Komnas PA: Menikahkan Siswa SD yang Hamili Siswi SMP Bukan Solusi

Puteranegara Batubara, Okezone · Jum'at 25 Mei 2018 17:18 WIB
https: img.okezone.com content 2018 05 25 337 1902790 komnas-pa-menikahkan-siswa-sd-yang-hamili-siswi-smp-bukan-solusi-zt9g0Yar6R.jpg Ketua Komnas PA Arist Merdeka Sirait (foto: Okezone)

JAKARTA - Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) menyatakan menikahkan siswa sekolah dasar (SD) yang menghamili siswi sekolah menengah pertama (SMP) di Tulungagung bukanlah solusi. Tetapi, justru melahirkan masalah baru ke depannya.

"Solusi untuk menikahkan kedua anak-anak ini tidak menyelesaikan masalah, justru akan menimbulkan masalah baru," kata Ketua Umum Komnas PA Arist Merdeka Sirait, kepada Okezone, Jumat (25/5/2018).

(Baca Juga: Uji 'Kejantanan' hingga Hamil, Siswa SD dan Siswi SMP Jalani Pemeriksaan di Polres Tulungagung)

Kedua orangtua itu sudah sepakat untuk menikahkan dua bocah itu. Apalagi, anak perempuan itu sudah mengandung enam bulan. Namun permintaan tersebut ditolak oleh pihak Kantor Urusan Agama (KUA) setempat, sehingga kedua belah pihak mengajukan banding di Pengadilan Agama (PA) Kabupaten Tulungagung.

Pelajar MesumKetua Komnas PA Arist Merdeka Sirait (foto: Okezone)

Menurut Arist, penolakan yang dilakukan oleh KUA setempat sudah tepat. Mengingat, kata dia, pasangan ini masih anak di bawah umur.

"Meminta lembaga pernikahan seperti KUA dan Pengadilan untuk tidak memberikan dispensasi pernikahan usia anak ini," ujar Arist.

Namun untuk kepentingan terbaik bagi anak dan kelangsungan hidup anak yang sedang dikandung ibunya, Arist mendesak Dinas Sosial dan Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung untuk bertindak memberikan perlindungan dan layanan sosial dan kesehatan kepada ibu dan anak yang dikandung.

Arist menambahkan, untuk memberikan yang terbaik bagi kedua anak dan untuk menjamin hak hidup anak yang masih dalam kandungan ibunya, Komnas Perlindungan Anak akan turun tangan dengam melibatkan para aktivis pegiat perlindungan anak dan LPA di Tulungagung.

"Untuk melakukan asesmen yang hasilnya akan disampaikan kepada kedua orangtua anak dan pemangku kepetingan dan pemerintah untuk diijadikan solusi yang terbaik," ujar dia.

Di sisi lain, Arist mengungkapkan dengan adanya fenomena ini, menjadi bukti bahwa ada bahaya besar di balik dari perkembangan zaman dan teknologi dewasa ini.

"Perubahan perilaku seksual usia anak ini menandakan bahwa telah terjadi "tsunami tekhnologi" yang perlu terus diantisipasi," ucap dia.

Kasus ini bermula ketika seorang siswi kelas VIII SMP di Kabupaten Tulungagung terbukti hamil oleh siswa kelas V SD di Boyolangu, Kabupaten Tulungagung. Mirisnya lagi, anak lelaki itu sebenarnya sudah berusia 13 tahun, mengingat pernah dua kali tak naik kelas.

(Baca Juga: Bocah SD Hamili Pacarnya, Tamparan Keras bagi Dunia Pendidikan)

Sementara anak perempuan itu kini berusia 12 tahun sedang mengandung bayi berusia 6 bulan. Akibat ulah dua bocah ini, kedua belah pihak keluarga sepakat untuk menikahkannya.

Namun permintaan tersebut ditolak oleh pihak Kantor Urusan Agama (KUA) setempat, sehingga kedua belah pihak mengajukan banding di Pengadilan Agama (PA) Kabupaten Tulungagung.

Menariknya sang ayah menyebut apa yang dilakukan anak laki-lakinya itu merupakan bagian dari ‘tes kejantanan’ pasca-sunat di alat vitalnya.

(fid)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini