Komnas PA: Kasus Siswa SD Hamili Siswi SMP karena Pornografi Mudah Diakses

Puteranegara Batubara, Okezone · Jum'at 25 Mei 2018 19:27 WIB
https: img.okezone.com content 2018 05 25 337 1902792 komnas-pa-kasus-siswa-sd-hamili-siswi-smp-karena-pornografi-mudah-diakses-0vQOZr29Nj.jpg Ketua Umum Komnas PA Arist Merdeka Sirait (Dok Okezone)

JAKARTA – Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) menilai kasus siswa sekolah dasar (SD) yang menghamili siswi sekolah menengah pertama (SMP) karena faktor maraknya konten berunsur pornografi yang ada di media sosial (medsos).

"Pemicu perilaku penyimpangan seksual anak pada umumnya diinspirasi oleh tayangan-tayangan pornografi yang sangat mudah di akses anak melalui media sosial," kata Ketua Umum Komnas PA Arist Merdeka Sirait, kepada Okezone di Jakarta, Jumat (25/5/2018).

Permasalahan seksual anak, kata Arist, belakangan ini mengalami peningkatan. Bahkan, kata dia, kejadian itu kerap menimpa anak-anak yang ada di daerah Indonesia.

Dengan adanya fenomena itu, menurut Arist, peran pengawasan dari orangtua terhadap anak itu sangat kurang. Sehingga, menurutnya, peran keluarga harus diperkuat agar menghindari kasus-kasus serupa ke depannya.

Arist menekankan, keluarga adalah contoh terdekat untuk anak-anak. Selain itu, Arist menegaskan, selain orangtua, lingkungan sekitar juga harus melakukan pengawasan terhadap anak-anak di bawah umur yang dianggap tidak normal di usianya.

(Ilustrasi)

"Demikian juga perhatian dan keterlibatan masyarakat terhadap situasi sosial di lingkungannya juga sangat minimal," tutur Arist.

(Baca Juga :  Kak Seto Tak Setuju Bocah SD yang Hamili Pacarnya Dinikahkan)

Kasus ini bermula ketika seorang siswi kelas VIII SMP di Kabupaten Tulungagung terbukti hamil oleh siswa kelas V SD di Boyolangu, Kabupaten Tulungagung. Mirisnya lagi, anak lelaki itu sebenarnya sudah berusia 13 tahun, mengingat pernah dua kali tak naik kelas.

Sementara anak perempuan itu kini berusia 12 tahun sedang mengandung bayi berusia 6 bulan. Akibat perbuatan dua bocah ini, kedua belah pihak keluarga sepakat untuk menikahkannya.

(Baca Juga : KPAI Soroti Pola Asuh di Balik Kelakuan Bocah SD Hamili Pacarnya)

Namun permintaan tersebut ditolak oleh pihak Kantor Urusan Agama (KUA) setempat, sehingga kedua belah pihak mengajukan banding di Pengadilan Agama (PA) Kabupaten Tulungagung.

Menariknya sang ayah menyebut apa yang dilakukan anak laki-lakinya itu merupakan bagian dari ‘tes kejantanan’ pasca-sunat di alat vitalnya.

(erh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini