BNPT Akui Kesulitan Bina Aman Abdurrahman

Arie Dwi Satrio, Okezone · Minggu 27 Mei 2018 06:03 WIB
https: img.okezone.com content 2018 05 27 337 1903229 bnpt-akui-kesulitan-bina-aman-abdurrahman-YlRUl0GPDn.jpg Aman Abdurahman (foto: Antara)

JAKARTA - Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengaku sudah berusaha untuk membina para napi terorisme (napiter). Namun memang, terdapat kesulitan untuk merubah mindset atau pemikiran radikal dari para napi teroris.

Direktur Deradikalisasi BNPT, Irfan Idris mengakui telah mencoba melakukan program ‎deradikalisasi terhadap sejumlah napi teroris. Salah satunya yang telah ikut dalam program itu yakni, pentolan Jaringan Ansharut Daulah (JAD), Aman Abdurrahman.

Menurut Irfan, pihaknya telah membagi empat tingkatan program deradi‎kalisasi dalam membina para napiter. Kendati demikian, sambungnya, untuk merubah pola pikir para napiter harus dimulai dari mereka sendiri.

"Empat level radikal dalam lapas masing-masing memiliki strategi. Yang memberi Hidayah untuk berubah seseorang, kewenangan tuhan, tugas sesama manusia saling mengajak ke jalan yang benar," kata Irfan saat dikonfirmasi Okezone, Minggu(27/5/2018).

 Aman Abdurahman

Irfan menjelaskan, semua napi teroris sebenarnya bisa dirubah pola pikirnya. Tinggal para napi terebut mau atau tidak merubah pemikirannya ke arah yang benar.

"Semua radikal bisa di deradikalisasi tapi bukan kita yang memutuskan berubah tidaknya seseorang. Inti deradikalisasi, pembinaan, pendampingan, dan pemberdayaan," pungkasnya.

Diketahui sebelumnya, Tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) menuntut mati pimpinan Jaringan Ansharut Da‎ulah (JAD), Aman Abdurrahman‎. Tim Jaksa menilai Oman Rochman alias Abu Sulaiman bin Ade Sudarma alias Aman Abdurrahman mempunyai pengaruh dalam beberapa serangan teror di Indonesia.

 Aman Abdurahman

Aman angkat bicara terkait tuntutan mati yang dilayangkan tim Jaksa Penuntut Umum (JPU)‎ tersebut. Pimpinan ISIS di Indonesia itu angkat bicara lewat nota pembelaan atau pleidoi atas tuntutan mati yang dilayangkan JPU.

Celotehan-celotehan Aman saat mengungkapkan nota pembelaannya dapat dikatakan cukup kontroversial. ‎Dalam pleidoinya, Aman mengaku tidak takut divonis mati, bahkan, Aman sempat memilih keluar penjara dalam keadaan mati ketimbang damai dengan pemerintah.

(wal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini