nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Presiden Tak Juga Bentuk TGPF, Novel: Jangan-Jangan Memang Ada yang Ditutup-tutupi

Fadel Prayoga, Jurnalis · Rabu 18 April 2018 22:33 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 04 18 337 1888528 presiden-tak-juga-bentuk-tgpf-novel-jangan-jangan-memang-ada-yang-ditutup-tutupi-cwrl1hBoDs.jpg Novel Baswedan (Foto: Okezone)

JAKARTA - Penyidik Senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan mempertanyakan sikap Presiden Joko Widodo yang hingga kini tak juga membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) terkait kasus penyiraman air keras yang menimpa dirinya pada Selasa 11 April 2017.

Novel menduga tidak dibentuknya TGPF lantaran ada bukti-bukti yang sengaja untuk tidak diungkap ke publik. Sebab, sudah jelas maksud desakan membentuk TGPF, demi membantu kerja dari aparat kepolisian yang hingga kini terlihat kesusahan mengungkap dalang peristiwa keji tersebut.

"Ketika ini (TGPF) tidak dibentuk, jangan-jangan memamg ada yang ditutup-tutupi," kata Novel dalam program diskusi Tokoh Bicara yang disiarkan Radio MNC Trijaya, Rabu (18/4/2018).

 Novel Baswedan saat ke Komnas Ham

(Baca: Sosok Jenderal Diungkap Novel, Polri: Kami Bukan Dukun!)

Menurutnya, bila seluruh pihak berniat mencari tahu dalang penyiraman air keras, maka bakal mendukung pembentukan TGPF itu sendiri. Sebab, itu merupakan salah satu solusi agar kasus itu segera terkuak.

"Bukan kah kalau kita ingin terang benderang,TGPF jadi solusi," imbuhnya.

Lebih lanjut Novel menekankan, desakan dibentuknya TGPF dalam kasus itu karena diduga aktor dari teror itu merupaka orang 'kuat' di Indonesia. Sehingga, sudah sewajarnya harus dilawan dengan kekuatan yang kompak juga.

"Kalau syaa menduga ini akumulasi dari berbagai kasus yang saya tangani. Sebagaimana saya sampaikan ada oknum aparat," tandasnya.

Selasa 11 April 2017 usai Subuh silam, dua orang tak dikenal menyiram air keras ke muka Novel Baswedan. Teror itu terjadi sepulangnya Novel melaksanakan salat di Masjid dekat rumahnya, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Akibat penyerangan tersebut, penyidik KPK itu harus menjalani pengobatan di Singapura. Kedua matanya nyaris rusak. Kini penglihatan mata kanannya belum sepenuhnya normal, sementara mata kirinya baru saja menjalani operasi tahap kedua.

 (Baca juga: Usai Operasi Tahap II, Novel Baswedan Masih Kontrol Mata ke Singapura)

Sementara itu, Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Setyo Wasisto menekankan, pihaknya bukanlah dukun yang bisa menerawang sosok jenderal polisi yang disebut Novel merupakan aktor intelektual dibalik terornya itu. Apalagi, kata Setyo, Novel juga enggan memaparkan secara gamblang siapa sosok Jenderal yang dimaksud.

"Darimana kami, wong orangnya tidak mau ngomong kok kami bisa tahu. Kami bukan dukun," ucap Setyo diiringi tawa di Mabes Polri, Jakarta, Kamis 12 April 2018.

 

(ulu)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini