KPAI Soroti Pola Asuh di Balik Kelakuan Bocah SD Hamili Pacarnya

Fahreza Rizky, Okezone · Jum'at 25 Mei 2018 08:00 WIB
https: img.okezone.com content 2018 05 25 337 1902485 kpai-soroti-pola-asuh-di-balik-kelakuan-bocah-sd-hamili-pacarnya-Vhbxazpkdh.jpg KPAI (Foto: Ist)

JAKARTA - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyoroti pola pengasuhan yang dilakonkan keluarga terhadap siswa sekolah dasar (SD) yang menghamili siswi sekolah menengah pertama (SMP) di Tulungagung.

"Menilik kasus ini, sangat perlu dilihat secara keseluruhan pengasuhan dari kedua belah pihak. Kejadian ini tentu menjadi pertanda ada persoalan dalam pengasuhan keduanya," ujar Wakil Ketua KPAI Rita Pranawati kepada Okezone, Jumat (25/5/2018).

Rita berujar, pemberian pendidikan kesehatan reproduksi sesuai usia anak sangat penting untuk dilakukan. Menurut dia, banyak orangtua tidak memberikan pengetahuan terkait kesehatan reproduksi kepada anaknya, utamanya anak laki-laki.

"Secara natural anak laki-laki dianggap paham tentang masa pubertas mereka. Pengetahuan ini penting untuk mencegah terjadinya tindakan semacam kejadian di Tulungagung," ujarnya.

 Cabul

Terkait dengan paparan pornografi, menurut Rita, banyak orangtua tidak paham teknologi digital tetapi memfasilitasi anak tanpa syarat. Literasi digital menjadi sangat penting bagi anak-anak sehingga mereka memiliki rambu-rambu apa yang layak ditonton atau tidak.

"Sehingga anak-anak tidak terjerumus pada keadaan yang kurang baik. Komunikasi anak dan orangtua menjadi kunci bagaimana pengetahuan anak bertambah termasuk perhatian pada fase tumbuh kembang anak," tutur dia.

Rita menambahkan, apapun keputusan yang diambil orangtua untuk penyelesaian kasus ini, semua harus melakukan evaluasi pengasuhan.

"Setelah kejadian ini, orangtua harus tetap memastikan anak melanjutkan pendidikannya, masa depannya harus diperhatikan. Jangan sampai kekerasan dan kemiskinan berulang kembali kepada anak-anak ini," pungkas dia.

Kisah cinta sejoli siswa SD dan siswi SMP di Tulungagung ini berawal dari pertemuan mereka di suatu pantai. Kemudian, keduanya saling bertukar nomor ponsel. Intensnya komunikasi keduanya kemudian mengantarkan mereka pada hubungan asmara.

Dalam hubungan asmara itu keduanya mulai nekat melakukan hubungan intim layaknya suami istri. Pertama kali terjadi pada 2017. Karena nikmat rasanya, sejoli ini lama-lama semakin ketagihan.

Hubungan intim tersebut terus dilakukan hingga akhirnya sang perempuan hamil enam bulan.

Kehamilan ini mulanya diketahui oleh pihak sekolah ketika memeriksakan kondisi kesehatan bunga (bukan nama sebenarnya) ke puskesmas, lantaran kondisinya tampak kurang sehat.

Petugas kemudian menyatakan bahwa bunga hamil. Pihak sekolah lalu melaporkan hal ini kepada keluarga. Setelah dilakukan pendekatan, akhirnya perempuan malang tersebut mengakui siapa yang menebar benih di perutnya, yakni kekasihnya sendiri yang masih duduk di bangku SD.

Orangtua kedua belah pihak bersepakat menempuh jalan kekeluargaan dan hendak menikahkan anaknya yang telah kadung mengandung. Namun, Kantor Urusan Agama (KUA) setempat tidak memberikan izin pernikahan lantaran sejoli tersebut masih di bawah umur.

Karena ditolak KUA, orangtua kedua belah pihak kini tengah berproses meminta dispensi pernikahan pada Pengadilan Agama (PA) setempat.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini