nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

1 Tahun Kasus Novel, Ini Kata Mantan Pimpinan KPK

Fakhrizal Fakhri , Jurnalis · Kamis 12 April 2018 15:28 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 04 12 337 1885743 1-tahun-kasus-novel-ini-kata-mantan-pimpinan-kpk-us3IemEe0F.JPG Novel Baswedan saat di KPK (foto: Heru Haryono/Okezone)

JAKARTA - Mantan Ketua Komisi Pemberantasan Koperasi (KPK) Busyro Muqoddas menilai, tak kunjung tertangkapnya pelaku penyerangan terhadap Novel Baswedan tidak hanya membuat malu Polri sebagai penegak hukum. Menurut dia, kasus tersebut juga telah mencoreng pemerintah.

"Ya itu sebenarnya memalukan bangsa, memalukan negara, karena kasus yang sesederhana itu kemudian sudah satu tahun tidak ada indikasi kesungguhan dari pemerintah. Tidak hanya Polri, tapi pemerintah," kata Busyro di Kantor PP Muhammadiyah, Jakarta, Kamis (12/4/2018).

Busyro melanjutkan, saat ini berbagai kelompok masyarakat telah mendesak pemerintah untuk segera membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) kasus Novel. Namun, Presiden Joko Widodo (Jokowi) belum bersedia membentuk TGPF tersebut kendati kasus percobaan pembunuhan Novel Baswedan telah berlangsung satu tahun.

"Termasuk kami di hari pertama itu sudah mendesak kepada Presiden untuk bentuk TGPF. Sampai sekarang nggak ada respon. Ini lah yang saya katakan, selevel Presiden nggak ada respon. Menunda nunda sampai satu tahun atas realita seperti ini," jelasnya.

 (Baca juga: Sosok Jenderal Diungkap Novel, Polri: Kami Bukan Dukun!)

Komnas HAM telah membentuk tim pemantau kasus Novel Baswedan. Sehingga, kata dia, pemerintah seharusnya segera membentuk TGPF untuk menemukan fakta-fakta yang objektif dalam mengungkap kasus tersebut.

"Fakta itu harus diangkat kepada publik agar penyidikan berbasis fakta," terangnya.

 (Baca juga: Polisi Ngaku Belum Tahu Nama Jenderal di Kasus Penyiraman Novel Baswedan)

Ketua Bidang Hukum Muhammadiyah itu mengatakan, bahwa selama ini Kepala Negara hanya menunggu Polri untuk mengungkap kasus tersebut. Padahal, TGPF pernah dilakukan saat kasus pembunuhan Munir Said Thalib.

(wal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini