Tunda Pemecatan Dokter Terawan, IDI Minta Menkes Bentuk Tim Penilai Terapi 'Cuci Otak'

Chyntia Sami Bhayangkara, Okezone · Senin 09 April 2018 13:35 WIB
https: img.okezone.com content 2018 04 09 337 1884083 tunda-pemecatan-dokter-terawan-idi-minta-menkes-bentuk-tim-penilai-terapi-cuci-otak-gqOKalqdEe.jpg Ketum PB IDI, Ihlam Oetama Marsis. (Foto: Chyntia/Okezone)

JAKARTA - Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengeluarkan rekomendasi kepada Kementerian Kesehatan untuk melakukan penilaian terhadap tindakan terapi 'cuci otak' yang dilakukan oleh dokter Terawan Agus Putranto. Rekomendasi itu dikeluarkan setelah IDI menunda pemecatan terhadap Kepala RSPAD Gatot Subroto itu.

Ketua Umum Pengurus Besar IDI, Ilham Oetama Marsis mengatakan, lembaga yang berhak untuk melakukan penilaian terhadap metode Digital Substraction Angiogram (DSA) yang dilakukan oleh dokter Terawan adalah Kementerian Kesehatan (Kemenkes)

"Dari hasil rapat Majelis Pimpinan Pusat kemarin, kami meminta kepada Menteri Kesehatan (Nila Moeloek) untuk membentuk Tim Health Technology Assessment (HTA) dan memberikan penilaian terhadap tindakan terapi yang dilakukan oleh dokter Terawan," ujar Ilham di Kantor PB IDI, Jalan Sam Ratulangi, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (9/4/2018).

(Konferensi pers IDI. Foto: Chyntia/Okezone)

Ilham menjelaskan, penilaian terhadap terapi 'cuci otak' tersebut didasarkan pada Peraturan Presiden No.19 Tahun 2016 serta Peraturan Menteri Kesehatan No. 23 Tahun 2017 tentang Pelayanan Jaminan Kesehatan Nasional.

(Baca juga: IDI Akhirnya Tunda Pemecatan Dokter Terawan)

"Penilaian ini adalah kewenangan HTA yang bertanggungjawab atas perkembangan teknologi pengembangan. Karena standar pelayanan kesehatan itu di bawah Kementerian Kesehatan," tutur Ilham.

Terapi 'cuci otak' yang digagas oleh dokter Terawan memang diakui sudah melewati uji klinis di Universitas Hasanudin. Namun, uji klinis yang telah dilakukan tersebut baru tahapan pertama, masih ada tahapan selanjutnya yang belum dilakukan oleh dokter Terawan.

(Baca juga: JK Pernah Diterapi 'Cuci Otak' Dokter Terawan, Minta IDI Kaji Kembali Pemecatan)

Terlebih, saat ini Kementerian Kesehatan belum mengeluarkan standar pelayanan kesehatan terhadap praktik terapi 'cuci otak' tersebut. Sehingga, perlu dilakukan penilaian terlebih dahulu oleh tim HTA.

"Pada tahap selanjutnya yang harus dipertanyakan apakah dengan temuan ini bisa dilakukan kepada masyarakat secara luas? Ini yang harus dilalui uji klinis lanjutan. Kalau Kemenkes belum menetapkan sebagai standar pelayanan ya tentunya secara praktek tidak boleh dilakukan," tandasnya.

Sebelumnya, Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) mengeluarkan rekomendasi pemecatan sementara terhadap dokter Terawan lantaran dianggap melanggar kode etik kedokteran. Terapi dengan menggunakan metode DSA atau lebih dikenal metode 'cuci otak' yang dicetuskan oleh dokter Terawan dikenal mampu menyembuhkan banyak pasien stroke.

(qlh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini