, RJ alias S (16), dalam usianya memang sangat mudah dipengaruhi oleh lingkungannya terutama teman-temannya. Oleh karenanya terdapat perbuatan yang hanya untuk mencari eksistensi.

"Perbuatan yang bersifat tantangan, uji nyali, bahkan sampai perbuatan melanggar hukum pun kadang menjadi 'media pembuktian' dalam pergaulan diantara anak-anak tersebut," ujar Susanto kepada Okezone, Minggu (27/5/2018).

Namun, menurut Susanto, perbuatan ABG tersebut justru jarang memikirkan damapknya. Hal itu ‎dilakukan hanya karena dorongan emosional semata. Oleh karenanya, Susanto menyarankan agar ada landasan UU Sistem Peradilan Anak dalam menyelesaikan kasus ini.

"Proses lidik yang sedang dilakukan oleh Kepolisian saat ini merupakan bagian dari proses hukum. Dalam kasus yang merupakan delik aduan, maka yang perlu dipertimbangkan terkait reposisi korban maupun pelaku yang berusia anak harus dipertimbangkan secara matang," ungkapnya.

Susanto menambahkan, dalam UU Peradilan Anak yang memiliki ruh Restorative Justice, terdapat hak anak untuk mendapatkan diversi -pengalihan penyelesaian perkara anak dari proses peradilan pidana ke proses di luar peradilan pidana-.‎ Dimana, RJ berhak mendapatkan diversi karena ancamannya dibawah tujuh tahun.

"Terkait dengan kondisi tersebut, maka KPAI mendorong agar diselesaikan melalui jalur diversi dengan menitik beratkan pada upaya keluarga untuk melakukan pembinaan terhadap anak untuk tidak mengulangi perbuatan tersebut," sambungnya.

(wal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini