nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Harkitnas, Momentum untuk Bangkit Melawan Ancaman Kedaulatan Negara

Bayu Septianto, Okezone · Minggu 20 Mei 2018 06:01 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 05 20 337 1900364 harkitnas-momentum-untuk-bangkit-melawan-ancaman-kedaulatan-negara-BC9bwF8WET.jpg Ilustrasi. (Foto: Okezone)

JAKARTA - Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor, Yaqut Cholil Qoumas menilai, Peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) adalah momentum bagi masyarakat untuk bangkit dan berani melawan kelompok-kelompok yang menganggu kedamaian dan ketentaraman Indonesia. Apalagi, menurut Yaqut, kelompok yang menebar ancaman teror ini jumlahnya jauh lebih sedikit dari rakyat Indonesia.

"Yang melakukan ujaran kebencian itu kelompok kecil saja. Demikian juga yang melakukan teror. Oleh karenanya yang mayoritas tidak boleh diam. Harus bersama-sama bersuara, berani menyuarakan kebenaran, berani melawan siapa saja yang mengganggu kedamaian dan ketenteraman negeri ini," ujar Yaqut saat dihuubungi Okezone, Minggu (20/5/2018).

Yaqut menuturkan, keberanian merupakan makna yang paling penting saat ini dalam peringatan Harkitnas yang diperingati setiap tanggal 20 Mei itu. Hal ini lantaran akhir-akhir ini bangsa Indonesia sedang terusik oleh aksi-aksi teror bom, mulai dari Surabaya, Sidoarjo hingga teror bom yang terjadi di Mapolda Riau.

"Keberanian untuk melawan apapun yang mengancam eksistensi dan kedaulatan Negara," kata Yaqut.

Bendera Indonesia

Yaqut menyayangkan sifat keberanian itu mulai luntur dari Bangsa Indonesia ketika harus melawan musuh-musuh negara yang mengancam keutuhan bangsa. Masyarakat saat ini, lanjut Yaqut, malah bersemangat ketika mereka melawan saudara sebangsa sendiri hanya karena perbedaan pandangan maupun perbedaan sikap politik.

(Baca juga: Potret Peringatan Harkitnas Pertama dari Yogya hingga Aceh)

Faktor inilah, menurut Yaqut yang menjadi titik lemah bangsa Indonesia saat ini, sehingga dimanfaatkan oleh segelintir orang untuk memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa. "Kita cenderung lembek ketika muncul ancaman-ancaman yang mengancam kepentingan dan eksistensi negeri ini. Kita lebih suka melawan saudara sebangsa sendiri hanya karena selera yg berbeda. Ujaran kebencian dan munculnya tindak terorisme adalah wujud dari sikap lembek itu," tegas Yaqut.

Padahal para pendiri bangsa ini, lanjut Yaqut telah bersusah payah bangkit dari keterpurukan saat zaman penjajahan melawan musuh negara saat itu. Berdirinya Boedi Oeotomo seharusnya bisa dimaknai sebagai momen menyatukan keragaman bangsa Indonesia untuk melawan penjajah saat itu.

"Jika tanpa keberanian, maka tidak mungkin dua momentum sejarah tersebut muncul lalu menjadi semangat untuk memerdekakan Indonesia," pungkas Yaqut.

(qlh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini